Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 25


__ADS_3

Rencana Zian adalah mengunjungi kediaman dosen Lam, ia ingin memberikan sayurannya. Tidak ada salahnya menjalin tali silahturahmi. Ia dengan si kakek tua telah membuat hubungan timbal balik, saling balas budi.


"Yah, pastinya dia suka dengan sayuran ini." Zian telah selesai bersiap, ia telah memasukkan sejumlah sayur ke dalam mobil pick up.


"Okee, berangkat!" ucapnya dengan semangat, ia membetulkan posisi topi yang agak miring. Zian melirik sumber uangnya dari kaca spion. Ia tersenyum.


Zian telah mengantongi alamatnya dari kediaman dosen Lam sekeluarga. Itu berada di lingkungan LU, Lam University. Universitas swasta yang telah didirikan dan dikelola oleh keluarga Lam sejak lama. Universitas swasta yang elit dan menjadi incaran para kalangan atas.


Anastasia telah memberiku detail alamatnya, dan hak untuk masuk ke dalam kompleks LU. Universitas itu sangat besar, beberapa hektar, dengan fasilitas lengkap dan mutahir.


Zian menghabiskan satu jam perjalanan untuk sampai di sana. Ia kini berada di gerbang masuk menuju ke lingkungan kampus.


Penjaga gerbang yang bertugas sedikit terkejut karena melihat mobil bak terbuka yang membawa sayur. Itu kejadian langka.


Zian lantas memberikan sebuah kartu yang diberikan Anastasia. Yah, mungkin hak untuk masuk ke universitas?


"Oh, ya. Silahkan masuk! Maaf sudah menghambat perjalanannya." Sang satpam bergegas memberikan laluan untuk Zian.


'Benar-benar kampus elit?!' pikir Zian takjub saat melihat isi di dalam universitas itu.


Para mahasiswa melihat aneh sebuah mobil pick up melaju dengan pelan. Baru pertama kali terjadi.


"Kenapa bisa ada mobil pick up masuk? Gimana kerjanya si satpam?"


"Jika dia bisa masuk semulus ini? Pasti dia punya hak untuk ke sini. Jangan berburuk sangka!"


Para mahasiswa ada yang risih dengan kehadiran Zian yang membawa mobil pick up, apalagi dengan setumpuk sayur. Tapi, ada juga yang bersikap masa bodoh saja.


'Seperti tidak pernah melihat pick up saja?!' pikir Zian geleng-geleng kepala. Ia fokus mengemudi dengan pelan dan pasti.


Anastasia telah memberitahu keberadaan dari dosen Lam. Jadi, Zian tidak perlu repot untuk mengitari lingkungan universitas. Ayah dari sang walikota berada di kompleks asrama kampus yang diperuntukkan untuk mahasiswa yang dari luar kota, bahkan luar negeri.


"Yah, kampus ini terlalu luar biasa. Segala fasilitas yang ada di sini, terlalu memanjakan. Kira-kira berapa biaya untuk kuliah di sini?" gumam Zian.

__ADS_1


Zian melihat dari kejauhan, ratusan meter. Ada sebuah rumah besar yang terpisah dari bangunan asrama yang lebih mirip gedung apartemen. Menurut informasi yang diberikan Anastasia, itu adalah tempat tinggal dosen Lam.


"Apa yang dilakukan dosen Lam?" bingung Zian melihat lansia itu berada di halaman depan rumah besarnya. Walikota ada Anastasia nampak di sana juga.


Mereka sadar dengan sebuah mobil pick up yang mendekat, terus ngeh kalo itu adalah Zian. Si mantan tentara tentu mendapat sambutan hangat.


"Wah-wah, apa ini? Kau memberikan barang berharga ini dengan cuma-cuma, apalagi diantar langsung. Harusnya kami harus antri, 'kan?" gurau walikota Anis melihat keranjang besar yang berisi aneka sayuran.


"Kemarin restoran mengundang kami. Yah, aku tidak menyangka kau menjalin kerja sama. Peningkatan yang sangat bagus. Apa itu niatmu sebenarnya? Membawa sayuran luar biasa itu ke restoran?"


Zian mengangguk dengan canggung, yah emang terlihat jelas tipu muslihatnya. "Begitulah. Untuk pemasaran hasil berkebun ini!"


"Ahahaha, luar biasa. Kau benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan baik." Dosen Lam tertawa lebar, menepuk pundak Zian.


"Ya, terima kasih. Ini semua berkat Anda. Ngomong-ngomong, apa yang sedang Anda lakukan di luar?" tanya Zian.


"Oh itu ... mengisi waktu luang, mencabut rumput liar!"


"Hah?" Zian skeptis melihat dosen Lam. Terus untuk apa tukang kebun? Yah, dosen Lam cuma mengisi kegabutan.


"Yah, produksi saat ini masih sangat kurang. Jadi, harganya sementara dinaikkan pada batas wajar."


"Kau baru merintis sih. Tapi, tenang saja ... jika butuh bantuan untuk mengurus usahamu, Anastasia siap sedia. Gunakan saja dia!" ucap walikota Anis, sementara itu wanita yang dimaksud cuma mengangguk.


"Terima kasih tawarannya." Zian melirik Anastasia.


'Dia memang jarang berekspresi, seperti robot saja.'


"Dosen Lam, tolong terima sayuran ini!"


"Dengan senang hati." Dosen Lam melepaskan sarung tangannya dan mengajak Zian untuk masuk ke kediamannya.


"Ayo, ayo silahkan masuk. Kita makan sayuran lezat ini." Dosen Lam dengan bersemangat mengajak Zian menuju ke rumahnya.

__ADS_1


"Anakku, tolong siapkan hidangan istimewa dari sayuran ini!" pinta dosen Lam kepada anaknya.


Walikota Anis tersenyum mengiyakan. Ia tidak pernah melihat ayahnya sebahagia itu.


"Eh? Tidak! Lebih baik saya yang melakukannya," sela Zian.


Dosen Lam dan walikota Anis lantas terkejut dengan respon yang dikeluarkan pria itu.


"Tidak, Zian. Aku adalah anaknya ayah, terus seorang wanita. Apalagi aku adalah tuan rumah, sedangkan kau adalah tamu, hakekatnya adalah raja. Masa aku membiarkan tamu masak di rumahku sendiri?"


Zian langsung skakmat tanpa bisa memberikan argumennya. Ia cuma menghela nafas dan mengiyakan keinginan walikota Anis.


Mereka masuk bersama ke rumah besar dengan empat lantai itu. Walikota Anis langsung pergi ke dapur, sedangkan Zian dan. Dosen Lam berada di ruang tamu untuk berbincang, temani Anastasia.


"Saya rasa Anda sudah sehat sepenuhnya. Anda tidak perlu lagi meminum ramuan yang saya berikan," ucap Zian.


"Benarkah? Itu sangat bagus, obat seberharga itu. Aku tidak tahu bagaimana membayarnya. Tapi, tunggu di sini, ada sebuah barang bagus." Zian pergi ke suatu ruang di lantai dua.


"Huh, apa sih?" sebal Zian yang hanya bisa garuk-garuk kepala. Ia menikmati keindahan dari kediaman keluarga Lam.


Tidak berselang lama, dosen Lam muncul lagi. Ia membawa sesuatu.


"Ini tidak akan bisa membayar bantuanmu, tapi terima lah." Dosen Lam menunjukkan kotak kertas kecil panjang.


Zian tahu adab, ia langsung menolaknya. "Saya tidak bisa menerimanya."


Ya, tindakan sia-sia. Mau berargumen seperti apa pun. Zian pada akhirnya harus menerima pemberian itu. Dan saat kotak itu dibuka, isinya adalah sebuah lukisan potret yang sangat mahal.


'Ah, benda yang sangat berharga. Tapi, tidak mungkin untuk menolaknya.'


Zian menyentuh lukisan potret yang mahal itu, barang antik. Namun, sesuatu yang aneh, perasaannya. Ia merasa kalau lukisan peninggalan leluhurnya bereaksi atau bergetar.


'Eh? Ada apa ini? Sensasi macam apa?' bingung Zian.

__ADS_1


Masakan dari walikota Anis telah siap, Zian dan dosen Lam pergi ke meja makan. Pria itu jadi kurang fokus saat makan, tidak peduli seberapa enak makanannya. Ia kepikiran soal lukisan yang ia simpan di rumah.


__ADS_2