Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 33


__ADS_3

"Pergilah Putra, kasian Pak Surya. Dia terluka parah, kau tidak bisa membiarkan dia merasakan sakit terlalu lama. Aku tidak apa-apa." Mawar mengatakannya dengan berat hati, sebenarnya dia tidak ingin Suaminya kemana-mana. Karena saat ini hanya Putra yang membuatnya merasa aman.


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian." ujar Putra cemas.


"Aku baik-baik saja, lagi pula sudah seminggu ini tidak ada tanda-tanda keberadaan Roy di sekitar sini." Mawar berusaha menghibur dirinya sendiri meskipun hatinya berdebar waswas.


Yuyun ingin menawarkan diri membawa Surya ke rumah sakit, namun mengingat patah tulangnya dan banyak darah itu membuatnya takut. Bisa-bisa dia pingsan duluan, dia hanya bisa mengelus-elus dadanya, sungguh dia tak sanggup.


"Tapi aku... Aku sungguh tidak bisa meninggalkanmu, Aku....." ucapan Putra tertahan.


"Aku tidak apa-apa, Putra....." Mawar belum sempat melanjutkan kalimatnya karena langsung dipotong oleh Putra.


"Tapi aku yang kenapa-kenapa!" Putra nyaris berteriak karena frustasi.


"Kalau ada yang terjadi padamu, kau pikir apa yang akan terjadi padaku?" Putra menatap Mawar sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.


"Andai ada yang bisa aku lakukan." Yuyun melerai mencoba mencari solusi.


Putra mengepalkan tangannya, berfikir keras apa yang harus dia lakukan agar Mawar tetap aman dan Surya segera di tolong. Beberapa menit kemudian dia sudah menemukan ide, memang tetap berisiko namun lebih baik dari pada tidak melakukan apa pun.


"Baiklah, aku akan membawa Surya ke rumah sakit. Dan.....Yun tolong hubungi beberapa pekerja di perkebunan untuk datang ke sini sekarang sementara aku pergi mengantar Surya. Setelah itu hubungi Om Bambang minta dia segera pulang. Dan kau Mawar, kunci semua pintu, jendela dan tetaplah berada di dalam rumah. Beberapa pekerja akan segera kemari. Kau mengerti?"


Yuyun segera melakukan apa yang Putra minta, sementara Putra mengantar Mawar dan mendudukkannya di ruang keluarga.


"Berjanjilah kau akan mematuhi perkataanku dan menjaga dirimu. Aku tidak akan lama. Aku usahakan secepatnya kembali."


"Iya Putra." jawab Mawar singkat dan takut.


"Berjanjilah kau akan baik-baik saja." Putra memeluk Mawar erat.


"Aku akan berusaha Putra." jawab Mawar sambil memeluk Putra tidak kalah eratnya. sebenarnya Mawar sangat takut, tapi dia tidak boleh egois, apa lagi jika nyawa orang lain menjadi taruhannya.


Putra melepaskan pelukannya dan mencium bibir Mawar dengan lembut dan lama. Seolah takut itu akan menjadi ciuman terakhir mereka. Putra sangat enggan melepaskannya. Ciuman itu berbaur dengan rasa cinta, takut, dan rasa bersalah. Dia sangat ingin melindungi istri dan juga calon anaknya.


Kumohon Tuhan.... Biarkan aku melihatnya lagi nanti. Jaga mereka!


Dengan cepat dia melangkah ke garasi setelah memeluk dan mencium Mawar dengan air mata yang tidak kalah banyaknya dengan Mawar. Segera setelah menelepon Yuyun kembali menghampiri Mawar yang masih berdiri melamun di depan Tv dengan wajah yang murung.

__ADS_1


"Mawar..." panggil Yuyun.


"Huh.. Ya."


"Kau ingin aku buatkan teh atau coklat panas?" tawar Mawar sekaligus ingin membuat gadis itu tenang.


"Tidak usah. Terimakasih. Aku akan menonton film saja sambil menunggu Putra kembali."


"Kau sangat mencintainya yah?" tanya Yuyun sambil membelai rambut panjang Mawar.


"Dia segalanya untukku Yun." Mawar tersenyum saat mengatakan itu.


Yuyun ikut tersenyum, Putra memang segalanya untuknya. Putra telah banyak membawa keajaiban dalam hidup Mawar.


"Aku akan ke dapur sebentar melihat masakanku. Kau tidak apa-apa di sini sendirian? Atau kau ingin ikut aku ke dapur?." tanya Yuyun.


Mawar menggelengkan kepala. "Aku di sini saja."


°°°°


Sementara itu di luar rumah seorang pria mengendap-endap dan dengan hati-hati meraih gagang pintu. Namun karena pintu di kunci, pria itu melangkahkan kakinya ke belakang rumah. Setelah sebelumnya mengumpat banyak sumpah serapah. Dia melihat Yuyun sedang sibuk memasak dan tidak sadar jika ada orang di belakangnya. Saat wanita itu membalikkan badannya sesaat setelah mematikan kompor, wajahnya langsung pucat melihat pria itu menyeringai di hadapannya.


"Jelas untuk mengunjungi gadis kesayanganku."


"Kau jangan macam-macam. Aku akan teriak."


Sebelum sempat menjerit, secepat kilat pria itu membekap hidung Yuyun dengan kain yang sudah dia siapkan sambil menarik Yuyun menjauhi kompor. Tak lama wanita itu merosot ke lantai tanpa perlawanan, yang artinya obat bius itu bekerja dengan sangat baik.


Pria itu menelusuri rumah dengan perlahan dan mendapati wanita yang dua incar tengah serius menonton televisi di ruang keluarga. Mawar yang sedang menatap layar besar di depannya tentu saja tidak menyadari kehadiran orang lain di belakangnya.


"Wah wah terlalu fokus sampai tidak menyambut kedatanganku." Ucap Roy


Ya pria itu Roy.


Mendengar suara itu mendadak tubuh Mawar menengang dan jantungnya berdetak lebih kencang. Dia segera berdiri dan berbalik.


"Kaa...kaam...kaaaammmuuuuu."

__ADS_1


"Hei... Tidak usah takut. Aku tidak akan menyakitimu. Justru aku sangat merindukanmu. Ternyata kau hamil ya? Itu justru membuatmu semakin seksi sayang." Ucap Roy sambil melangkah mendekati Mawar dan menatap perut buncitnya.


"Jaga bica..ramu. Sangat menjijikkan.. Ap..apa maa..maumu?" tanya Mawar sambil melangkah mundur. Sungguh sekarang dia sangat takut.


Tuhan...tolong aku. Putra....siapapun. Toolllooonngggg! Batin mawar.


"Ckckck masih saja berkata kasar. Jelas aku ke sini untuk bersenang-senang denganmu. Aku sudah menunggu lama untuk hal ini. Akhirnya pria itu pergi juga meninggalkanmu. Bodoh!"


"Jangan bilang kau yang dengan sengaja menabrak pekerjaku?"


"BUM... Tebakan tepat. Hahhahaaa akhirnya aku bisa....."


"JANGAN MACAM-MACAM ROY." teriak Mawar.


Roy semakin tertawa kencang. Melihat wajah Mawar yang ketakutan justru membuatnya semakin tertawa. Dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan terhadap Yuyun, dalam hitungan detik dia membuat Mawar terkulai lemas. Dengan mudah pria itu membopong tubuh Mawar menuju mobil yang sudah dia siapkan.


Rencanaku berhasil. Beruntung sekali aku. Lelaki bodoh itu pergi begitu saja tanpa ada yang menjaga istrinya. Cih!


Untuk menghindari kecurigaan orang, dia memarkir mobilnya di garasi rumah, setelah menyalakan mesin mobil, mobil melesat jauh meninggalkan rumah utama di perkebunan. Dan yaa para pekerja yang di tugaskan Putra berada di depan rumahnya saja.


°°°°


Sementara itu Putra yang sedang mengantar Surya di rumah sakit di temani dua pekerja yang ikut menggotong pria malang itu. Baru saja Putra selesai mengantar Surya ke bagian UGD tiba-tiba ponselnya berdering.


Telepon dari rumah. Perasaanku tidak enak. Ya Tuhan apa yang terjadi.


"Halo." jawab Putra pelan.


"Pak Bu Yuyun pingsan dan... Dan nona Mawar tidak ada." kata salah satu pekerja.


Setelah Roy pergi, para pekerja kaget melihat mobil melaju kencang. Akhirnya mereka mengecek ke dalam rumah dan mendapati Yuyun tergeletak di lantai.


"Apa? Yuyun pingsan? Mawar tidak ada?"


°°°°


----Mohon dukungan nya ----

__ADS_1


°Jangan lupa Rate dan Like Guys


°Terimakasih semua.


__ADS_2