Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 30


__ADS_3

Pagi hari selanjutnya ....


Zian bangun dengan suasana hati yang puas, ia merasa senang. Mimpinya semalam bagus serta kejadian yang menarik kemarin. Pokoknya ia bangun tanpa beban.


"Humm, yah ... hari ini? Apa yang mau kulakukan?" gumam Zian yang maha dalam posisi berbaring, ia menatap plafon berwarna putih.


Rutinitas hariannya adalah berkebun, tapi setelah melakukannya akan ada banyak waktu luang. Perbandingan waktu di dalam dimensi lukisan dan dunia nyata adalah 1:20. Zian mungkin hanya menghabiskan waktu paling lama dua jam di dunia nyata, tapi ia bekerja seharian di dalam lukisan.


Zian mengintip dulu ke dalam dimensi lukisan. Semuanya tampak baik, ia tidak buru-buru ke sana. Pria itu pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi.


Sarapan pagi yang sederhana, membuat pancake dan ditemani dengan susu. Ia menikmatinya di pinggir kolam. Yah, seperti orang kaya yang berkelas.


"Hmmm? Apa yang akan kulakukan selanjutnya? Ini masih belum cukup, aku harus mengembangkan semua usaha itu," gumam Zian sambil menyantap pancake yang disiram madu. Ia diam memandang kolam sebentar dan mendadak terpikir sesuatu.


"Mungkin bisa dicoba? Kurasa masih ada rahasia dari lukisan itu." Zian tersenyum lebar. Ia bergegas menyudahi sarapannya. Ia harus segera melakukan rutinitas harian, yaitu mengurus tanaman yang ia tanam.


Zian segera masuk ke dalam dimensi lukisan setelah mencuci alat makan. Agenda Zian kali ini adalah menanam sayuran dan tanaman sukulen, masih ada banyak ruang. Toh bisa diperluas sesuka hati.


"Huh, akhirnya beres. Saatnya untuk memperluas kolam."


Zian mengambil skop dan cangkul tanpa harus keluar dari dari sana. Ia cukup membayangkan dengan pikiran, maka barang yang hendak diambil sudah berada di genggaman tangan. Zian berencana untuk memelihara ikan dan udang di kolam itu.


"Woah, beres juga," lega Zian mengelap keringat di dahi. Ia begitu puas melihat hasil kerjanya. Kolam air yang dulunya begitu kecil sudah seluas tambak ikan di daerah pesisir.


"Hmm, ternyata airnya terus keluar dengan sendirinya, seperti mata air. Tapi, mengikuti bentuk wadahnya."


Kolam itu memang mata air, mengalirkan sumber air yang menjadi sungai kecil empat penjuru. Membelah tempat itu menjadi empat bagian. Kolam tanpa ada riak, meski mengeluarkan ratusan kubik air.


"Eh ya? Kemana muara air ini? Apakah diputar balik, kembali ke sumbernya?" Jika memikirkan itu, kepala Zian hanya akan pusing.

__ADS_1


Zian selesai dengan kolamnya, ia akhirnya keluar dari dimensi lukisan. Pria itu sekarang berada di kamar, mengambil laptop terus mengecek toko online yang sudah tidak memiliki stok barang. Zian berencana memberikan pemberitahuan bahwa akan segera mengisi kembali tokonya.


"Oke, saatnya berbelanja."


Zian berencana untuk membeli bibit ikan yang hendak dikembangkan. Ia segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat tujuan.


Zian mengecek uang cash yang dimiliki, ternyata cukup untuk membeli semua hal yang ia butuhkan. Ia tidak perlu lagi mengambil uang tambahan di bank. Si mantan tentara bergegas menuju ke toko yang menjual bibit-bibit ikan tertentu.


"Ikan apa yang sebaiknya dibeli?" pikir Zian setelah tiba di lokasi. Ia langsung bergerak untuk melihat-lihat semua jenis ikan yang ada.


Setelah berkeliling sebentar, Zian kesulitan memilih ikan. Jadi, pria itu bertanya pada orang yang bertanggungjawab.


"Oh, mari saya tunjukkan beberapa jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan."


Zian pun mengikuti penjaga toko itu. Ia ditujukan beberapa ikan, yah kesemua air tawar. Seperti lele, nila, gurame, dan lain-lain. Zian juga diberitahu kemungkinan untung dan rugi untuk membudidayakan ikannya.


Zian telah mengetahui dasaran dari membudidayakan ikan. Ia akhirnya memilih tiga jenis ikan saja.


Zian mengangguk dan berterima kasih. Setelah melakukan pembayaran, pria itu ingin segera kembali. Tapi, Zian malah diperlihatkan cekcok beberapa karyawan. Mereka tampak gelisah melihat ikan berwarna merah di salah satu akuarium.


Sang bos pun melihat gerak-gerik aneh dari para anak buahnya. Setelah melayani Zian, ia menghampiri keributan itu dan bertanya.


"Ada apa? Kenapa kalian terlihat panik?"


"Begini Boss, ikan arwana ini sakit dan sepertinya tidak akan bisa bertahan?!" beritahu salah satu karyawan.


Muka si bos pun seketika memucat. Ia memerhatikan akuarium yang berisi ikan arwana merah yang cantik.


"Duh, kenapa ikan ini bisa sakit? Kita baru mengimpor ikan ini, awalnya tidak ada apa-apa."

__ADS_1


"Maaf, bos. Kami juga tidak tau kenapa kondisi ikan ini bisa memburuk."


"Aku tidak menyalahkan kalian. Inilah yang namanya hari apes tidak ada di kalender, tapi kita akan rugi besar. Ikan itu mahal, bagaimana cara menutup kerugian ini!"


"Kami tidak keberatan dipotong gajinya. Ini mungkin kelalaian kami. Atau tidak, bos pecat saja——"


"Bukan seperti itu! Tidak ada yang bakal dipecat atau pemotongan gaji."


Zian perlahan mendekati mereka. Pemilik usaha bibit ikan ini sangat baik, ia begitu memikirkan kesejahteraan karyawannya. Perlu diapresiasi, mereka tidak boleh merugi terlalu banyak.


"Um, aku bisa saja membeli ikan ini dengan harga murah. Yah, itu jika diizinkan?!" ucap Zian tiba-tiba, mengejutkan mereka. Deklarasinya sungguh tidak diduga.


"T-tuan pelanggan, Anda serius? Untuk apa membeli ikan yang sakit dan bakal mati?" bingung si Boss. "Maaf, ikannya tidak dijual."


"Aku ingin memasaknya!"


"Hah?" Para karyawan menganga. Begitu juga dengan bosnya.


"A-anda serius? Ikan arwana adalah ikan hias, harganya sangat mahal. Anda ingin memasaknya? Itu aneh sekali!" Si bos menatap Zian dengan aneh.


Para karyawannya membujuk untuk menjuarai saja pada Zian. Meski dijual dengan harga murah, agar mereka tidak terlalu merugi. Setelah perdebatan kecil. Sebuah keputusan lahir.


"Huh, saya tidak mengerti tujuan Anda. Tapi, ini adalah dunia usaha, kenapa saya ingin menjadi idealis dan malah ingin merugi terlalu banyak. Baiklah, tuan pelanggan bisa membelinya."


"Yap, keputusan bagus."


Si bos mengangguk, ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk menyuap ikan arwana itu. Sedangkan ia pergi untuk menenangkan diri.


Saat mereka pergi dari akuarium yang berisi ikan arwana sakit itu. Zian diam-diam merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil. Itu adalah cairan larutan kelopak bunga lima warna.

__ADS_1


"Tenang saja, ikan besar. Kau akan segera pulih!" ucap Zian meneteskan cairan itu ke dalam akuarium tanpa sepengetahuan orang-orang.


__ADS_2