Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 13: Para polisi payah


__ADS_3

Zian maupun Rani agak panik saat para polisi menggedor pintu. Mereka bingung dengan langkah yang harus diambil.


"Saudara Zian, tolong keluar!" teriak polisi dari luar, tidak sabaran. "Kami akan masuk paksa jika tidak ada jawaban!"


'Huh, berandalan itu menyebalkan!' Zian dengan berat hati menunjukkan diri, meski Rani dan Bibi sudah melarang.


Zian keluar dan menemui para polisi tanpa rasa takut.


'Ugh, apa-apaan dengan bau ini? Seriusan? Para polisi ini?!' Zian seketika menyumbat mulutnya saat berhadapan dengan para polisi yang perutnya terlalu maju——buncit, itu menyiksa kancing seragam yang mereka kenakan.


"Anda dituduh karena sudah melakukan penganiayaan terhadap saudara Agil," seru salah seorang polisi yang meraih tangan Zian untuk membelenggu dengan borgol.


"Penganiayaan?" Zian menaikkan sebelah alis, ia tidak membiarkan tangannya disegel.


'Cih, dia benar-benar seorang pecundang akut!' Zian melihat kehadiran si pecundang yang duduk dengan tenang di dalam mobil polisi. Ia menyeringai melihat Zian bakal ditahan.


"Jangan melawan! Anda harus ikut kami ke kantor polisi!" Zian tidak bisa mengelak, ia tidak bisa melawan para polisi.


Bibi dan Rani keluar saat Zian akan dimasuki ke dalam mobil.


"Pak polisi, pria ini tidak bersalah. Dia hanya membela kami, jadi dia terpaksa melakukan itu!" bela Bibi, ia memohon pada polisi yang diketahui adalah orang yang memiliki hubungan dengan si berandalan pecundang.


"Tidak bisa, saudara Zian telah menyerang Agil. Dia harus diproses secara hukum!" tegas si polisi.


"Tapi, kak Zian tidak akan menyerang pria bajin9an itu jika dia tidak mencari gara-gara duluan!" Rani bersungut-sungut, ia membentak para polisi.


"Kalian punya bukti?" tantang si polisi. Tentu Bibi dan Rani menjadi terbungkam.


"Sepertinya sudah cukup, kalian bisa menempuh jalur hukum dengan menyewa pengacara atau sejenisnya!"


Zian dimasukkan paksa ke dalam mobil, tapi ia meminta untuk berbicara sebentar pada Bibi dan Rani.


"Kalian tidak perlu cemas! Aku akan baik-baik saja. Kalian pergi lah ke rumahku. Masih ingatkah jalannya, 'kan, Ra?" pesan Zian dengan senyuman.


"Tapi, tapi——"


"Aku pasti bebas karena aku tidak bersalah!" Zian menatap Rani dengan tatapan penuh keyakinan.


"Sudah! Ayo cepat masuk!"


Zian patuh pada para polisi yang kentara tidak kompeten itu.

__ADS_1


"Apa itu ajaran dari kepercayaan kalian? Melindungi kriminal! Keluarga martir yang hina!" Salah seorang polisi polisi meludah pada Bibi dan Rani.


*Buagh!


Menyaksikan sendiri tepat di hadapannya, mengaktifkan reflek Zian untuk menghajar polisi yang sudah menghina keluarga sahabat yang dianggap kerabat sendiri. Polisi itu terhantam oleh sikut pada bagian mulut, ia terhuyung dan beberapa giginya langsung rontok. Ia merintih kesakitan.


"Aaaaakh! D-dia harus dihukum seberat-beratnya! D-dia berani menyerang aparat keamanan?!"


"Ya, aku bahkan berani membunuhmu jika menghina mereka sekali lagi!" ucap Zian dingin, terasa mengintimidasi. Para polisi yang sebelumnya menahan Zian menjadi mati kutu.


"Kalian pikir borgol mainan ini bisa menahanku?" Borgol yang menyegel tangan Zian langsung hancur saat ia meregangkan tangannya.


"Kalian beruntung berlindung di balik kata 'Lembaga pemerintahan'!" Zian masuk ke dalam mobil dengan sendirinya saat orang-orang masih mematung. Ia beda mobil dengan si berandalan bernama Agil.


"Tapi, asal tau saja, ya? Kalian akan menyesal sudah melayangkan tuduhan palsu padaku!" Zian menyeringai jahat di dalam mobil. Pria itu masih punya orang-orang di militer yang bisa membantunya lolos dari masalah ini.


Zian dibawa ke kantor polisi, ia diberikan borgol tipe terkuat agar kejadian tadi tidak terulang. Namun, mantan tentara itu masih merasa bisa menghancurkannya.


'Hmm .... borgol mainan lagi? Mereka sudah cukup waspada, ponselku diambil. Huh, memang terpaksa membuat keributan!' Zian memandang ruangan di sekitarnya.


"Hei, kalian! Dia harus dihukum mati! Kriminal itu sangat berbahaya, dia seorang psikopat! Orang seperti itu tidak boleh berkeliaran bebas!" teriak Agil yang melihat sekilas senyuman jahat dari Zian. Ia memang satu ruangan dengan Zian.


*Brakkk!


"Huh, hanya tampilan luarnya yang sangar! Dia pengecut!" Zian lalu melepaskan tangannya dari jeratan borgol.


"Jangan bergerak!" Polisi yang juga ada di ruangan itu menodongkan pistol pada Zian. Ia gemetaran saat menggenggam pistolnya.


Zian tidak menanggapi dan hanya fokus mencari ponsel milik Agil di saku baju atau celananya.


"Berhenti!! Atau aku akan menembak?!"


"Hmm? Silahkan saja!" jawab Zian dengan enteng.


Zian akhirnya menemukan ponsel milik Agil. Ia kemudian berusaha memasukkan nomor kenalannya.


"Berhenti berge——"


Zian melemparkan ponsel yang ia genggam untuk menyumbat mulut si polisi yang berisik. Polisi itu seketika tak sadarkan diri karena syok berat.


"Heh? Kenapa para polisi ini tidak ada yang kompeten. Mereka tidak layak menjadi polisi! Huh, ini yang namanya nepotisme?!"

__ADS_1


Zian mengambil ponselnya lagi dan langsung menghubungi kenalannya di militer. Ia bernama Giran, pemimpin pasukan yang Zian tempati. Mereka sudah kenal dekat dan lama.


Setelah mengubungi beberapa kali, Giran akhirnya menerima panggilan dari Zian.


"Siapa?" tanya dari seberang telepon.


"Ini aku Zian. Maaf mengubungimu tiba-tiba, kau pasti sibuk!? Tapi, aku perlu bantuanmu!" ucap Zian tidak banyak ambil basa-basi.


"Oh, Zian. Apa yang bisa kubantu? Kau baik-baik saja, 'kan?"


"Ya, aku baik-baik saja. Tolong dengarkan ceritaku ...."


Ziaj mulai menceritakan semua kejadiannya pada Giran.


".... kau bisa membantuku?"


"Ah, kau mengalami tuduhan palsu. Kasus seperti ini memang tidak bisa dibiarkan! Baiklah, aku akan ke sana untuk membantumu!"


"Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih. Kasus penyalahgunaan kekuasaan seperti ini harus diberantas. Apalagi mereka mengusik keluarganya Raden."


Giran kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Seseorang kemudian datang ke ruangan yang ditempati oleh Zian, ia adalah kerabat Agil——wakil kepala polisi. Ia terkejut dengan kondisi ruangan itu. Maka dari itu, ia membawa banyak personil untuk membawa Zian menghadap ke kepala polisi.


"Masuk! Kau pasti akan menerima hukuman yang setimpal!"


Zian sampai di ruangan kepala polisi. Ia duduk di hadapan seorang pria dengan badan kekar.


'Ah, ini baru polisi. Yang lain cuma polisi gadungan!' pikir Zian saat pertama kali melihatnya.


"Kau masih muda ternyata! Hmm ... apa yang sudah dilakukannya? Apa benar dia mengerang keponakanmu?" tanya kepala polisi kepada wakilnya.


Pamannya Agil itu mengangguk, ia menceritakan semua kejadiannya dengan tambahan bumbu karangan. Seolah-olah Zian yang bersalah.


"Hei, aku tidak pernah melakukan itu! Aku hanya membela diri. Keponakanmu yang sudah membuat ulah!" marah Zian.


"Diam! Kau tidak punya hak untuk bicara!" Zian sekali lagi ditodong oleh pistol.


"Sebaiknya jangan ada keributan di ruangan ini!" sela kepala polisi.

__ADS_1


Wakil kepala polisi langsung mati kutu, ia menyimpan kembali pistolnya.


"Jika kalian tidak percaya, kalian bisa mengetes diriku dengan alat pendeteksi kebohongan atau sejenisnya! Semua yang dikatakan oleh orang yang disebut 'Wakil Kepala Polisi' adalah kebohongan!" ucap Zian.


__ADS_2