
Si penjual minuman terpana mendengar jawaban Putra.
"Semoga cepat ketemu dan saya doakan semuanya selamat." gumamnya.
°°°°
Putra memacu mobilnya. Istrinya berjarak beberapa menit saja di depannya. Sepuluh menit dengan banyak kemungkinan. Dia tidak tahu di depan sana akan ada apa, bagaimana jika menemukan beberapa persimpangan, harus belok kemana dia. Pikiran-pikiran itu menambah daftar buruk di kepalanya. Tiba-tiba saja dia takut berbelok ke jalan yang salah. Itu berarti semakin jauh dan kemungkinan Mawar selamat semakin tipis. Setiap menit sangat berharga untuknya dan Putra tidak akan menyia-nyiakan sedetik pun. Dia berdoa dan berharap semoga di depan sana nanti tidak menemukan persimpangan.
Tunggulah, sayang. Tunggu aku. Aku akan datang, bertahanlah untuk masa depan kita, untuk Cinta kita. Kumohon Tuhan lindungi istriku. Dengar aku Tuhan.... Tidak ada masa depan untukku tanpa Mawar.
Doa Putra sepertinya belum terkabul, sebuah pertigaan terlihat di hadapannya. Mobilnya mengerem mendadak dan disambut klakson dari mobil yang berada di belakangnya. Beruntung tidak terjadi tabrakan. Sambil mengumpat Putra menepikan mobilnya dan berpikir keras ke arah mana yang harus dia lalui. Di daerah situ tidak ada warung atau apapun di sana untuk ditanyai mengenai mobil kijang biru.
Shit!
Putra keluar dari mobil mencoba mencari jejak apa saja yang mungkin mengarah ke Mawar. Dia berjongkok dengan hati hancur karena tidak menemukan apa pun di sana. Wajahnya terlihat lelah dan frustasi, bingung memilih jalan yang mana harus dia tempuh. Dia ingin sekali mengandalkan instingnya, namun jika salah itu hanya akan memperkecil peluang untuk menyelamatkan istrinya.
Berfikir Putra! Ayoo berfikirlah.
Otakmu bukan hanya hiasan di kepalamu.
Tuhan memberikannya agar kau bisa berfikir.
Putra kembali mondar-mandir seperti orang gila di pinggir jalan, tangannya terkepal kuat hingga kuku jarinya memutih.
Kumohon Tuhan. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Aku memang banyak dosa, tapi jangan hukum aku dengan cara seperti ini.
Saat hampir putus asa, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Telepon dari rumah? Semoga ada petunjuk." gumamnya.
"Ada kabar apa?" sambar Putra to the point.
Terdengar suara Bambang ditelepon.
__ADS_1
"Putra barusan ada penjual bensin melihat mobil kijang biru masuk ke perkebunan teh milik Cv. Angkasa di kilometer 88. Kepolisian sedang melaju ke sana sekarang. Kau di mana?"
"Kilometer 88? Aku dekat dengan lokasi itu." Putra segera menutup polselnya tanpa menghiraukan Bambang yang masih berbicara di telepon.
Putra mengemudikan mobilnya seperti pembalap, nyaris tak menginjak pedal rem. Dia berbelok ke kanan menuju kilometer 88, di sana memang hanya ada perkebunan teh yang sepi.
Ya Tuhan. Apa yang hendak dilakukan Roy? Dia tidak sedang membuang mayat Mawar kan?
Seketika Putra merinding dan mual dengan pikirannya sendiri. Kecemasannya semakin membuat dadanya sesak.
Tidak mungkin. Tuhan telah memberikan aku banyak petunjuk dan memudahkan mencari Mawar bukan untuk menemukan mayatnya. Aku pasti bisa menepati janjiku padanya.
°°°°
sementara di suatu tempat.
Mawar tersadar dalam kegelapan, tubuhnya meringkuk di tempat yang sempit dan pengap. Mawar tahu dia berada dalam bagasi mobil yang sedang berjalan. Tutup bagasi sepertinya sengaja tidak ditutup rapat, mungkin untuk celah udara masuk. Mobil itu berputar-putar tanpa henti, sesekali berbelok ke kanan maupun berbelok ke kiri, perut Mawar mual karena udara yang panas dan pengap di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Saat hendak teriak dia baru sadar jika mulutnya di lakban dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya pun terikat. Mawar mulai menangis di tengah rasa tak berdaya dan ketakutan. Kakinya yang terlipat pun mulai kesemutan.
Siapapun tolong aku... Aku takut!
Kau tidak sendirian, kamu bersama bayimu.
Tuhan. Jika Roy melakukan hal yang buruk. Tolonglah bayiku.
Pergolakan dalam hati Mawar mereda. Seperti mendapatkan kekuatan, tangisnya pun berhenti dan dia mulai berfikir apa yang bisa dia lakukan untuk melarikan diri atau setidaknya bertahan hidup sampai ada seseorang datang untuk menolongnya. Dia tidak tahu kemana mobil ini membawanya. Mawar hampir menangis lagi mengingat pelukan dan ciuman Putra beberapa saat lalu, tapi sekarang dia malah berada di tempat seperti ini. Semuanya seperti mimpi.
Mobil belum berhenti, tapi dia merasa seperti ini bukan jalan besar. Karena mobil terguncang, seperti jalan berbatuan. Badannya sakit namun sebisa mungkin dia melindungi perutnya dari goncangan dengan menggunakan kakinya.
Bertahanlah nak. Bertahan demi Bunda.
Perlahan kecepatan mobil berkurang hingga akhirnya berhenti. Di dalam bagasi Mawar bernafas lega, perutnya berhenti bergejolak. Samar-samar dia mendengar pintu mobil terbuka lalu di tutup kembali, dadanya berdebar keras. Mawar mencoba mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Walaupun rasa takut tetap terlihat jelas di wajahnya.
Tidak lama pintu bagasi terbuka dan pantulan cahaya terang terlihat. Beberapa detik kemudian terlihatlah wajah penculiknya. Wajah Mawar terlihat semakin pucat. ROY!
__ADS_1
"Hallo Manis, tidur nyenyak?" Roy menyeringai dengan senyum menjijikkan. Ujung jarinya membelai rambut Mawar yang berantakan.
Mawar ingin sekali memaki pria ber*ngs*k di depannya. Menyampaikan bahwa dia lebih menjijikkannya dari pupuk kandang yang sering Putra buat. Tapi dia tidak bisa, karena mulutnya masih di lakban. Mawar menatap tajam Roy saat pria itu membopong tubuhnya, Mawar terus meronta-ronta dengan mengerakkan kakinya menolak dibawa Roy, namun Roy malah dengan lancangnya mengelus betis Mawar yang tidak tertutup rok.
"Jika kau tidak mau diam, aku akan mengusap bagian yang lebih tinggi dari betismu. Apakah kau menginginkannya?" ujar Roy sambil terus mengusap betis sampai lutut Mawar.
Akhirnya Mawar diam.
Baj*ng*n kurang ajar! Kalau aku selamat. Aku bersumpah akan membuatmu busuk di penjara!
Mawar memaki dalam hati. Roy memang selalu bertindak kurang ajar terhadapnya. Baik hanya topeng saat dirinya masih menjadi accounting di perkebunannya.
Dasar buronan!
Sejak awal memang Mawar tidak suka pada Roy, tampangnya memang lumayan ganteng, apa lagi didukung dengan tubuh atletis hasil fitnes rutin. Dengan sangat mudah Roy menjadi idola kaum wanita. Pesona Roy memang mampu memikat para wanita hanya dengan tersenyum, terkecuali Mawar tentunya. Dia gadis yang paling tidak suka.
Roy tersenyum saat melihat Mawar terdiam. Dia memeluk Mawar dan membawanya ke dalam pondok kecil.
"Kalau kau diam seperti ini, kita bisa bersenang-senang dengan tenang. Kita akan menghabiskan waktu berdua. Aku bisa membuatmu puas." ujar Roy sambil terus melangkah.
Pintu kayu berdecit ketika Roy membukanya, lalu dia berbalik menguncinya dengan kayu besar yang menempel di pintu. Mawar terhempas ke ranjang setelah pria itu menurunkannya. Dengan cepat Mawar menjauh dari Roy, duduk menempel pada sandaran ranjang tersebut. Expresi marah bercampur rasa takut dan jijik ketika melihat wajah Roy dari deket.
"Bagus sekali kau menempel ke ranjang itu, kau mempermudah pekerjaanku."
°°°°°
Bacanya jangan lupa bernafas ya 😜
visual Roy. yakin masih kesel liat senyum Roy
----Mohon dukungan nya ----
__ADS_1
°Jangan lupa RATE dan LIKE Guys
°Terimakasih semua.