Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 10


__ADS_3

MALAM HARI


Karena masing-masing sudah tau tempat tidurnya maka mereka bersiap tidur. Mawar langsung naik keranjang empuknya.


"Mawar kau sudah tidur?"


"Belum, kau ingin curhat lagi?" goda Mawar.


Sembari tersenyum Putra menjawab


"Tidak, aku hanya ingin berterimakasih karena sudah bersedia mengakui aku suami mu padahal aku tau mereka meremehkan diriku."


"Huft... Sembari menarik nafas. Justru aku yang harus berterima kasih padamu Putra, kau selalu membantuku, aku tidak tau kalau saat itu kau tidak datang tepat waktu. Aku senang kau ada di sini."


Benarkah Mawar senang dengan keberadaanku? Dada putra terasa sesak. Kalau saja Mawar tidak trauma akan pria sudah pasti aku melompat untuk memeluk gadis itu.


Ini pertama kalinya dia merasa dihargai, banyak sekali hal yang ingin Putra ceritakan tapi dia masih takut membangkitkan rasa trauma gadis nya.


"Aku senang membantumu, tidak perlu berterima kasih." matanya berkaca-kaca mendengar ucapan tulus Mawar.


"Selamat tidur Mawar, aku menyanyangi mu, sangat... Bisik Putra dalam hati


"Selamat tidur juga," ujar Mawar sembari memejamkan matanya.


Begitu lah malam malam yang mereka lalui.


Sebenarnya Putra masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Mawar. Bambang pernah bercerita prihal itu, tapi dia ingin mendengar versi gadis itu. Putra yakin berbagai kesedihan bisa melegakan dan meringankan beban perasaan. Tapi di sisi lain, dia juga takut melukai perasaan Mawar jika harus mengungkit kenangan pahit.


Sering kali Putra terbangun dari tidurnya, setiap tengah malam Putra mendapati suara tangisan gadis itu, mata gadis itu terpejam, tetapi kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan tampak gelisah. Betapa rasanya Putra mengenggam tangan gadisnya sembari menenangkan.


°°°°


SEMINGGU KEMUDIAN


Malam itu hujan turun sangat deras, jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Baru saja Putra ingin memejamkan matanya listrik padam.


Putra beranjak keluar ingin mengambil lilin, tiba-tiba Mawar berteriak.


"Aaaaaaahhhhh.... " teriaknya


Putra berlari mendekati


"Hey ada apa, tidak apa-apa ada aku di sini. Aku hanya ingin keluar mengambil lilin agar mendapatkan cahaya." saut Putra.


"Tidak!, jaa.. Jangan tinggalkan aku sendiri, ak.. Aku takut! Mawar mencengkeram lengan Putra.


Putra kaget ketika mawar menyentuh nya, ini kali pertama Mawar mau bersentuhan, ya walaupun dalam kondisi ketakutan.


"Apa Mawar takut akan gelap?" batinnya.

__ADS_1


Mawar makin mempererat dekapannya, kini posisi mereka sangat "menempel". Awalnya putra tidak ingin membawa Mawar untuk mencari lilin, karena pasti dia akan kesulitan berjalan mengingat kondisi gelap gulita. Akan tetap dengan keadaan ini membuat Putra sedikit senang bisa berada dalam posisi sangat deket dengan tubuh Mawar.


"Baiklah ayo.." sembari menggenggam tangan Mawar.


Mereka berjalan menuju dapur untuk mencari lilin, yuyun jangan tanya sudah pasti tidur nya sangat nyenyak sampe tidak sadar bahwa lampu padam.


"Sudah lebih baik?" tanya Putra lembut. Disaat mengantar Mawar kembali keranjangnya.


"Jika masih merasa gelap, aku bisa menaruh lilin itu ketempat yang lebih tinggi." sembari tersenyum hangat.


"Tidak apa-apa, itu sudah cukup terang, terimakasih aku tidak tau apa yang akan aku lakukan kalau tidak ada kamu." isaknya


"Km takut?" tanya Putra lagi


"Aku benci kegelapan, aku sangat takut." Suara Mawar mengambang saat mengucapkannya.


Putra terdiam sejenak, dia memang ingin Mawar bercerita tentang semua yang pernah gadis itu alami. Tapi dia tidak akan bertanya lagi. Biarlah Mawar yang akan memutuskan bercerita.


"Selamat tidur, Mawar." dengan engan Putra turun dari kasur Mawar.


"Selamat tidur juga untukmu, sekali lagi terimakasih Putra." tersenyum tulus.


"Aaahh sial, disaat seperti ini malah.. Aarrgghhhh." maki Putra dalam hati.


Saat dia begitu lelah dan berharap segera tidur, ternyata sensasi sentuhan Mawar terus terbayangkan olehnya. Terasa begitu lembut dibalik baju tidurnya, putra masih saja berkhayal.


Setelah sekian lama berkutat dengan pikiran bodohnya, akhirnya dia tertidur pula.


Beberapa saat kemudian mawar kembali terisak, Putra bangkit dan mendekap tubuh mawar kedalam pelukannya. Gadis itu selalu saja dihantui oleh masa lalunya, Putra bertanya-tanya seberapa dalam goresan trauma yang di alami Mawar.


Mata putra berkaca-kaca sembari mengusap punggung mawar lembut. Untuk waktu yang cukup lama putra memeluk mawar, dia bertekad akan melakukannya sampe ketakutan gadis itu lenyap.


Disaat isakan nya mulai mereda, mawar mengusap air matanya. Dengan enggan putra melepas pelukannya dan mengenggam tangan mawar.


"Terimakasih karena ada untukku, sebelumnya aku selalu sendiri. Tidak ada orang lain yang membantu, kau teman terbaik untukku." ujar mawar lirih.


Diantara suara hujan dan cahaya lilin, tidak dapat menyembunyikan raut wajah cemas dan takut seorang mawar.


"Mau mencoba menceritakan nya padaku? Aku bisa menjadi pendengar yang baik." ujar putra menenangkan.


"Aku akan mengganti bajuku dulu."


"Ah iya.. Itu terlihat basah dan lengket." kata putra sembari berjalan ke lemari mawar yang besar.


Setalah lama mencari, akhirnya putra menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah gaun tidur tipis tanpa lengan, dengan potongan leher V rendah, putra belum pernah melihat mawar memakainya. Putra memutuskan untuk mengambil baju itu untuk dikenakan mawar berserta dalaman nya.


"Kau tidak perlu melakukannya, sudah banyak yang kau lakukan untukku." ujar mawar sambil mengambil baju yang di pegang putra.


"Sudah, gantilah bajumu." perintah putra sambil berbalik membelakangi.

__ADS_1


Disaat bersamaan seketika listrik kembali menyala. Kamar seketika menjadi terang benderang.


Mata mawar terbelalak melihat pilihan baju yang diambil putra beserta dalemannya. Malu sekaligus kaget membuat wajah putih bersih mawar seketika merona merah.


Tanpa berkata lagi, mawar dengan cepat mengganti pakaiannya.


"Aku sudah selesai, rasa nya sudah cukup baik." sembari duduk ditepi ranjang dan meminum segalas air.


"Kau akan merasa lebih baik lagi jika mau membagi mimpi burukmu denganku." kata putra lembut.


"Kau tidak mengerti putra. Itu sangat buruk."


"Ceritakan pelan-pelan, aku pria pemberani." canda nya


Mawar hanya tersenyum kecil menanggapi.


"Aku binggung harus mulai dari mana. Saat itu aku baru saja lulus SD, aku dihadapi dengan kenyataan orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Disaat bersamaan mantan klien ibuku datang kerumah dan mecoba...... ".


Isak mawar


Sungguh mawar berfikir tidak pernah akan bisa menceritakan betapa mengerikannya yang dilakukan oleh alan. Bahkan tidak kepada psikiater nya dulu. Bertahun-tahun harus dia habiskan waktu dipusat rehabilitasi kejiwaan dengan rasa takut dan kesepian.


"Aku tidak bisa meneruskannya." suara mawar tercekat.


Dengan susah payah putra menahan air matanya. Memang dia sudah mendegar dari Bambang, tapi ternyata lebih perih jika diliat dari sisi si korbannya.


"Ceritakanlah, agar rasa takutmu berkurang. Berbagi beban lah bersamaku, aku akan selalu ada untuk menjagamu." ujar putra.


"Taukah kau, hal yang lebih mengerikan dari kekerasan itu?" mawar menatap putra.


"Aku tidak mau bertemu siapapun. Aku terdampar di rumah sakit jiwa bertahun-tahun dengan orang-orang berbaju putih yang mengerikan. Aku gila putra." pecah sudah tangis nya.


Putra membawa mawar ke pelukannya.


"Aku mulai mengenali yuyun dan om bambang karena mereka sering berkunjung. Walaupun aku masih saja takut berinteraksi dengan orang lain. Aku mulai belajar menyapa orang dan saat itulah yuyun membawa ku pulang. Aku tidak menyangka semua waktu ku, aku habiskan dirumah sakit jiwa. Aku melewati banyak hal." Gumamnya


°°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa


Rate


Like


dan jejak komentar


°Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2