Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 34


__ADS_3

Setelah Roy pergi, para pekerja kaget melihat mobil melaju kencang. Akhirnya mereka mengecek ke dalam rumah dan mendapati Yuyun tergeletak di lantai.


"Apa? Yuyun pingsan? Mawar tidak ada?" Putra berteriak kencang sehingga beberapa orang yang ada disekitarnya ikut kaget dan menengok ke arahnya.


Putra tidak lagi perduli pada orang-orang yang memandangi dia dengan tatapan aneh. Dadanya berdebar dengan keras saat bayang-bayang Roy memenuhi benaknya.


Putra bergegas menghampiri salah satu pekerjanya dan menitipkan sejumlah uang untuk pengobatan Surya, serta berpesan agar mereka segera menghubunginya jika terjadi sesuatu. Seperti orang gila, Putra kembali berlari ke mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali Putra menggigit kuku tangannya hingga berwarna merah dan menyalahkan dirinya sendiri. Putra tiba di rumah dengan mata nyalang dan wajah penuh amarah, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia berlutut di depan Yuyun yang sedang menangis di pelukan Suaminya.


"Benar Roy?" tanya nya pada Yuyun.


"Iya. Maafkan aku." Yuyun semakin kencang menangis.


Gigi Putra gemeletak menahan amarah. Dia mondar mandir di ruang tengah dengan langkah lebar.


"Aku sudah menelepon polisi, Pak Sigit juga sudah tau dan akan menghubungi beberapa rekannya yang dia kenal kerja di stasiun televisi untuk membuat berita penculikan Mawar berserta ciri-ciri penculik dan mobil yang dipakai Roy." Bambang berusaha menenangkan Putra yang terlihat seperti siap menerkam siapa saja.


"Ceritakan padaku.. Ceritakan semua yang terjadi.. Yang... Yang kalian tahu!." Putra berteriak garang.


Dia tetap berdiri di tengah ruangan dengan kaki terbuka lebar.


"Tidak banyak yang kami tau, Putra. Tidak lama setelah kau pergi, Roy masuk melalui pintu dapur Yang terbuka karena Yuyun sedang memasak. Dia membius Yuyun, setelah itu tidak ada yang tau apa yang terjadi. Kemungkinan dia juga membius Mawar dengan cara yang sama. Beberapa pekerja yang di depan pintu utama kaget saat melihat mobil melaju dan tidak dapat mengejarnya karena melaju sangat kencang. Tapi mereka sempat melihat jenis mobil toy*ta kijang biru langit dengan gambar sayap di bagian body belakangnya." Bambang menerangkan panjang lebar apa yang sudah dia ketahui.


"Bukan kah sudah ku katakan untuk mengunci semua pintu dan jendela." batin putra


Tapi tidak mungkin dia berbicara seperti itu, melihat Yuyun sama terpukulnya.


"Aaaarrrrrgggghhhhhhhhh." Teriaknya.


Bambang, Yuyun, dan beberapa orang yang ada di sana terjungkal kaget. Detik berikutnya Bambang kembali terkejut melihat Putra beranjak meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Kau mau kemana, Putra?" cegah Bambang.


"Aku tidak bisa hanya duduk diam sementara istriku di luar sana dengan orang gila yang menculiknya. Aku akan mencari mobil itu."


"Pihak kepolisian sudah memblokir setiap jalan, Roy tidak mungkin pergi jauh. Mungkin sebaiknya kau tetap di rumah berjaga-jaga jika ada berita atau petunjuk keberadaan mereka." saran Bambang. Sebenarnya Bambang takut terjadi apa-apa dengan Putra, melihat mental pria itu sedang tidak stabil.


Ponselku selalu aktif, jika ada perkembangan kau bisa langsung menghubungiku." setelah berkata demikian Putra langsung bergegas ke mobilnya. Mobil melaju sangat kencang meninggalkan halaman rumah dengan ban mendecit.


Putra menyisiri ruas-ruas jalan utama di pusat kota. Dia berhenti sebentar di pom bensin untuk mengisi tangki bahan bakarnya sampai penuh, berjaga-jaga pada setiap kemungkinan. Di pom bensin dia melihat banyak selebaran penculikan Mawar yang menempel.


Setelah membayar bensinnya, Putra kembali pengemudi berkeliling. Jam makan siang sudah lama berlalu, namun lelaki mana yang bisa makan sementara nyawa istri dan calon anaknya dalam bahaya. Lapar bukan prioritas Putra sekarang, matanya terus bergerak mencari mobil kijang biru langit bergambar sayap yang dipakai Roy. Bayangan cerita masa lalu istrinya mengiringi pikiran Putra. Dia memang tidak menyaksikannya secara langsung atau terlibat di dalamnya. Namun seseorang tidak perlu mengalaminya hanya untuk memahami bagaimana mencekamnya kejadian itu.


Rasa takut mulai menguasai diri Putra. Dulu memang Mawar bisa mempertahankan diri dari kebrutalan Alan. Tapi bagaimana jika sekarang dia tidak memiliki kemampuan menjaga dirinya, apa lagi dengan perut besar istrinya. Wanita itu pasti tidak akan melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya dan kandungannya.


"Bagaimana jika Roy seorang pria psikopat yang gemar menyiksa korbannya sebelum membunuh mereka?" gumam Putra pada dirinya sendiri. Putra berulang kali memukul stir mobilnya, bayangan film yang sering ditontonnya berputar-putar di kepalanya.


Film sialan!


Apa yang akan terjadi jika semuanya berakhir buruk Tuhan. Tanpa mereka aku tidak tau tujuanku untuk hidup lagi!


Tanpa terasa air mata Putra jatuh, sungguh lemah dirinya jika berurusan prihal wanitanya. Lapar memang tidak berarti bagi Putra namun rasa haus memaksanya berhenti di sebuah warung pinggir jalan yang padat lalu lintas. Minuman dingin mungkin bisa meredakan panas di kepalanya yang terasa mendidih. Sang penjual menyodorkan minuman sambil tetap melihat tontonannya. Tidak lama lewat iklan berita penculikan Mawar. Putra memperhatikan raut wajah penjual itu dengan heran.


"Ada apa Pak?" tanya Putra.


"Mobil itu....yang barusan diberitakan Mas."


"Kenapa Pak?" tanya Putra lagi tidak sabar.


"Tadi saya melihatnya bahkan membeli beberapa minuman dari sini." si penjual menjawab dengan muka tegang.

__ADS_1


"Kalau saya tau dia penculik, sudah saya tangkap tadi atau saya catat nomer platnya Mas, biar saya kabari keluarga perempuan itu. Kasian sekali wanita itu." sesalnya.


Putra mencengkeram bahu penjual itu dengan sangat kencang.


"Ke arah mana? Sudah berapa lama mereka pergi dari sini." rentetan pertanyaan Putra. Wajahnya tidak kalah tegang karena petunjuk sekecil apa pun sangat berarti bagi nyawa istrinya.


"Kesana Mas!" tunjuk si penjual minuman menunjuk ke arah yang sama dengan tujuan Putra.


"Belum lama, sekitar sepuluh menit yang lalu. Saya sangat ingat karena mobil itu terlalu mencolok kayak mobil karnaval saja." kekeh si penjual.


Setelah mendengar keterangan si penjual, Putra membayar minumannya dan bergegas pergi.


"Mas kembaliannya."


"Ambil saja Pak. Terimakasih banyak."


"Loh kok buru-buru Mas, emang Masnya siapa?" tanya si penjual.


"Saya suaminya Pak." teriak Putra sambil berlari ke arah mobilnya.


Si penjual minuman terpana mendengar jawaban Putra.


"Semoga cepat ketemu dan saya doakan semuanya selamat." gumamnya.


°°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa Rate dan Like Guys

__ADS_1


°Terimakasih semua.


__ADS_2