Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 36


__ADS_3

Pintu kayu berdecit ketika Roy membukanya, lalu dia berbalik menguncinya dengan kayu besar yang menempel di pintu. Mawar terhempas ke ranjang setelah pria itu menurunkannya. Dengan cepat Mawar menjauh dari Roy, duduk menempel pada sandaran ranjang tersebut. Expresi marah bercampur rasa takut dan jijik ketika melihat wajah Roy dari deket.


"Bagus sekali kau menempel ke ranjang itu, kau mempermudah pekerjaanku." gumam Roy sambil mengambil tali tambang yang ada di meja kecil samping ranjang.


"Atau kau suka kita bermain sedikit kasar?" Roy berbisik ditelinga Mawar sambil menarik rambut Mawar dengan keras sehingga kepala wanita itu mengarah atas melihat wajah Roy.


Kening Mawar mengernyit menahan rasa sakit, rambutnya seperti ingin terlepas dari kulit kepalanya. Roy mengikat tangan Mawar dengan tali tambang yang di lilitkan ke tiang sandaran ranjang, hingga wanita itu tidak bisa bergerak ke mana pun. Setelah itu Roy kembali mengikat masing-masing kakinya ke ujung tiang ranjang. Tali tambang besar itu berwarna coklat terbuat dari serat yang kasar, ditambah ikatan yang kuat membuat kulit Mawar terluka. Lalu Roy mengeluarkan pisau kecil dari balik badannya dan menempelkan ke pipi Mawar.


"Kalau kau bersikap baik, aku bisa bersikap manis padamu, bagaimana?" tawar Roy sambil menelusuri leher Mawar dengan ujung pisau yang bergerak turun hingga garis kearah baju Mawar.


Tubuh Mawar gemetaran ketika Roy menyusupkan pisau ke balik kerah bajunya, mata pisau itu terasa dingin bergerak di permukaan kulit dadanya. Ingatan kejadian belasan tahun silam kembali terkoyak. Mata Mawar membelalak oleh rasa takut yang seketika melingkari dirinya. Napasnya terengah dan dadanya naik turun dengan cepat.


Tuhan tolong aku!


Roy tertawa puas melihat Mawar gemetaran .


"Belum saatnya, ini belum saatnya kita harus bermain-main dulu. Sabar ya!" Pria itu berjalan mengelilingi ruangan pondok yang sempit. Setelah membongkar lemari kayu dia meluapkan amarahnya lagi.


"Sialan, di mana cangkul atau sekopnya?" Roy mengedikkan kepalanya sambil menatap Mawar.


Melihat tatapan Mawar yang tajam, seolah sedang bertanya untuk apa itu semua.


"Kau ingin tau? Untuk apa sekop dan cangkul itu?" Roy tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Lalu terdiam dan menatap Mawar dalam.

__ADS_1


"Aku membutuhkannya untuk menggali kuburanmu. Kau terlalu cantik untuk dilempar begitu saja di tengah perkebunan ini. Mungkin aku akan mencarinya di luar."


Roy melangkah keluar pondok, dari cela cela dinding kayu pondok itu terlihat banyangan Roy yang mondar-mandir di sekitar pondok dikelilingi oleh rimbunan daun teh. Mawar merasa sangat jauh dengan suaminya dan tinggal menunggu malaikat maut datang menjemputnya.


"Mungkin apa pun yang akan terjadi aku tetap akan mati." isaknya dalam hati.


Tuhan, ampuni semua kesalahanku. Putra maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk menemanimu sampai tua.


Mata Mawar mulai terasa perih, dia menelan kesedihannya sebelum air matanya keluar. Dia tidak ingin membuat Roy merasa senang karena berhasil membuatnya takut. Kalau pun harus mati, dia ingin mati sebagai pemberani.


Mawar memutar kepalanya mengamati pondok tempat penyekapannya. Hanya ruangan kecil dan sempit, terdapat lemari kecil dan sebuah ranjang yang tua. Semuanya terbuat dari kayu yang warnanya sudah kusam tidak terawat. Ruangan berbau apek, campuran antara bau lumut kayu dan pengap dengan cela cela kecil. Mawar nyaris menangis lagi teringat hari-hari sepi yang dia lalui dulu di rumah sakit jiwa. Dengan susah payah Mawar menelan ludahnya, ternyata hanya sebentar saja waktunya mengecap hari-hari bahagia. Semua akan diambil secara paksa darinya, dan sekarang bahkan bukan hanya rumah sakit jiwa, tapi sebuah kuburan yang akan segera digali pria terkut*k itu.


Sekitar lima belas menit kemudian Roy kembali ke dalam pondok, menenteng sebuah cangkul di tangannya.


"Lihatlah aku menemukannya! Sebaiknya aku menaruhnya di dalam sini agar akan lebih mudah mengambilnya nanti."


"Kau hamil? Aku suka melihat tubuhmu yang berisi seperti ini. Sangat seksih!" bisik Roy sambil meniup kuping Mawar.


Kedua lengan Roy terjulur ke bahu Mawar dan menekannya. Kemudikan tanpa permisi dengan beraninya tangan Roy turun ke dada Mawar lalu meremasnya tanpa rasa bersalah. Jika saja mulut Mawar tidak tertutup lakban pasti dia akan menjerit histeris. Wajah Mawar pucat menahan rasa sakit di dadanya. Namun itu tidak seberapa dengan rasa terhinanya yang jauh lebih besar dan menyakitkan dari rasa ditubuhnya. Mawar benar-benar ingin meludahi wajah pria br*ngs*k ini.


Roy menatap wajah Mawar sambil tersenyum nakal.


"Kau menyukainya? Kau sudah tidak sabar ya? Baiklah mari kita mulai permainannya sekarang." Roy meraih pisau yang diselipkan di pinggang celananya, lalu menempelkan ke arah baju Mawar. Mata pisau yang tajam itu dengan mudah merobek selembar kain yang menempel pada tubuh Mawar.

__ADS_1


"Tidak perlu cemas dan takut seperti itu, aku tidak akan merusak kulit halus dan indahmu ini. Ya, setidaknya tidak sekarang... Karena aku belum menikmatinya." ujar Roy pelan dengan mata menatap tajam ke dada Mawar yang masih tertutup kain berenda.


"Aku tidak akan seperti ayahku yang sembrono hingga mengakibatkan banyak luka di sekujur tubuhmu." Roy kembali berkata dengan mata menerawang.


"Kau pasti belum melupakan pria yang kau bunuh belasan tahun yang lalu kan Mawar? Kau tahu? Dia ayahku"


Walaupun mulutnya tertutup, tapi wajahnya tidak bisa di bohongi jika dirinya sangat terkejut dengan perkataan Roy. Matanya terbelalak mendengar kenyataan yang sama sekali tidak dia duga.


Pria itu? Ayahnya pria ini?


Roy melanjutkan ceritanya sambil sesekali tangannya meraba permukaan pelindung dada Mawar.


"Kau tahu Mawar, peristiwa itu membuat kami sekeluarga dikucilkan. Kami tidak hanya kehilangan tulang punggung keluarga, tapi kami juga kehilangan penghasilan dan tempat tinggal, bahkan orang yang kami anggap teman dan keluarga kami ikut menghilang semua. Akhirnya kami pindah ke luar kota untuk menghindari hujatan dari orang-orang di sekitar kami. Ibuku terpaksa bekerja sebagai tukang cuci dari rumah ke rumah orang agar aku anaknya tetap bisa bersekolah dan kami bisa makan. Hidup kami sangat berat kala itu. Aku bersumpah akan membalaskan dendam keluargaku dan atas penderitaan yang telah kau buat pada keluargaku."


Tatapan roy mulai menyusur pinggang Mawar dan berhenti tepat pada perutnya. Tangan pria itu terjulur menyingkap rok Mawar hingga menumpuk di bagian pinggang. Dengan mata berbinar-binar Roy memandangi paha Mawar yang putih bersih.


"Aku mendapatkan kesempatan yang sangat baik, akhirnya aku bisa melihat dan merasakan semua ini."


srek...srek...


°°°°°°°


----Mohon dukungan nya ----

__ADS_1


°Jangan lupa RATE dan LIKE Guys


°Terimakasih semua.


__ADS_2