Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 32


__ADS_3

Makan malam berjalan dengan hening, masing-masing sibuk dengan pikiran dan kekawatirannya. Hanya Putra yang sesekali berkomentar mengenai rasa menu atau sekedar menambahkan sayuran pada piring Mawar.


Prang.... Prang...


Semua melirik ke arah Mawar.


"Sayang, pelan-pelan. Tidak apa-apa, kita ganti sendoknya ya, mau aku suapi?" tanya Putra ketika melihat Mawar masih saja cemas, bahkan memegang sendok pun tangannya bergetar sangking takutnya. Putra paham akan itu, untuk gadis yang pernah trauma kasus pelecehan.


"Ya, sebaiknya kau disuapi suamimu saja nak." Bambang tak kalah cemas sekaligus sedih melihat Mawar seperti itu. Dalam hatinya dia berdoa semoga saja gadis itu tidak trauma lagi, terlebih di dalam tubuhnya ada nyawa lain.


"Ti..dak perlu. Aku sudah kenyang." jawab Mawar dengan tatapan kosong.


Usai makan, tanpa menunggu Yuyun yang tengah membereskan piring dan gelas kotor bekas makan malam, Mawar langsung melangkah cepat ke kamarnya. Putra langsung mengikuti Mawar dengan diam dan tanpa suara.


"Aku tau kau khawatir." ujar Putra setelah mereka selesai membersihkan diri di kamar mandi.


Mawar yang sedang berganti pakaian, hanya melirik sekilas dan melanjutkan aktifitasnya. Setelah baju terpasang sempurna pada tubuhnya, dia menghela nafas dan naik ke ranjangnya dalam diam. Wajahnya masih murung dan bibirnya yang seksi tertarik ke bawah.


"Aku..." ucap Mawar tertahan, yang keluar dari mulutnya hanyalah hembusan nafas panjang.


Putra ikut naik ke ranjang lalu meraih Mawar dan mengusap perutnya yang semakin membesar. Putra memalingkan wajah Mawar sehingga berada tepat di bawah wajahnya dan mengecup kening istrinya lama. Seolah enggan melepaskan nya.


"Aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu. Jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja." tangan Putra melingkari tubuh Mawar dan memeluknya erat.


"Kamu tidak mengerti Putra, aku yang merasakannya, aku tidak mau lagi mengalami semua itu. Ini tidak adil. Baru sebentar aku merasakan bahagia bersamamu, lalu dia tiba-tiba ingin merusak semuanya. Putra aku sungguh tidak ingin mati sekarang, aku ingin lebih lama untuk bisa hidup bersamamu dan anak-anak kita nanti." Mawar mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. Air matanya pun mulai menetes di pipi mulus putihnya.


Tidak terbayang olehnya, jika nanti Roy sampai menemukannya, dia dan anaknya yang masih dalam kandungan berada dalam bahaya. Betapa Mawar tidak ingin kehilangan segalanya. Dia masih ingin bahagia bersama keluarganya.


"Hey.. Apa yang kau bicarakan. Kau tidak akan mati, tidakkah kau dengar apa yang tadi aku katakan? Lupakah kau bahwa aku pernah berjanji tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu. Aku mencintaimu Mawar, aku akan menjagamu bahkan jika harus menukar nyawaku dengan hidupmu." Putra berkata tanpa adanya keraguan sedikit pun. Sambil menatap mata Mawar dalam-dalam.


Putra pun tidak ingin kehilangan Mawar, hidupnya tidak akan berarti lagi. Dan dia juga tidak sanggup melewati sisa hidupnya jika harus kehilangan istri dan calon bayinya,


dia sungguh tidak sanggup!

__ADS_1


Putra sama cemasnya dengan Mawar, namun dia tidak bisa menunjukkannya di depan istrinya. Bagaimana pun suami harus tetap terlihat kuat walaupun sebenarnya dia pun merasa lemah dan ketakutan.


Percayalah padaku, kumohon, aku akan berusaha semampuku. Aku tak akan membiarkan kau dan calon anak kita dalam bahaya.


Mawar belum bisa menghentikan air matanya yang mengalir begitu saja tanpa bisa dia kendalikan. Dia dan Putra sudah sering mengkhayalkan keadaan mereka saat anak yang di kandungannya lahir nanti. Membayangkan hari-hari yang akan mereka lalui dengan bayi mungil yang sering menangis dan tertawa. Putra selalu mengatakan ingin memiliki anak sebelas agar bisa membentuk team sepak bola sendiri. Tapi........ Semua angan itu memudar, berganti dengan ke ngerian akan ancaman kedatangan Roy.


Ini tidak adil, Tuhan..... Tolong jangan biarkan petaka apa pun itu menimpaku.


Mawar menghapus air matanya. Putra kembali mengecup keningnya sambil berbisik dalam hati.


Aku bisa memahami apa yang kaurasakan Mawar. Demi Tuhan... Aku akan melakukan apa saja untukmu, karena aku suamimu dan karena kau adalah nafas dalam hidupku.


Malam itu mereka tidur berpelukan sangat erat. Seakan sadar mungkin saja suatu hati nanti mereka hanya bisa mengenang saat-saat ini. Entahlah!


°°°°


Sementara itu di sebuah pemakaman tampak seorang pria muda tengah berlutut di depan batu nisan berwarna hitam, tangan pria itu mengenggam nisan dengan erat.


Kesejukan udara di pemakaman rupanya tidak cukup untuk mendinginkan panasnya dendam di hati pria itu. Setelah cukup lama berlutut dengan tangan di atas nisan, pria itu berjalan pelan keluar dari pemakaman, lalu melangkahkan kakinya menuju mobil Kijang Kapsul biru tua.


Ya pria itu bernama Roy.


°°°°


Hari-hari yang bergulir masih terasa mencekam. Tapi Bambang atau Putra sudah bisa bercanda mengeluarkan lelucon konyol mereka. Yuyun juga sesekali menimpalinya dengan tawa atau senyum tipis. Hanya keadaan Mawar yang tidak berubah, raut mukanya selalu terlihat tegang dengan senyum yang dipaksakan. Tidak seorang pun di antara mereka yang sanggup membuat Mawar mengatakan semua baik-baik saja.


Matahari baru saja beranjak naik ketika Yuyun dikejutkan oleh dering telepon yang berdering. Tergopoh-gopoh wanita paruh baya itu berjalan ke ruang keluarga, meninggalkan semua kegiatannya di dapur, memasak makan malam tentunya.


Beberapa menit kemudian dia menutup telepon dengan wajah binggung. Setelah berpikir sejenak, dia menghampiri Putra yang sedang menemani Mawar duduk di teras depan.


"Putra!" panggil Yuyun.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Ada berita buruk," keluh Yuyun sambil menatap Putra.


"Tentang apa? Apa Roy?" Mawar ikut menimpali dengan cepat.


Akhir-akhir ini berita buruk memang selalu berkaitan dengan pria itu. Roy.


"Bukan. Bukan sama sekali."


"Lalu?" tanya Putra semakin penasaran.


"Ini tentang salah satu pekerja kita, Surya. Kau kenal Putra?" pertanyaan Yuyun dijawab anggukan oleh Putra.


"Surya mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil dan terlempar cukup jauh. Lebih parahnya kakinya patah." Yuyun memberitahu sambil meringis ngeri. Membayangkan betapa sakitnya itu.


Putra tercengang, pikirannya langsung berputar, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Bambang sedang pergi ke kota membeli peralatan baru untuk perkebunan. Mereka bisa saja menelepon Bambang untuk segera pulang, namun itu pasti memakan waktu cukup lama, mengingat jarak antara perkebunan dan kota. Bisa-bisa Surya kehabisan darah di perjalanan.


Kening Putra berkerut memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sedangkan jalan terbaiknya dia sendiri yang harus mengantar Surya ke rumah sakit, tapi.... Bagaimana dengan istrinya?


Aku tidak bisa meninggalkan Mawar!


Bagaimana jika pria itu datang?


"Pergilah Putra, kasian Pak Surya. Dia terluka parah, kau tidak bisa membiarkan dia merasakan sakit terlalu lama. Aku tidak apa-apa." Mawar mengatakannya dengan berat hati, sebenarnya dia tidak ingin Suaminya kemana-mana. Karena saat ini hanya Putra yang membuatnya merasa aman.


"Tapi aku......."


°°°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa Rate dan Like Guys


°Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2