
Zian mengeluarkan pisau yang menjadi kenangan terakhirnya sebagai seorang tentara. Itu adalah barang berharga yang digunakannya untuk mengalahkan kelompok separatis di perbatasan. Waktu itu adalah hidup dan mati, ia dan kelompoknya diujung tanduk ketika mereka kekurangan amunisi. Namun, Zian dengan gagah berani maju dengan amunisi tersisa.
Itu adalah tindakan nekat, tapi Zian berhasil melewati masa-masa sulit itu. Ia dan kelompoknya berhasil bertahan sampai bala bantuan datang.
Yah, kenangan yang bakal sulit dilupakan. Itu adalah masa jaya dari seorang Zian Zaidan, sampai sebuah penyakit membuatnya berhenti.
Untuk memulai setek, Zian memilih anggrek yang paling bagus. Ia kemudian memotong-motongnya dan memasukkannya ke dalam toples yang berisi 1/4 air dari kolam. Sisanya tinggal menunggu beberapa minggu sampai muncul akar pada batang anggrek itu.
Jika berada di dalam lukisan, seharusnya Zian hanya perlu menunggu 2-3 hari hingga akar cukup untuk dipindahkan ke media tanam lain.
"Akhirnya selesai," ucap Zian mengelap keringat yang ada di pelipis. Ia begitu kelelahan setelah mengerjakan tugas itu sendiri.
Ia lantas menuju kolam dan meminum airnya untuk memulihkan stamina. Ia juga sempat untuk menyirami anggrek-anggrek hitam papua yang lain.
"Yap, tumbuh dengan subur!" Zian merasa bahagia dengan budidaya anggreknya. Itu luar biasa, ia tidak sabar untuk mendapatkan pundi-pundi uang dari sana.
"Aku harus berterima kasih pada Kakek, pada leluhurku. Mereka telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga!"
Zian kemudian mendadak melihat bunga dengan tiga warna kelopak. Bunga fantasi itu tumbuh subur di samping kolam. Ia memang mengagumi bunga itu.
*Brukk!
"Akhhh ... kakiku mendadak lemas!" erang Zian setelah terjerembab jatuh. Ia merasa sangat lemas. Dalam hatinya, ia merasa sangat sedih jika kematiannya sudah dekat. Padahal ada beberapa hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu.
"Tidak! Jangan! Aku harus bertahan untuk sebentar saja." Zian mulai mencoba berdiri lagi. Ia berusaha mati-matian, melawan penyakitnya yang menyebalkan.
Namun, ia memang harus mengaku kalah pada Lou
__ADS_1
Gehrig’s Disease. Zian ambruk lagi dan hampir menindih bunga dengan tiga warna kelopak. Namun, itu nyaris saja. Kepalanya Zian menyenggol kelopak bunga itu hingga rontok.
"Oh, tidak! Bagaimana ini? Eh? Kenapa tidak seperti sebelumnya? Harusnya ada pelindungnya!?"
Alih-alih memikirkan kondisi tubuhnya setelah ambruk, ia mementingkan keadaan bunga itu. Si mantan tentara memandang kosong ke arah bunga. Zian tentu tidak tahu harus berbuat apa, ditambah juga kebingungannya.
"Hmm ... apakah bunga ini tidak memiliki semacam khasiat? Air kolam dan tanah hitam, itu memiliki khasiat masing-masing. Jadi, bagaimana dengan bunga ini?" Zian tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh ketiga kelopak yang telah rontok.
"Aku harus mencari tau khasiat bunga ini?"
Saat telunjuknya bersentuhan dengan kelopak bewarna kuning, ia tidak merasakan apa-apa. Zian mengangkat dan memerhatikan lebih dekat.
"Apa, ya? Aku tidak merasakan apa——"
Zian belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kedua matanya melebar sebab terkejut pada fenomena yang terjadi pada kelopak kuning. Itu bersinar dan memancarkan cahaya kuning yang indah hingga beberapa detik kemudian cahaya itu menguap menjadi butiran-butiran kecil, bersama kelopaknya.
"Huh? Menghilang?" heran Zian setelah sadar bila kelopak kuning hilang ikut dengan cahaya.
"Apa tadi?" gumam Zian menatap telapak tangannya. Ia reflek meraba beberapa bagian tubuhnya. Ia merasa aneh saja.
"Apa khasiat dari kelopak warna kuning?"
Zian masih belum sadar.
Ia menatap dua kelopak yang tersisa, yaitu warna biru dan merah. Zian lantas menyentuhnya dan merasakan sensasi serupa. Namun, bedanya ia merasakan sensasi berbeda setelahnya.
"Entah kenapa rasa lelah dan lemasku mendadak lenyap?!"
__ADS_1
Ya, kakinya tidak lemas lagi. Zian bahkan mencoba lompat dan berlari di tempat untuk menguji perasaan anehnya itu. Setelah melakukannya hampir setengah jam, ia tidak mengalami kelelahan yang biasa dialami.
"Ada apa ini? Kenapa aku masih sangat bugar? Aku bahkan tidak berkeringat!" ucap Zian kebingungan.
Zian sebetulnya sudah sangat sumringah, tapi ia menahannya lebih dulu. Harus dilakukan pembuktian atas semua hal yang terpapar sekarang.
"Aku harus mengetesnya lagi!"
Zian kemudian mencoba melakukan work out seperti push-up dan sit-up. Ia begitu bersemangat dan tidak percaya bisa melakukan olahraga. Kegiatan yang telah hilang ketika ia didapuk oleh penyakit mematikan itu.
"I-ini menakjubkan!" nyengir Zian sambil melakukan diamond push-up.
Setelah berselang beberapa waktu, Zian akhirnya yakin dengan spekulasinya. Ia dengan percaya diri bisa mengatakan ....
"Aku sembuh dari penyakit menyebalkan itu! Aku berhasil sembuh!!!" teriak Zian sekencang-kencangnya. Ia tidak kuasa menahan haru, air matanya keluar bersamaan dengan keringat yang mengalir dari pipi.
Di saat paling penting dan membahagiakan dalam hidupnya. Zian mendadak ingat pada ibunya Raden. Kebahagiaannya perlahan luntur.
"Ah, bodoh! Kelopak bunga itu pasti bisa menyembuhkan penyakit. Kenapa aku menggunakan semuanya?" geram Zian memukul-mukul tanah hitam. Ia kentara sangat menyesal dan tak berpikir panjang dengan tindakannya.
"Bagaimana ini? Apakah bunga ini masih bisa mekar?" bingung Zian melihat bunga yang telah hilang kelopaknya.
Di sela-sela meratapi kebodohan, perut Zian terasa melilit dan mengadakan mual.
"Ada apa ini? Perutku rasanya sangat ...."
*Huek!
__ADS_1
Zian muntah, tapi yang ia keluarkan bukan makan siangnya, melainkan gumpalan berwarna hitam.
"Uhuk ... uhuk ... apa ini?"