Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 28


__ADS_3

Zanna awalnya cuma diam, ia tidak terlalu peduli dengan jalannya rapat itu. Namun, ia sudah tidak tahan ketika Daniel selalu memikirkan Zian, seolah-olah ia memang salah, padahal belum tentu.


Zanna menunduk, menggertakan giginya kuat-kuat. Yah, setelah itu menghembuskan nafas. Lega. Amarahnya berhasil diredam.


Zanna mendongak lagi, menatap semua peserta rapat, Daniel yang terakhir.


"Ayah minta saranku, 'kan?" Ia menjeda, terus mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tas yang diletakkan di atas meja. "Aku sudah mengusulkan ide ini dari kemarin, tapi ayah selalu menolaknya." Zanna sedikit bersungut-sungut.


Zanna benar-benar kesal dengan Daniel, pasalnya ia yang sudah mempengaruhi agar tidak mendengar saran dari dirinya. Wanita itu jelas melirik Daniel tajam.


"Pria itu jelas tidak bisa menunjukan kelegaan usahanya. Kita juga tidak tahu, bahan berbahaya apa yang telah dia gunakan untuk menghasilkan sayuran semacam itu." Daniel membantah. "Keputusan ini sudah paling tepat. Selain sayuran miliknya yang tidak jelas, ada sayuran lain yang memiliki kualitas serupa, harga persis, tapi sudah terbukti legal. Sayuran X-tra X-tra jauh lebih baik."


"Dia teman SMP ku, dia orang yang baik dan jujur. Jadi, tidak akan ada bahayanya sama sekali. Aku sudah memakan sayurannya beberapa kali, buktinya aku tidak kenapa-napa!"


"Apa? Kau memakan sesuatu yang belum jelas?" Ayah Zanna menyela. Ia menatap Zanna heran. "Kau ceroboh sekali!"


"Buktinya aku sampai saat ini masih sehat-sehat saja. Aku juga tidak mempunyai keluhan apa-apa," bantah Zanna. Ia muak jika Zian selalu dijelek-jelekkan dan difitnah yang tidak-tidak.


"Karena pria itu tidak memberikan sesuatu yang membuat kesehatan menurun. Tapi, efeknya adalah cuci otak——"


"DANIEL!" Zanna berdiri, seketika menggebrak meja, yang mengejutkan semua orang. Perempuan itu mudah menarik perhatian tiap peserta rapat. Hilang sudah image perempuan yang kalem dan pendiam.


"Ckckck ...." Zanna berdecak. Tidak berselang lama, ponselnya berdering. Ia jadi memiliki alibi untuk keluar ruangan rapat untuk mengangkat telepon.


Sang ayah cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya. "Daniel, terus awasi Zanna. Jangan sampai dia dijerumuskan oleh pria itu!"


"Tanpa paman perintah pun, aku akan melaksanakannya."


Rapat kembali dilanjutkan tanpa Zanna. Daniel kembali melanjutkan pengajuan proposalnya tentang menjalin kontrak dengan X-tra X-tra. Menurut Daniel, anak perusahaan dari Xenian food itu terlihat menjanjikan, meski masih baru diluncurkan.

__ADS_1


Zian cuma bisa tertawa jika ia melihat jalannya rapat itu. Sayuran yang sebelumnya ditolak mentah-mentah, nyatanya sedang diperjuangkan. Padahal cuma ganti kulit luar, ia cuma menggunakan nama Xenian food saja.


Daniel melanjutkan presentasinya, ia memaparkan segala hal yang diperlukan untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Segala kemungkinan rugi dan untung telah dijelaskan secara rinci.


Daniel sedang cari muka di hadapan ayahnya Zanna. Ia harus terus membuat kesan yang baik terhadap ayah dari perempuan yang ingin ia miliki.


"Untuk masalah harga. Kita bisa meminta keringanan, saya punya orang dalam yang bisa mengurus itu. Jika ini terealisasikan, kerugian sebelumnya bisa ditutupi, dan kita akan untung berkali-kali lipat. Sekian dari saya, apakah ada sesuatu yang ingin ditanyakan, bila kurang jelas?"


Kesan ayahnya Zanna memang meningkat. Ia masuk dalam tahap sangat mempercayai Daniel, hingga keputusan-keputusan penting bisa diserahkan padanya.


"Kau sangat brilian, Daniel. Dengan ini sudah cukup, kita bisa memulai plan demi plan!" ucap ayahnya Zanna, memberikan tepuk tangan kecil.


Daniel mengangguk kecil. Ia dalam hatinya merasa puas sudah berhasil cari muka.


'Pria itu tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekati Zanna,' batin Daniel.


Di saat detik-detik meeting hendak ditutup, yang menghasilkan proposal dari Daniel disetujui. Zanna mendadak masuk kembali ke ruangan. Ia langsung duduk dan mendadak bertanya pada Daniel.


Para peserta meeting telah raib, hampir semuanya. Tinggal tersisa Daniel dan ayahnya Zanna. Mereka berencana membahas masalah pribadi.


Daniel yang mendengar pertanyaan Zanna, merasa ingin terkekeh. Baginya itu adalah pertanyaan konyol.


"Pertanyaan macam apa itu?" Daniel sedikit cekikikan.


Zanna tetap tenang, ia malah tersenyum tipis, dan terasa penuh kemenangan.


"Kenapa kita perlu menolak sayurannya Zian?


Daniel berhenti tertawa, ia menatap Zanna dengan bingung. Tatapan yang begitu meremehkan.

__ADS_1


"Karena masih ilegal. Aku sudah mengatakan ini belasan kali," remeh Daniel.


"Tapi bagaimana kalau sudah legal, dia sudah mengurus persyaratannya?"


Pertanyaan itu sedikit mengendurkan senyuman Daniel. "Ya itu tidak mungkin. Sesuatu semacam itu tidak bisa diselamatkan dalam waktu satu atau dua hari."


"Nyatanya ada."


"Heh? Siapa?"


"Sayurannya Zian. Namanya adalah X-tra X-tra, anak perusahaan Xenian food."


Ayahnya Zanna terdiam, Daniel terlihat syok. Mereka sangat meragukan apa yang telah didengarnya. Itu terlalu mustahil.


"Heh? Apa yang kau katakan, Zanna? Kau sudah gila apa? Mana mungkin pria seperti itu mampu melakukannya? X-tra X-tra adalah anak perusahaan Xenian food." Daniel menolak keras kenyataan itu.


"Huh, Zian sendiri yang bilang. Kalau tidak percaya. Kalian bisa langsung hubungi manager, CEO, direktur, atau apalah dari perusahaan itu." Zanna menantang Daniel dan ayahnya.


"Baiklah, memang cuma itu cara untuk menginformasi," ucap ayahnya Zanna yang hendak menghubungi pihak yang bersangkutan.


Daniel mencegah selagi bisa. Ia benar-benar takut menjadi nyata, mau di mana mukanya nanti ditaruh.


"Jangan paman! Kita tidak boleh mengganggu mereka hanya untuk memastikan bualan Zanna. Apakah paman tidak takut integritas kita turun?"


"Kenapa turun, Daniel? Mereka tidak akan mau berkerja sama, karena kau sudah menghina Zian." Zanna tersenyum lebar.


Ayahnya Zanna pun akhirnya menghubungi pihak Xenian food dan bertanya pasal Zian. Ekspresi yang ditunjukkan oleh ayahnya Zanna pun mengeras setelah mengakhiri panggilanku. Ia telah mengetahui kebenarannya.


"Daniel, apa yang kau lakukan? Kau benar-benar bodoh, sikap semena-mena dan merasa lebih baik sudah menjerumuskan usaha kita. Mereka tidak akan mau berkerja sama karena dirimu," murka ayahnya Zanna.

__ADS_1


Daniel pun syok, ia jelas terkena mental. Ia diam saja dan melirik Zanna. Pria itu cuma bisa terduduk lemas di kursinya.


"Andai saja Zanna tidak berteman dengan Zian. Hubungan kerja sama itu mustahil."


__ADS_2