
"Aku mendapatkan kesempatan yang sangat baik, akhirnya aku bisa melihat dan merasakan semua ini." ujar Roy dengan senyum penuh minat pada apa yang ada di depan matanya.
Srek.. Srek...
Suara robekan rok Mawar saat ujung pisau yang digunakan Roy dengan tidak berperasaan nya mulai mencoba melepaskan semua penutup yang masih menempel pada tubuh Mawar. Mawar memejamkan matanya dengan kengerian yang dahsyat ketika tangan Roy mengusap-usap paha mulusnya, sementara tangan yang satu lagi tetap menggenggam pisau yang dia tempelkan pada leher Mawar.
"Aku menghabiskan waktu berhari-hari di perkebunanmu, menunggu saat yang tepat untuk membawamu pergi. Aku menyamar memakai kumis dan cambang lebat untuk mengaku menjadi salah satu pekerjamu, dan hahahahaaaa sungguh beruntung aku saat suamimu yang bodoh itu tidak pernah datang ke perkebunan, mungkin saja dia bisa mengenaliku. Aku sengaja menabrak Surya saat aku sudah lelah terlalu lama menyamar, aku tabrak saja dia." Ujar Roy dengan entengnya. Seolah nyawa seseorang adalah sebuah mainan.
Kau sungguh tidak punya hati, teganya kau mencelakai orang lain hanya demi rencana busukmu.
Roy meletakkan pisaunya di meja kecil dan mulai menelusuri pangkal paha Mawar dengan ujung jarinya.
"Awalnya aku heran, kenapa suamimu itu tidak mau melepaskanmu sekejap pun. Tapi kini aku tau sekarang alasannya."
Mata Roy tidak lepas memandang wajah dan tubuh Mawar. "Indah." batinnya.
"Kau tidak pernah tau Mawar, seberapa seringnya aku mengkhayalkan saat-saat seperti ini, dan sekarang sudah waktunya aku mewujudkan semua khayalanku tentang tubuhmu." setelah berkata seperti itu Roy segera menurunkan resleting celananya dan memposisikan pinggulnya di antara kaki Mawar yang terbuka lebar.
Mawar terus meronta dan menggelengkan kepala berusaha melepaskan diri, namun ikatan di tangan dan kakinya justru terasa semakin kencang. Tangisnya pecah dan air matanya mulai mengalir deras di pipinya. Dia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi orang yang tegar. Bayangan masa lalu yang sudah terkubur kini bangkit menjadi kenyataan yang menyeramkan.
__ADS_1
Tuhan.... Kumohon tolong aku. Putra, dimana kamu? Kau sudah berjanji bukan? Kau berjanji selalu melindungiku dengan nyawamu sekali pun. Sayang tepatilah janjimu.... Putra selamatkan aku dan anak kita. Putraaa... Putraaaa... Putraaaa......
Mawar terus memanggil nama Putra di dalam hatinya, nama itu seperti doa baginya.
"Sssstttt..... Tenanglah! Tenang aku bisa memberikan yang tidak pernah bisa diberikan oleh suamimu." tangan Roy mencengkram pinggang Mawar dengan kasar dan mulai menarik tubuh Mawar mendekat ke tubuhnya.
Ku mohon Putra, datanglah.
°°°°
Sementara di jejeran daun daun teh yang nampak rimbun, membuat laju mobil Putra semakin kencang, menurutnya dia semakin dekat dengan Mawar. Putra terus mengikuti jalur jalan sampai dari kejauhan dia melihat ada pondok kecil yang terlihat tidak terawat. Dan... Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan nyaris melompat keluar saat dia melihat mobil kijang biru bersayap terparkir tidak jauh dari pondok itu. Putra semakin menginjak pedal gasnya dalam-dalam dia tidak perduli pada nyawanya, baginya Mawar segalanya.
Tuhan izinkan aku terus bisa bersamanya.
Mobil Putra berhenti nyaris menabrak pintu pondok kayu itu, setelah mematikan mesin mobilnya, Putra langsung melompat turun dari mobil kemudian menerjang pintu pondok yang tertutup rapat. Mata Putra menyalang saat melihat pemandangan di depan matanya, tanpa banyak bicara dia melangkah maju dan menarik tubuh Roy lalu menghempaskannya ke dinding kayu. Betapa lega hatinya melihat istrinya masih hidup walau dengan kondisi tidak karuan. Bahkan nyaris di lecehkan oleh pria brengsek itu. Kepala Putra benar-benar mendidih saat melihat resleting Roy sudah terbuka, amarah Putra semakin memuncak.
Putra kalap, pikiran jernihnya sudah tidak dapat bekerja dengan baik, menurutnya hanya bagaimana caranya agar nyawa Roy terlepas dari tubuhnya. Dengan garang Putra menerjang Roy, namun kali ini Roy mampu membalasnya meskipun pada akhirnya Roy kalah telak karena postur tubuh Putra lebih besar. Ketika Roy terlempar ke sisi meja, dia langsung mengambil pisau yang dia letakkan di sana. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia mengarahkan pisau itu ke tubuh Putra, usahanya Roy tidak sepenuhnya berhasil karena Putra dengan cepat menghindarinya. Hanya saja ujung pisau Roy sempat menggores dada Putra sedikit. Akhirnya mereka kembali berguling di lantai bawah, Putra menahan pisau Roy yang tertuju pas depan dahinya, saat jarak pisau dan dahi hanya tinggal beberapa senti lagi Putra menendang perut Roy dengan lututnya. Roy kembali terpental, kali ini dekat jalan keluar pondok dan pisaunya terlempar jauh ke arah bawah ranjang.
Putra berusaha mendekati Roy kembali, tapi di tangan Roy sudah ada balok dan sudah siap diayunkan ke tubuh Putra. Naasnya tidak ada waktu lagi untuk menghindar, Putra menggunakan lengannya untuk menangkis balok besar itu sehingga balok itu terbelah. Putra mundur dan mengerang kesakitan sambil memegangi lengannya yang terlihat lemas seolah tak bertulang. Roy tidak menyianyiakan waktu lagi dengan cepat dia mendekati Mawar dan siap menghunjamkan potongan balok tadi pada perut Mawar.
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi, kau harus mati!" teriak Roy sambil mengangkat balok itu.
Mawar memejamkan matanya pasrah. Putra mengabaikan rasa sakitnya dan menubruk tubuh Roy dengan bahunya. Pekikkan Roy tertahan ketika perutnya menabrak ujung ranjang yang terbuat dari besi. Sebelah tangan Putra yang tidak terluka menarik Roy ke sisi ranjang, dengan kemarahan yang semakin memuncak, Putra benar-benar gelap mata ketika mendengar Roy ingin membunuh Mawar.
Tidak akan aku biarkan, selama aku masih hidup.
Dengan menahan rasa sakit di lengannya, Putra melemparkan tubuh Roy entah ke arah mana dia tidak tau, asal tidak dekat dengan Mawar pikirnya. Putra tidak menduga sama sekali Roy bisa tertancap di cangkul yang ada di dekat situ, dengan mata membelalak dan darah mengucur deras dari punggung pria itu. Putra terperangah sesaat menyaksikan Roy merengang nyawa dengan kondisi mengerikan di depannya. Ingatan tentang Mawar melintas, dengan cepat dia membalikkan badannya, tergesa-gesa membantu Mawar melepaskan ikatan talinya dan lakban di mulutnya.
Putra terdiam melihat Mawar, Putra masih mengingat ketika dulu dia ingin menolong dan menyentuh Mawar namun wanita itu menolaknya, ketakutan itu membuat Putra berfikir apakah istrinya akan melakukan hal yang sama. Putra sangat mengerti apa yang Mawar rasakan. Dia memutuskan bergerak mundur untuk memberi ruang pada Mawar sehingga wanita itu tidak merasa tertekan oleh keberadaannya. Putra menelan ludahnya susah payah, dia sudah sangat lelah dan kesakitan, saat ini dia sangat ingin memeluk istrinya. Untuk melepaskan segala ketakutannya yang nyaris kehilangan istrinya, rasa Cinta yang sungguh besar pada gadis itu. Ibu dari anak anak-anaknya.
"Putra."
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa Rate dan Like Guys
°Terimakasih semua.
__ADS_1