Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 24


__ADS_3

Karena jika Putra menyusulnya, pasti Putra akan sampai di rumah duluan. Pikirannya membuat hatinya panas, akhirnya Mawar memutuskan untuk mandi dan merendam tubuhnya dengan air dingin, berharap bisa meredakan amarahnya yang bergejolak dikepalanya. Dia nyaris tidak bisa memikirkan apapun selain adegan mesra Putra dan Susan di kantin tadi. Sambil berendam, Mawar mencoba membayangkan perasaan Putra. Mungkinkah Putra melakukannya karena dia merindukan sentuhan wanita dan aku sebagai istrinya tidak dapat melakukan itu?


Pria malang..


Dia harusnya bahagia, tidak terjebak dalam pernikahan yang mengenaskan, pikir mawar.


Mawar terus berendam sampai ujung-ujung jemarinya keriput karena kedinginan. Mawar meraih handuknya setelah merasa tubuhnya mulai menggigil, dia segera berpakaian dan pilihannya jatuh pada gaun tidur seksi yang tipis dan pendek. Mawar sendiri tidak tahu kenapa dia memilih gaun tidur seperti itu, mungkin karena dia sangat marah, kepalanya terasa panas begitu pun badannya. Tapi itu alasan yang tidak masuk akal bukan? Bahkan dalam keadaan suasana hati yang tidak baik seperti ini, dia bahkan rela tidak berpakaian pun. Tidak pernah dia semarah ini dalam hidupnya.


Gadis itu nyaris melompat kaget saat keluar dari kamar mandi mendapati Putra sedang duduk di sofa kamar.


"Kau sudah puas bermain?" ejek Mawar sambil melangkah ke meja rias dan mulai menyisir rambutnya.


"Puas apanya? Kalau maksud kata puasmu itu berputar-putar di rumah sakit untuk mencarimu, ya aku puas. Bahkan sekarang aku hapal setiap lorong rumah sakit itu." jawab Putra.


"Cih! Aku tidak perlu pengumuman darimu. Aku juga tidak perduli apa pun yang terjadi antara kau dan mantan istrimu itu." Mawar meletakkan sisirnya di meja rias dengan kasar.


"Lakukanlah sesukamu, kamu bahkan boleh bersenang-senang dengan wanita manapun yang kau sukai." kali ini suara Mawar melengking.


Dengan kasar Mawar menyibak Selimut yang menutupi kasurnya dan segera membenamkan dirinya di balik selimut tanpa menoleh sedikit pun pada Putra.


"Kita akan bicara nanti, aku mandi dulu." jawab Putra dengan suara rendah.


Dia tidak ingin berdebat dulu, tubuhnya masih terasa lengket oleh keringat dan dia juga belum menemukan kata yang pas untuk menjelaskan semuanya pada Mawar. Yang dia butuhkan sekarang adalah air dingin dan dia berharap air dingin bisa membuat otaknya bekerja. Sedangkan Mawar mencoba tidur namun rasa kantuknya lenyap begitu saja, rasa lelahnya pun seolah menguap oleh amarah yang naik meluap ke kepalanya karena Putra sepertinya tidak menggubris rasa kesalnya.


Dia sama sekali tidak membujukku


Kenapa kau kesal?


Tindakannya tidak pantas!


Oh, kau cemburu?

__ADS_1


Dih, untuk apa aku cemburu.


Lalu kenapa kau berteriak padanya?


Aku tidak berteriak.


Kau berteriak karena memang kau cemburu kan?


Aasrrrgghhhhhh.......


Perang batin Mawar, dia semakin kesal dan itu membuatnya bingung. Benarkah dia cemburu? Jika dia tidak mau membagi Putra dengan siapapun. Bukankah itu berarti dia mencintai Putra? Seorang wanita tidak mungkin cemburu jika tidak mencintai pria itu. Mawar berguling, membelakangi sisi ranjang yang biasa ditempati Putra tidur. Dia bertekad tidak akan mau berbicara pada Putra, tidak akan sebelum dia mengerti perasaannya terhadap Putra.


Putra mandi dengan cepat, setelah selesai dia segera mendekati Mawar yang hanya berpura-pura tidur. Seperti biasa, dia hanya mengenakan celana boxer untuk tidur di malam hari, tidak perduli udara dingin sekalipun. Sejenak dia ragu untuk memulai pembicaraan dengan Mawar. Tapi dia yakin kesalah pahaman harus diluruskan secepat mungkin sebelum berubah menjadi kebencian yang akan membuat Mawar dan dia menderita. Putra duduk diranjang, menghadap Mawar yang memunggunginya. Dia tahu Mawar belum tidur


"Kau mau membicarakannya denganku atau hanya ingin menyumpahiku dalam hatimu, tanpa memberikan aku kesempatan menjelaskannya padamu?"


Rasa bimbang menguasai Mawar, mendengarkan Putra atau terus berpura-pura tidur dan mendiamkannya. Dia memang sangat marah, namun rasanya tidak adil jika tidak memberikan Putra kesempatan untuk menjelaskan. Mawar kembali teringat semua kebaikan Putra pada dirinya, semua Putra lakukan untuknya. Dan pada akhirnya Mawar membalik tubuhnya dan duduk menghadap Putra.


"Sebaiknya kau mulai sekarang, aku tidak punya banyak waktu untuk pria yang suka peluk-pelukan dengan wanita selain istrinya." ujar Mawar ketus dan tanpa sadar.


Putra berfikir sejenak agar menemukan jawaban yang tidak membuat Mawar tambah marah atau membuat gadis itu sedih.


"Pertama, Susan-lah yang memelukku, aku tidak memeluknya sama sekali, justru aku jijik padanya. Kedua, jika kau tidak mau suamimu peluk-pelukan dengan wanita lain, sebaiknya kau mulai memeluk suamimu. Oke?" ujar Putra sembari memperhatikan wajah Mawar yang mulai memerah karena ucapannya.


"Dan yang ketiga, seharusnya kau tahu aku telah menikah dengan wanita tercantik dan sempurna hatinya. Mana mungkin aku tertarik dengan wanita lain, apalagi seperti Susan. Tadi ketika aku sampai di kantin rumah sakit, tidak tau datang dari mana dan sedang apa dia di sana juga, tiba-tiba dia sudah ada berdiri di dekatku. Aku pun sama terkejutnya denganmu, semua yang terjadi tidak seperti yang kamu lihat. Hmmmm..." jawab Putra mencoba menjelaskan semuanya.


Mawar tertunduk mencoba mencerna semua penjelasan Putra. Kedengarannya memang tidak ada yang salah. Mawar tidak pernah mendengar Putra memuji Susan atau memandang kagum pada Susan. Padahal menurut Mawar Susan wanita yang sangat cantik.


"Kau tidak berbohong kan?" tanya Mawar mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Putra meraih dagu Mawar dengan lembut agar gadis itu mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Lihat mataku.... Apa aku terlihat sedang berbohong?"


"Aku tidak tau, bisa saja kau curang di belakangku, bermain dengan wanita lain misalnya."


"Bukankah kau yang menyuruhku untuk mencari wanita lain dan menikahinya secara rahasia? Kau yang curang jika melarangku melakukannya." pancing Putra.


Mawar kembali menundukkan kepalanya, membayangkan Putra memiliki wanita lain sungguh membuat dadanya sesak.


"kau benar, bagaimanapun juga kau berhak bahagia dengan memiliki istri yang sesungguhnya, bukan istri sandiwara seperti aku." suara Mawar terdengar tercekik ketika Mawar mengucapkannya.


"kau tidak perlu memikirkan aku, aku baik-baik saja." suara Mawar semakin terdengar tertekan. Dia tidak bisa membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya tanpa Putra.


Setelah Putra memiliki istri baru nanti pasti dia akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan wanita itu, dan itu membuat Mawar semakin sedih bahkan ingin menangis.


°°°°


°Sorry readers semua baru bisa UP, Author lagi sibuk liburan 😅 untuk mengobati rasa rindu kalian pada Putra dan Mawar Saya akan kasih bonus Up lagi nanti malam. Staytune terus ya.


°Jangan lupa Like dan jejak Komentarnya


Visual Mawar kalau lagi marah



----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa


Rate bintang 5


Like

__ADS_1


dan jejak komentar


°Terimakasih Semua


__ADS_2