Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 26


__ADS_3

Tidak apa, Mawar. Kalian kan sudah menikah. Kalau percobaan ini mengakibatkan kehamilan, tidak ada yang akan menyalahkanmu.


Putra segera bangkit dari posisi berbaringnya, dengan mantap dia membaringkan punggung Mawar di atas tumpukan bantal. Dada Mawar berdebar kencang saat tubuh besar Putra membayanginya. Pria itu mengunci pandangannya ke mata Mawar dan menyelipkan sebelah tangannya ke tengkuk Mawar sehingga bulu-bulu halus gadis itu meremang. Mawar menyaksikan dengan cemas saat bibir Putra perlahan turun ke wajahnya, sapuan lembut bibir pria itu di atas bibirnya telah menyulut rasa panas yang dengan cepat menjalar ke sekujur tubuhnya. Mawar bisa merasakan sebelah tangan Putra membelai pinggangnya dan terus turun ke pahanya, gadis itu tersentak ketika rasa hangat dari tangan Putra mengusap-usap pahanya. Gaun tidurnya yang pendek tidak menghalangi tangan Putra untuk membelai semakin ke atas hingga menyentuh pinggiran CD Mawar yang berenda.


Gerakan bibir Putra yang lembut berubah menekan dan memaksa bibir Mawar untuk membuka. Mawar mengerang pelan ketika lid*h Putra menyusup masuk dan mengeksplorasi bagian dalam mulutnya. Putra mngeluarkan suara seperti mengeram ketika dia merasakan hangat dan manisnya mulut istrinya. Seumur hidupnya Putra tak pernah mengalami perasaan seperti ini. Mungkin karena dia berusaha sangat keras untuk membahagiakan Mawar, mungkin juga karena dia cukup lama menanti untuk bisa memiliki Mawar seutuhnya. Apa pun itu dia sudah tidak perduli, karena sekarang Putra mengalami letupan-letupan gairah yang sudah lama tidak dia rasakan. Tidak ada yang tahu bahwa jauh di dalam hatinya Putra merindukan saat-saat seperti ini.


"Mawar kau sangat manis," gumam Putra di antara ciumannya.


Mawar terlonjak kaget saat tangan Putra menyelinap ke balik cel*na dalamnya, dengan panik Mawar menggengam pergelangan tangan Putra dan berusaha menariknya.


"Kumohon, Putra jangan."


"Tenang sayang. Tenanglah tidak apa-apa, aku tidak akan menyakitimu." Putra berbisik pelan ditelinga Mawar dan mengecup leher di bawah bagian telinga gadis itu. Mawar tersentak pada sensasi kenikmatan yang baru dia kenal, dia menggerakkan kepalanya kebelakang agar Putra bisa dengan leluasa mengeksplorasi lehernya.


Kedua tangan Mawar mencengkeram erat bahu Putra, gadis itu begitu tegang oleh buaian bibir Putra dilehernya. Dengan sangat hati-hati agar tidak membuat Mawar terkejut, Putra mengerakkan pelan jarinya. Perlahan Mawar merasakan sensasi hangat yang berasal dari daerah titik lemahnya menjalar ke perutnya dan sensasi itu berputar-putar di sana. Kemudian sensasi itu berubah menjadi getaran yang silih berganti.


Mawar mulai limbung, tubuhnya bergetar pada setiap sentakan yang melambungkannya tinggi. Dia tidak ingat lagi pada apa pun, hanya satu nama yang bergema di hatinya, Putra. Gadis itu tidak sadar berteriak nama Putra ketika dia sudah tidak kuat lagi menahan sensasi kenikmatan yang diperkenalkan Putra padanya.


Ketika tubuhnya kembali rileks setelah sensasi pertamanya. Mawar mengerjapkan matanya dan mendapati dirinya berpegangan kuat pada tubuh Putra. Campuran antara bingung dan takut membuat Mawar bergulung ke sudut ranjang sambil menatap Putra.


Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku?


Putra mengerti apa yang tengah Mawar rasakan. Dengan lengan yang kuat Putra meraih tubuh Mawar dan merengkuh gadis itu tanpa menghiraukan penolakan.


"Sssttt......tenanglah. Tidak apa-apa, aku selalu ada untukmu. Percayalah padaku." dengan suara yang lembut Putra berusaha menenangkan Mawar yang tegang dan bingung.


Perlahan tubuh kaku gadis itu melunak seolah luruh dalam pelukan Putra. Mawar melingkarkan lengannya di sekeliling perut Putra. Kehangatan tubuh Putra mulai melingkupi dan rasanya begitu nyaman.


"Aku takut Putra. Apakah seperti itu rasanya? Katakan yang sejujurnya padaku."


Putra melepaskan Mawar dari pelukannya dan menggenggam tangannya erat.


"Sudah kukatakan bukan? Rasanya sedikit berbeda namun kehangatannya hampir mirip."


"Aku takut."

__ADS_1


"Tak apa, kita akan menunggu sampai kau tidak takut lagi."


"Hem."


Dengan pelan Putra membaringkan kembali tubuh Mawar dan menyelimutinya, lalu dia pun ikut berbaring sambil menatap Mawar.


"Tumben memakai baju tidur seperti ini."


"Huh, tidak usah dibahas." jawab Mawar malu.


Malu kalau sampai Putra tau dia seperti itu karena marah. Sangat marah. Mungkin benar yang di katakan pria itu, jika dia cemburu.


"Hmmm, Putra kau sudah mengantuk?" tanya Mawar.


"Belum, kenapa?"


"Bolehkah aku tidur dekatmu?"


"Bolehkah aku memelukmu?" Putra balik bertanya pada Mawar.


"Aku senang kau mau tidur dekatku." senyum Putra


Mawar bergeser dengan perlahan, sementara Putra merentangkan lengan dan menarik Mawar merapat padanya. Mawar merebahkan kepalanya di bahu Putra dengan wajah menghadap leher Putra, sebelah lengannya diletakkan di dada Putra.


Dengan hati bahagia Putra mendekap tubuh Mawar erat dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya.


"Bagaimana rasanya tidur sambil dipeluk seperti ini?" tanga Putra penasaran karena memperhatikan mata Mawar yang terpejam sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Sangat enak."


"Enak? Hanya itu?"


Tawa Mawar pecah.


"Kau benar-benar ingin tahu ya?" tanpa sengaja Mawar mengerakkan jarinya mengusap dada Putra.

__ADS_1


Mawar tidak tahu bahwa gerakan jarinya bisa menyulut kembali gairah Putra.


"Jangan menggodaku Mawar."


Putra mengerang dalam hatinya berusaha menahan letupan gairah yang kembali menguasainya. Putra masih ingin mencium dan menc*mbu Mawar. Bahkan melakukan lebih dari itu. Putra ingin melakukan semua hal yang sering dia mimpikan saat bergulat dengan hasrat karena melihat selimut Mawar yang tersingkap.


"Menggoda bagaimana sih?" tanya Mawar polos.


Sungguh frustasi Putra melihat wajah tanpa dosa istrinya itu. Tanpa menjawab pertanyaan Mawar, Putra langsung membungkam b*b*r Mawar, Mawar yang masih merasakan sensasi tak biasa pada dirinya, seolah pasrah membiarkan Putra melakukan apapun pada dirinya


Perlahan tapi pasti tangan Putra mendarat sempurna di dua benda indah istrinya. Gaun tipis dengan tali spageti itu memudahkan tangan Putra mengekspos daerah indah itu. Puas di bibir istrinya, bibir Putra mulai turun ke leher jenjang Mawar, tangan Putra kembali tidak tinggal diam seolah tidak rela membiarkan organ tersebut kosong, dengan lincah pria itu menarik cel*na dalam tersebut dari mahkotanya.


"Putra stop! Aku takut."


Ancur sudah semuanya. Putra menelan ludahnya dengan susah payah.


"Tidurlah." Putra mengusap rambut Mawar dan mengecup dahi gadis itu sebelum mereka tidur.


Sial!


°°°°


°Sabar netizen jangan tegang ya 🤣🤣🤣


berhubung Saya masih suasana liburan jadi maafkan jika Updatenya sedikit tersendat-sendat guys. Tetap jaga kesehatannya dan tersenyumlah 😊


°Bagi like nya ya biar mawar ga takut lagi sama putra 😜


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa Selalu dukung karya author yang amatir ini guys. . Aku apalah tanpa kalian 😁


Rate Bintang 5 nya aku tunggu ya


Like dan jejak komentar nya juga

__ADS_1


°Terima kasih semua nya ☕


__ADS_2