Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 28


__ADS_3

Saat Putra melepaskan Mawar, dia menatap bibir Mawar yang agak bengkak dan kemerahan. Namun hal itu justru membuatnya semakin terlihat seksi. Tangan Putra menuruni tengkuk Mawar sambil mengusap leher dan bahu gadis itu sehingga jubah mandinya tersingkap. Kerah jubah mandi yang rendah memudahkan Putra menyelipkan tangannya dan membelai lembut aset Mawar yang indah dan halus.


"Jangan putra." cegah Mawar dengan suara lirih di anatara getaran kecil yang mulai muncul.


Putra menepis tangan Mawar dan mulai menenangkannya.


"Tidak apa-apa.. Kau tau aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menyentuhnya dan merasakannya. Kumohon Mawar."


Mawar mulai luluh mendengar ucapan Putra, Mawar melepaskan cengkramannya dan mulai terbuai dengan kelembutan gerakan jari Putra di tubuhnya. Putra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, sebuah tangannya turun melepaskan simpul jubah mandi Mawar hingga jatuh di lantai. Mawar kaget dan melompat mundur. Rasa malu yang besar membuat membuat wajah gadis itu memanas dan merah padam. Secara refleks tangannya berusaha menutupi dada dan inti tubuhnya.


Astaga! Aku malu sekali.


Putra tersenyum bijak terhadap reaksi alami Mawar.


"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Mawar panik.


Mawar melirik jubah mandinya yang tergeletak di dekat kaki Putra, dia tidak berani mengambil jubahnya itu karena jika dia ke sana itu berarti dia harus melangkah mendekati Putra. Dengan keadaannya yang polos Mawar nyaris tidak bisa berfikir jernih karena rasa malu yang begitu besar.


Putra melangkah mendekati Mawar, namun gadis itu kembali ikut melompat mundur dengan panik. Putra tersenyum senang karena bisa melihat tubuh Mawar tanpa halangan apa pun. Pria itu terus maju sementara Mawar terus melangkah mundur dengan kepanikan yang semakin memuncak. Mawar tidak sadar jika tubuhnya sudah sampai di sisi ranjangnya yang masih berantakan. Akhirnya tanpa sengaja dia menginjak ujung selimutnya hingga gadis itu terjengkang ke atas ranjang. Putra dengan cepat bergerak dan mengunci tubuh Mawar yang tidak sempat mengelak.


"Haah! Apa yang kau lakukan?" pekik Mawar sambil berusaha mendorong Putra, namun semua sia-sia karena tenaga Putra lebih kuat dari Mawar.


Putra mengecup kening Mawar penuh kasih.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu dan aku ingin memilikimu seutuhnya. Bolehkah?"


"Aa...ak...aku tidak tau. Aku takut. Apakah itu akan terasa sakit?" Mawar menelan ludahnya susah payah. Tidak terbayang olehnya akan terjadi hal seperti itu.


Putra terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk berbicara jujur pada Mawar, cepat atau lambat gadis itu akan tau yang sebenarnya.


"Awalnya akan sedikit terasa sakit, namun itu hanya sekali selebihnya tidak akan sakit lagi." Pria itu berdebar-debar menunggu respon Mawar.

__ADS_1


Semoga kali ini kau tidak menolaknya lagi, sayang!


"Aku tau ini semua akan terjadi dan aku menghargai kesabaranmu sudah mau menungguku selama ini. Tapi aku takut, aku sama sekali tidak mengerti, aku juga tidak ingin kau kecewa."


Putra menatap mata Mawar dalam. Dan Terlihat keraguan di mata Mawar. Melihat itu, Putra berinisiatif memulainya lebih dulu.


"Putra kurasa.."


Ucapan Mawar terpotong karena Putra tiba-tiba mencium bibir Mawar. Putra tidak memberikan kesempatan untuk memikirkan apa pun, kecuali menikmati ungkapan kasih sayang yang Putra akan berikan. Putra larut dalam pesona kesegaran aroma dan kulit lembut yang berasal dari tubuh mulus Mawar yang tanpa cela, menyusurinya tanpa ada bagian yang terlewati.


Mawar juga menikmati sensasi tubuh besar Putra yang menghangatkannya. Sentuhan Putra membuat tubuhnya bergetar. Dengan gerakan tangkas Putra melepaskan semua yang menempel pada tubuhnya tanpa beranjak dari tubuh Mawar. Begitu pelan dan hati-hati Putra menyatukan *****nya dengan Mawar. Suara lembut Mawar berubah menjadi erangan sakit oleh tekanan di inti tubuhnya. Mawar memejamkan matanya dengan bibir yang terkatup menahan nyeri. Puta menatap wajah kesakitan Mawar dengan hati yang teriris, dia sudah berjanji tidak akan pernah menyakiti gadis itu, namun sekarang dia melakukan itu. Namun jika tidak dia lakukan saat ini, selamanya tidak akan pernah terjadi.


"Maafkan aku" bisik Putra pelan sambil menempelkan dahinya kedahi mawar.


Putra benci pada dirinya sendiri yang menyakiti Mawar, namun dia juga tidak kuasa menahan gejolak itu untuk bisa memiliki Mawar seutuhnya. Sekian lama mereka menjadi pasangan suami-istri. Perlahan Putra bergerak dan menekan semakin dalam. Wajah Mawar tegang dan bibirnya pucat menahan rasa nyeri.


"Putra kumohon stop. Ini sakit!" Mawar terisak.


Tangannya mencengkeram erat ujung bantal. Tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang terjadi. Mawar merintih oleh rasa itu namun dia tidak bisa mengeluh karena sudah merelakan miliknya yang paling berharga untuk diserahkan pada Putra, Suaminya sekaligus pria yang dikasihinya.


Matanya pun berkaca-kaca, terharu akan perjuangan Mawar. Walaupun merasakan sakit, gadis itu tidak menolaknya atau berusaha menjauhinya lagi. Putra semakin yakin bahwa Mawar pun mencintainya.


Wanita ini telah menyerahkan dirinya, mempercayakan hidupnya padaku. Sekarang kau bukan lagi teman atau pun kekasihku. Tapi kau istriku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu Mawar


Putra bergerak lagi. Kali ini dengan perlahan dan sangat lembut mengingat rasa sakit yang baru saja di alami Mawar. Rintihan sakit Mawar berubah menjadi teriakan merdu nan manja. Semua rasa takut dan kesedihannya hilang sudah. Putra datang menawarkan pelipur bagi hatinya yang ancur oleh kenangan buruk, semua kegalauan lenyap oleh luapan cinta yang diberikan Putra dengan tulus. Pria itu membawanya terbang tinggi yang belum pernah dia datangi. Tubuhnya bergetar hebat oleh gerakan demi gerakan yang terjadi. Disaat getaran mulai reda, Mawar menyaksikan tubuh Putra melemah diiringi dengan kehangatan yang menjalar diarea pribadinya. Mawar terkulai lelah disusul Putra berguling ke sisi Mawar dan meraih wanita itu dalam pelukannya.


"Kau baik-baik saja?" Putra mengecup kening Mawar yang basah oleh keringat.


"Aku tidak apa-apa." jawab Mawar sambil mengatur nafasnya.


"Kau lelah? Tidurlah."

__ADS_1


Mawar memang sangat lelah, dia langsung tertidur ketika Putra menyuruhnya untuk tidur. Putra tersenyum puas dan bahagia, akhirnya Mawar mempercayainya.


Terimakasih sayang


°°°°°


Mawar terbangun saat matahari sudah turun.


"Astaga! Yuyun akan menghukumku karena tidak membantunya." Mawar memekik kaget dan segera turun dari ranjang. Namun seketika itu juga wajahnya memerah karena mendapati tubuhnya yang tak memakai apa pun. Putra yang juga sudah bangun langsung mendekap Mawar.


"Kau mau kemana?"


"Aku harus membersihkan diri Putra." jawabnya malu-malu.


"Kau belum mengucapkan selamat bangun padaku." gumam Putra sambil mengecup hidup Mawar.


"Aku tidak tau kalau ada hal seperti itu." dengan manja mawar mencium sekilas bibir Putra.


"Terimakasih sayang, aku mencintaimu"


Wajah mawar semakin merona


°°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa


Rate bintang 5


Like ya guys

__ADS_1


dan jejak komentar


°Terimakasih


__ADS_2