
"Ada enam jenis sayuran yang dibudidayakan, salah satunya tomat yang kau makan. Umm, mungkin dalam waktu satu bulan ke depan bisa menyediakan 50 kg dengan stabil," beritahu Zian.
Zanna mengangguk-angguk. "Berarti untuk sekarang temanmu itu hanya bisa menghasilkan sayuran di bawah 50 kg?"
"Begitu kenyataannya, mungkin seiring waktu produksi sayurannya bisa menjadi lebih besar?!" Zian sedikit memalingkan muka.
'Huh, aku harus menanam lebih banyak sayuran!?' batin Zian.
"Oke. Sekarang adalah harga. Berapa yang kau tawarkan, Zian?"
"10 kali lipat dari harga pasaran. Tenang saja, kau tidak akan rugi. Kau juga bisa menaikkan harga makanan di restoranmu. Jika orang sudah ketagihan, pasti tidak peduli dengan harga. Gimana? Apakah kita deal?" Zian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Yah, jika itu Zian. Maka aku akan percaya. Ini adalah bentuk investasi, 'kan?" Zanna membalas jabat tangan Zian, yang artinya ia setuju dengan kesepakatan yang dibuat.
"Semoga bisnis ini berjalan mulus."
"Aku selalu mendoakanmu, Zanna."
Zanna menjadi mesem tidak terkendali saat menatap Zian dengan lekat. Ia saling dan menarik kembali tangannya.
"A-aah, aku harus menyiapkan semuanya. Kesepakatan lisan belum kuat, kita harus mengadakan perjanjian resmi. A-aku harus pulang dan membuat surat kontrak." Zanna buru-buru pulang. Untung cuci piringnya sudah selesai.
"Aku akan kembali ke sini besok. Untuk menandatangani surat kontrak."
"Ya, datang lah kapan saja yang kau mau?" Zian mengantar Zanna sampai pintu depan.
"Terima kasih juga untuk sarapan lezatnya! Dah, Zian."
Zian melambai ketika punggung Zanna menghilang di kejauhan. Ia seketika menghembuskan nafas dan memegangi kepalanya.
"Aku tidak mau memberinya harapan, tapi aku tidak tega jika bersikap dingin padanya. Semoga saja dia tidak gampang baper——eh? Tunggu! Kenapa aku harus menjaga jarak? Aku sudah tidak punya penyakit mematikan itu lagi, 'kan?"
Ia melupakan hal yang penting. Tidak ada gunanya menutupi hatinya, ia kini bisa menjalin cinta dengan seorang perempuan tanpa takut membuatnya sedih.
"Sudah saatnya untuk membuka hati, dan membiarkan para tamu masuk!" gumam Zian tersenyum kecil memandang langit. Ia kemudian menutup pintu.
__ADS_1
Zian bergegas masuk ke dalam lukisan.
"Huh, pemandangan yang menyejukkan!" Zian sumringah melihat tanamannya yang sangat subur.
Ia lantas berjalan-jalan mengecek kondisi semua anggrek dan sayurannya. Barang kali ada sedikit hal janggal.
"Hmm, tak kusangka dimensi ini lumayan luas. Tidak, ini sebetulnya luas, tapi pemandangan abstrak cuma area yang belum dijelajahi?!" Zian melihat semacam dinding pembatas yang tidak dapat dijelaskan. Saat ia mendekatinya, pembatas itu seakan bergerak menjauh.
"Tebakanku benar. Dengan begini aku bisa memiliki lahan tak terbatas, hahaha!" Zian sangat bersemangat dengan pencapaian apa yang bakal ia toreh di masa depan.
Setelah puas melihat-lihat, ia keluar dari dalam lukisan. Kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah mengecek online shop miliknya. Namun, Zian sudah pesimis duluan. Ia menyangka tidak akan ada banyak perubahan.
"Yap, prediksiku benar. Belum ada pengunjung yang melihat. Bagaimana cara mempromosikannya, ya?"
Nama Charen terlintas di benak Zian, ia otomatis langsung menghubunginya. Akan tetapi, ia malah disambut dengan tagihan perempuan itu.
"Punya anggrek hitam papua yang bisa dijual?" Ia terdengar bersemangat dari seberang telepon.
"Huh, aku belum mengatakan maksudku."
"Maaf, silahkan. Kau membutuhkan apa?"
"Baiklah, aku akan membeli semua anggrekmu."
"Jangan maruk! Sepertinya kau sangat menyukai anggrek hitam papua? Bagaimana kalau kau mencoba merawatnya sendiri? Aku punya kenalan yang menjual bibitnya."
"Benarkah, di mana?"
"Hmm, cari saja Orchid Paradise. Di sana ada banyak bibit anggrek yang langka," beritahu Zian.
"Oke, akan kucek sebentar."
Charen membuka toko milik kenalan Zian, tempat yang sama saat ia membeli bibit anggrek.
Beberapa menit kemudian ....
__ADS_1
"Uwahhh, selain bibit anggrek hitam papua ternyata ada banyak bibit anggrek yang langka. Aku akan membeli semuanya. Kenalanmu sangat hebat, Zian!"
Zian terdiam sesaat ketika mendengar Charen bakal memborong semua bibit anggrek. Meski begitu, terdengar mustahil. Anggrek-anggrek itu susah untuk dirawat, salah sedikit langsung layu.
"Baiklah, begini Charen. Aku menghubungimu dengan maksud untuk mempromosikan toko online-ku. Aku menjual anggrek hitam papua dewasa, yang dijamin tidak akan layu. Kau tidak akan kesusahan merawatnya. Fokuslah pada itu sekarang!" kesal Zian. Obrolannya melebar kemana-mana.
"Beli saja bibit secukupnya. Aku mungkin bisa membantumu merawatnya. Di belakang akan ada banyak bibit anggrek langka, kau tenang saja!"
"Hahaha, oke, maaf terlalu terbawa suasana. Baiklah, aku akan membantumu mempromosikan toko online-mu." Charen terkekeh.
"Huh, terima kasih. Jika aku punya sesuatu yang bagus, kau akan diprioritaskan. Kau mitraku sekarang!"
"Senang mendengarnya, terima kasih Zian. Aku jamin e-commerce milikmu akan segera ramai."
"Ya, aku menantikan itu."
Charen mematikan sambungan teleponnya. Dengan begini, Zian bisa sedikit lega. Ia meletakkan ponselnya dan lanjut beraktivitas seperti biasa.
Pada saat malam hari, ketika ia hendak tidur. Zian kepikiran untuk mengecek tokonya.
"Kita lihat, bagaimana kerja dari Charen."
Zian seketika membelalakkan matanya dan tersenyum tipis.
"Kau luar biasa, Charen. Relasimu sangat luar biasa, hahaha."
Stok anggrek hitam papua nya sudah ludes dipesan. Zian sangat senang, ia membayangkan berapa banyak uang yang bakal dihasilkan.
Zian segera mengurus pesanan yang datang. Ia harus memberikan pelayanan yang baik.
Ia menghabiskan waktu semalaman untuk mempersipkan anggreknya. Zian terjaga dengan kebahagian.
Keesokan paginya, ia kepikiran untuk mencari rumah baru.
"Mungkin aku bisa membuat rencana untuk membeli rumah baru dari hasil jualan anggrek!"
__ADS_1
Akan tetapi, Zian mendapat panggilan dari seseorang yang mesti mengurungkan niatnya pagi itu.
"Oh, asisten walikota, ya? Hmm, Rara bisa masuk sekolah hari ini? Oke, aku juga akan ikut mengantarnya."