
Zian kini dalam perjalanan ke rumahnya Raden dengan menumpang taksi online.
"Pak, agak sedikit ngebut, ya! Saya lumayan terburu-buru. Kalau bisa ambil jalan tikus atau apalah. Saya akan bayar lebih!" pinta Zian tak sabaran. Ia ingin cepat-cepat sampai di tujuan. Penyembuh ibunya Raden adalah hal mutlak.
"Oke, mas." Si driver setuju. Mobil pun mulai bergerak lebih cepat dan keluar dari jalan utama.
Zian mengangguk, ia menggenggam erat tas yang ia pangku. Isi tas itu lebih berharga dari apa pun. Meski ia ditawari uang triliunan, ia tak akan mau untuk menjualnya.
Namun, di saat taksi yang ditumpangi Zian melewati sebuah gang, ada seorang pria tua yang terbujur kaku di pinggir jalan.
'Eh? Kenapa kakek itu?' pikir Zian.
Zian adalah mantan tentara, ia tentunya memiliki jiwa kepahlawanan dan tidak mau membiarkan seseorang dalam kesulitan.
Ia lantas menyuruh sang driver untuk berhenti.
"Pak, tolong berhenti!" ucap Zian tiba-tiba.
"Lho, kenapa? Katanya buru-buru?" bingung si driver atas permintaan Zian. Namun, ia segera melaksanakan perintah customer-nya.
"Tolong, tunggu sebentar!" Zian buru-buru keluar.
Driver lantas bingung, ia memerhatikan Zian yang menuju ke arah seorang kakek-kakek yang terkapar di pinggir jalan.
"Hmm, pria itu? Ternyata masih ada orang seperti dia, ya, di dunia ini?!" ia tersenyum tanpa sadar melihat Zian yang mencoba menolong seorang yang disangka tunawisma, di saat orang-orang hanya bersikap abai, pura-pura tidak melihat.
Zian menghampiri si pria tua yang terkapar di pinggir jalan dan membantunya dengan segera. Ia mengecek kondisi nafasnya.
"Nafasnya sangat lemah. Apa yang sebenarnya terjadi?" heran Zian, ia memerhatikan sekitar, hendak bertanya pada seseorang.
"Umm ... Pak, bisa berikan waktunya sebentar?" tanyanya pada seorang pejalan kaki.
Pria yang ditanyai Zian berhenti, ia memasang earphone di telinga dan bergegas melepaskannya.
"Ada yang bisa aku bantu?" ia menatap ke arah pria tua yang lemah.
"Apa kau tinggal dia sini dan mengenal orang malang ini?" tanya Zian dengan sedikit panik.
"Aku bukan orang dekat sini, aku tidak mengenal orang itu. Tapi, kita mungkin bisa mengetahuinya lewat Dinas kependudukan?!" saran pejalan kaki itu.
"Itu ide bagus. Tapi, sebelum itu ... bisakah kau menghubungi ambulans. Kondisinya sedikit mengkhawatirkan."
"Tidak masalah." Pejalan kaki itu menuruti permintaan Zian, terus menggunakan ponselnya untuk menghubungi pihak rumah sakit.
"Terima kasih." Zian kemudian terfokus pada orang lemah di hadapannya. Ia kepikiran untuk menggunakan jus yang hendak diberikan pada ibunya Raden.
__ADS_1
Siapa tahu bisa mengatasi masalah si pria tua.
'Yah, ini layak dicoba,' batin Zian membuka tas ranselnya untuk mengambil jus mangga.
Tak perlu basa-basi, ia langsung meminumkannya pada orang itu.
*Glup!
Jus mangganya diteguk sekali, Zian langsung menyimpan lagi. Ia takut kebablasan lagi sehingga tidak menyisakan untuk jatah Bibi.
'Harusnya keadaan pria tua ini lekas membaik!?'
"Aku sudah menghubungi ambulans, mereka harusnya tiba sebentar lagi," beritahu si pejalan kaki.
Zian lantas mengangguk, "terima kasih."
"Kalau begitu, bolehkah aku pergi. Aku sebetulnya agak sibuk."
"Ya, silahkan. Maaf, sudah merepotkanmu."
Ia hendak pergi, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat pria lanjut usia yang terkapar di jalan mendadak bangun.
"Apa yang terjadi padaku? Di mana ini?" tanya si kakek yang kebingungan menatap sekitarnya.
Si pejalan kaki dan orang-orang di jalanan, mereka tidak menyangka orang yang kelihatan hampir mati ternyata bisa bangun kembali.
Orang tua itu agak bingung pada awalnya, tapi langsung bisa sadar bahwa orang baik yang telah menyelamatkannya adalah Zian. Ia langsung menjabat tangan si mantan tentara dan berucap penuh syukur.
"Terima kasih anak muda, jasamu tidak pernah kulupakan. Boleh aku mempunyai nomor kontakmu?" pinta si kakek.
"Umm, nomor kontak, ya?" Zian berpikir sebentar. "Kurasa tidak perlu, kita mungkin tidak akan bertemu lagi." Ia menolak.
"Hmm ... jika kau tidak mau memberikannya. Tolong terima ini!" si kakek menyerahkan sebuah kartu nama. "Simpan saja. Hubungi bila memerlukan bantuan."
Kartu nama itu digenggamkan paksa, Zian mau tak mau harus menerimanya.
"Huh, oke. Aku terima!" Zian lalu melirik kartu nama itu.
'Hmm? Seorang dosen? Aku tidak menyangkanya sama sekali. Apalagi dia adalah dosen di kampus terkenal,' batin Zian. Ia selanjutnya menyimpan kartu nama itu.
Tidak berselang lama, ambulan yang sebelumnya dihubungi telah sampai. Si kakek tetap harus dibawa ke rumah sakit, meskipun kelihatannya ia telah terbebas dari keluhannya. Ia harus menjalani beberapa pemeriksaan.
"Terima kasih, anak muda. Kalau boleh tau, siapa namamu?"
"Zian Zaidan."
__ADS_1
"Aku akan mengingatnya," ucap si pria tua yang ternyata bekerja sebagai dosen sebelum masuk ke ambulans.
Orang-orang yang di sebelumnya tertarik pada keajaiban yang diberikan Zian berangsur-angsur berkurang. Orang tua yang mereka kira tidak akan bertahan rupanya sanggup sehat kembali.
Zian pun kembali ke taksi online yang setia menunggunya.
"Maaf, terlalu lama. Kita bisa pergi sekarang!" pinta Zian.
Driver itu mengangguk, "Oke."
Sementara itu, di rumah sakit.
Beberapa orang berpakaian rapi, para aparatur pemerintah nampak berdiri di depan rumah sakit. Di sana ada seorang yang mengenakan jas putih, ia adalah dokter. Si dokter dan para pejabat itu sedang menunggu kedatangan tamu yang penting, orang nomor satu di kota mereka.
Setelah hampir setengah jam berdiri tanpa istirahat. Mobil walikota akhirnya terlihat memasuki area rumah sakit dengan satu mobil pengawal.
"Ah, akhirnya walikota datang!" ucap salah satu dari mereka lega, kerja keras berdiri hampir setengah jam terbayar.
Mobil yang ditumpangi walikota jelas mahal, itu keluaran terbaru yang didesain khusus dengan keamanan tinggi.
Mobil berwarna merah itu berhenti di hadapan orang-orang yang setia menunggunya. Seorang bodyguard turun lebih dulu untuk membukakan pintu.
Lalu, keluar lah seorang wanita dengan umur kira-kira 45 tahun. Meski begitu, ia nampak awet muda, lekuk tubuhnya indah dengan pakaian aparatur pemerintah.
Wajah wanita itu nampak cemas. Dokter satu-satunya di sana maju untuk membatik penjelasan.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan ayah saya?" tanya walikota dengan cemas.
"Ayah Anda mengalami serangan jantung. Tapi, beliau dalam keadaan baik-baik saja. Ia kini dalam pemeriksaan," beritahu dokter itu, yang merupakan kepala rumah sakit.
"Benarkah? Jika keadaannya baik-baik saja, bolehkah saya melihatnya?" mohonnya.
Si dokter mengangguk, "tentu saja. Mari ikuti saya."
Dokter itu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh para pejabat dan walikota.
Setelah berulang beberapa saat, mereka sampai di ruangan yang dimaksud.
"Beliau ada di dalam. Seharusnya pemeriksaaan sudah selesai," ucap dokter itu, ia membuka pintu ruangan.
"Ah, Putri tercintaku? Kau menjenguk ayahmu?"
"Ayah, apa kamu baik-baik saja?" tanya walikota. "Apakah perlu rawat inap?" Ia menatap dokter.
"Kurasa tidak perlu. Aku benar-benar sehat, aku mungkin sudah sembuh dari penyakit jantung ini!"
__ADS_1
"Tapi, apakah benar?"
"Tentu. Aku sudah diselamatkan oleh seorang pria bernama Zian Zaidan."