
Wajah Mawar semakin merona
"Aku lapar. Kurasa aku harus segera mandi sekarang."
Dengan enggan Putra melepaskan Mawar.
"Ajaklah aku, aku belum pernah mandi bersama istri cantikku. Jangan buat aku terpaksa mengintipmu ya." canda Putra.
Mawar tersenyum
°°°°
Mawar membuka kran air hangat dan mengisi bathtub sampai setengah. Tangannya mengambil sabun cair dan menuangkan ke dalam bathup hingga berbusa putih yang melimpah. Putra lebih dulu masuk ke dalam, tangannya memercikkan busa ke arah Mawar yang masih berdiri terpaku di sisi bathup. Mawar ragu dan kukik untuk bergabung, karena belum pernah mandi bersama orang lain. Putra yang merasakan keraguan Mawar pun akhirnya mengulurkan tangannya.
"Kemarilah sayang, aku tidak menggigit." bujuk Putra dengan mimik wajah yang dibuat semanis mungkin.
Mawar tersenyum lebar. "Benarkah?"
"Yah, baiklah. Aku mengaku. Aku memang sedikit menggigit. Tapi kau tidak akan terluka karenanya, aku berani bertaruh malah kau akan menyukainya." ujar Putra sambil mengedipkan matanya.
Senyum Mawar semakin lebar, dia melangkah masuk ke dalam bathup untuk bergabung dengan Putra. Ketika separuh tubuhnya sudah terendam air tiba-tiba Mawar meringis dan segera berdiri dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Putra tidak kalah paniknya.
"Aku tidak bisa mandi."
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan airnya atau sabunnya?"
"Ti...tidak ada yang salah dengan itu, tapi ak...aku sakit." Mawar menjawab dengan gugup.
"Kamu terluka? Mana yang sakit?"
"Kau tahu.. Sakit, karena kita tadi.... Setelah kita....aduh aku tidak tau harus bagaimana mengatakan kepadamu." Mawar hanya mampu menunjuk pangkal pahanya.
Apakah aku tadi terlalu kasar atau terlalu terburu-buru bercinta dengannya
"Maafkan aku." Putra menyesal karena merasa tidak cukup peka. Dia lupa hal itu kali pertama untuk Mawar, sehingga jejak rasa sakitnya masi ada.
Dengan pelan Putra bergeser dan mendudukan Mawar kepingiran bathup. Wajah Putra pas di depan dada Mawar.
"Apakah sakit sekali?"
"Tidak juga, hanya jika terkena air terasa sedikit perih." jawab Mawar malu-malu.
"Aku liat ya." Putra membuka sedikit pangkal paha Mawar dan memang terlihat sedikit bengkak di daerah sana.
Putra menatap Mawar dengan iba, beruntung dia dilahirkan sebagai seorang laki-laki hingga tidak harus merasakan sakit perawan.
"Biar ku bantu memandikanmu."
__ADS_1
"Tidak usah."
"Duduhlah dengan manis. Kau sudah melakukan tugasmu biarkan aku melakukan tugasku." Putra memulai membasuh tubuh Mawar.
Walaupun Putra sudah melakukannya dengan sangat hati-hati, Mawar tetap saja meringis merasakan perih ketika terkena air. Membuat Putra berkali-kali meminta maaf.
"Tidak apa-apa, sungguh aku baik-baik saja."
"Aku benar-benar sudah membuatmu menanggung rasa sakit. Aku..."
"Sssttt.... Aku rela melakukannya untukmu. Aku mencintaimu Putra."
"Aku juga mencintaimu Mawar. Sangat mencintaimu."
Dan keduanya berpelukan erat diliputi rasa bahagia.
°°°°
Ketika mereka akan keluar untuk makan siang, Putra menarik tangan Mawar sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin ku tunjukkan padamu." Putra mengeluarkan selembar kertas kecil dari dalam dompetnya lalu menyodorkan ke tangan Mawar.
"Ini cek yang kuberikan padamu dulu kan?" seru Mawar ternganga melihat selembar cek di tangannya.
Putra mengangguk "kukembalikan." jawabnya mantap.
Ah pria itu pasti sudah menghabiskan penghasilan gajinya. Karena pembagian hasil perkebunan pun belum pria itu ambil.
"Putra! Harusnya kau tidak boleh seperti ini."
"Tentu saja boleh, kenapa tidak?"
"Tapi itu uangmu Putra." Mawar mengatakannya dengan nada menyesal yang jelas terlihat.
"Hey dengar, bukan hal yang aneh jika seorang suami membelanjakan uangnya untuk kesenangan istrinya, apalagi untuk istrinya yang sangat cantik ini."
"Kau pasti lebih membutuhkan uang itu dari pada aku." jawab Mawar sambil menundukkan wajahnya.
"Aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan. Aku mendapatkan cintamu, itu lebih berarti bagiku. Aku tidak ingin apa-apa lagi." kedua tangan Putra menangkup bahu Mawar sebelum mendaratkan kecupan mesra di pucuk kepala Mawar.
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." ucap Putra mengandeng tangan Mawar ke luar kamar.
Ketika mereka menuju meja makan di sana ada Yuyun dan Om Bambang.
"Aku kira kau tidak akan keluar kamar sampai esok hari dan kenapa jalanmu seperti pinguin begitu." sindir Yuyun sambil tersenyum pada Mawar.
Mawar hanya melirik malas, dia tidak ingin meladeni candaan Yuyun terlebih perutnya sudah tidak bisa diajak kerjasama.
"Kau seperti tidak pernah muda saja Yun, terlebih mereka masih hitungan pengantin baru." Bambang melirik Mawar dan Putra yang tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Hahahaa, baiklah.. Kalian makanlah."
Seperti kebanyakan pernikahan lainnya. Sejak hari itu Mawar dan Putra semakin mesra saja dan tubuh Mawar sudah bagaikan candu untuk Putra. Setidaknya semua sudah berjalan normal.
°°°°
Beberapa minggu kemudian wajah Mawar kembali terlihat pucat dan sering mengeluh sakit kepala hingga kehilangan nafsu makannya. Sering kali Yuyun memergoki Mawar sempoyongan ketika tiba-tiba berdiri setelah duduk cukup lama.
"Kurasa obat itu kurang cocok untukmu. Kau hanya terlihat sehat seminggu saja dan lihat kini sepertinya kau sakit lagi." Yuyun menegur Mawar saat mereka tengah memanggang cake, sambil menyeka keringatnya yang mengucur deras.
Udara siang itu terasa lebih panas dari biasanya.
"Kau cerewet sekali.." Mawar menekuk bibirnya dengan manja. Dia senang Yuyun selalu memperhatikannya.
Sebenarnya dia juga tidak keberatan Yuyun selalu mengomelinya setiap lupa minum obat.
"Sebaiknya kau cepat berganti baju sana anak nakal! Kali ini aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah sakit. Kita berangkat segera setelah cake ini matang." Yuyun mencolek ujung hidung Mawar.
"Hah? Sekarang?" Mawar membeliakkan matanya dengan jenaka.
"Kurasa aku harus cepat berganti baju, sebelum ibu cerewet ini memukulku dengan sapu ajaibnya." ujar Mawar sambil berlari ke kamarnya.
"Hei... Awas kau ya. Beraninya meledekku." cibir Yuyun kesal dengan tingkah Mawar.
Sambil menunggu Mawar berganti pakaian, Yuyun mengangkat cake yang dia panggang tadi dan berlalu mengganti pakaiannya juga.
°°°°
Jam empat sore mereka tiba di rumah sakit, dan kebetulan Mawar mendapatkan dokter yang sama saat terakhir memeriksakan diri bersama Putra. Dokter itu mengukur tekanan darah Mawar kemudian meminta salah seorang perawat untuk mengambil sampel darah beserta urine. Semua prosedurnya itu nyaris sama dengan pemeriksaan sebelumnya, hanya saja kali ini Mawar lebih bersikap kooperatif.
Hasil pemeriksaan urine menunjukkan garis dua, Yuyun melonjak gembira saat dokter menyampaikan kabar tersebut, sedangkan Mawar terpana dengan wajah kebingungan. Dia memang sering bercinta dengan Putra nyaris tiap hari malah, tetapi tidak menyangka akan secepat itu prosesnya, dan sekarang dia benar-benar tengah mengandung buah cintanya dengan Putra.
Usai pemeriksaan, dokter kembali meresepkan beberapa vitamin disertai peringatan bahwa Mawar tidak boleh terlalu lelah dan harus banyak mengonsumsi makanan bergizi lengkap. Yuyun dan Mawar tiba di rumah menjelang malam, disambut Putra dan bambang dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi dengan Mawar?" Bambang segera mendekati Mawar dan meletakkan telapak tangannya di kening Mawar. "Dingin?" gumamnya.
"Kau sakit apa?" tanya Putra.
Yuyun tersenyum miring. "Parah." jawab Yuyun singkat sambil duduk dikursi.
"Mawar?"
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa RATE dan LIKE nya ya teman teman
°Terimakasih
__ADS_1