
Ikan arwana merah itu sudah dibungkus ke dalam plastik dengan baik. Zian menolak untuk ditaruh di dalam box atau sejenisnya, toh perkataan Zian cuma ingin memasak ikan besar yang penyakitan itu.
"Terima kasih, tapi ini terlalu kemahalan. Tuan pelanggan membela dengan harga 20% dari harga pasaran. Apa Anda tidak rugi?" ucap si pengusaha ikan. Ia masih merasa tidak enak, ia seolah-olah sudah menipu, padahal dalam transaksi mereka sama-sama sadar.
"Jangan dipikirkan! Ini harga yang sudah sangat pas. Terima kasih ikannya," balas Zian tersenyum. Namun, dalam hatinya ia agak gelisah.
'Huh, untung aku bawa uang lebih. Aku tidak menyangka harga ikan ini bisa sangat mahal? Setara 4 unit motor.'
Zian pun masuk ke dalam mobilnya dengan ikan arwana berwarna merah. Pria itu tersenyum melihat ikan itu berangsur-angsur pulih. Sisik merah yang awalnya pucat secara perlahan kembali seperti sedia kala, malah bersinar, nampak lebih cantik.
"Huh, malah aku yang rasanya sudah menipu mereka." Zian geleng-geleng kepala. Ia selanjutnya mengemudikan mobilnya sampai di rumah dengan selamat.
Sesampainya pria itu di kediaman mewahnya. Zian langsung menaruh ikan arwana di dalam dimensi lukisan dengan pikirannya. Keluar masuk lukisan sudah sangat instan, ia tidak perlu repot-repot hanya untuk mengambil atau menaruh barang.
"Ok, saatnya menunggu bibit-bibit ikannya dikirim."
Zian menuju ke kamar, ia berencana mengisi kekosongan waktu dengan belajar tentang serba-serbi pembudidayaan ikan. Si mantan tentara menelaah beberapa informasi dan video yang ada di internet.
"What? Ikan arwana ada yang seharga 5 miliar?" kaget Zian, ia iseng-iseng mencari rentang harga ikan arwana. Ia begitu syok melihat harga ikan yang seperti sebuah rumah itu.
"Jika aku bisa mengembangkan bisnis ini. Itu akan menjadi tambang emas, bahkan tambang berlian." Pria itu merasa sangat senang. Potensi memanfaatkan lukisan ajaib akan berkembang ke tahap yang baru.
Akhirnya bibit ikan yang dipesan Zian sampai dengan selamat. Ia membayar biaya yang lumayan.
"Terima kasih," ucap Zian pada orang yang bertugas mengirimnya.
Pria itu kemudian memindahkan beberapa box yang berisi bibit ikan ke dalam dimensi lukisan. Ia siap bekerja dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari dari internet.
__ADS_1
"Saatnya bekerja," ucapnya dengan semangat.
Zian berpindah ke dalam lukisan hanya dalam sekali kedipan. Pemandangan pekarangan rumah berganti dengan lahan yang berisi banyak tanaman. Yah, kesemuanya memang sayur.
Ladang yang terpisah oleh empat aliran sungai kecil, menjadi empat bagian. Di tengahnya adalah kolam luas yang menjadi pusat pengairan. Sebentar lagi akan menjadi tambak ikan.
Zian mulai membuka box-boxnya, di dalamnya terdapat beberapa kantung besar. Itu bisa menampung ribuan bibit ikan. Zian mendapat total 20 kantung, jumlah per kantung adalah 2 ribu bibit ikan. Artinya 40 ribu bibit ikan yang dimiliki Zian. Yah, jumlah itu tidak menjamin apa-apa. Bisa saja ada anakan ikan yang mati saat proses pengiriman, dan yang mati bukan cuma beberapa, bisa saja puluhan, atau ratusan.
Apalagi bibit ikan itu tidak mesti semuanya menjadi ikan dewasa. Pasti ada saja yang mati saat prosesnya. Zian dikatakan berhasil bila lebih dari setengah bibit ikan itu berhasil bertahan dan siap dijual.
"Sepertinya aku tidak perlu takut kalau ikan-ikan ini akan mati. Mereka pasti bisa bertahan atau aku bahkan mendapat sesuatu yang lebih." Zian tersenyum memandangi kolamnya yang kini sudah meluas. Hasil kerja kerasnya kemarin.
Si mantan tentara kepikiran sesuatu. "Hmm ... aku kan sering menggunakan kolam ini untuk air minum. Jika diisi kan ... bukannya? Ah, aku tidak kepikiran hal itu."
Kedua bahu Zian seketika mengendur, apakah ia harus merombak ulang kolamnya? Apalagi ia juga harus menyiapkan ***** bengek lainnya, seperti yang dicontohkan di internet.
Zian tidak mau ambil pusing lagi dengan pembudidayaan ikannya. Dia keluar sebentar dari dimensi lukisan untuk melihat-lihat tambak ikan di daerah pesisir. Ia cuma ingin mengambil sesuatu.
'Huh, tambak-tambak ini. Aku cuma perlu lumpurnya sih, dan komponen lain.'
Zian berkeliling di sekitaran tambak yang membudidayakan ikan bandeng. Ia bertemu dengan beberapa orang terus bercengkrama sebentar.
'Huh, ini tidak berhasil. Aku sebaiknya mencari tambak yang terbengkalai saja,' pikir Zian sedikit menepi ke pinggiran area tambak.
Ia akhirnya menemukan tambak tidak terurus, mungkin sudah lama ditinggalkan.
"Yap, yang ini saja." Pria itu celingukan sebentar untuk memastikan tidak ada orang.
__ADS_1
Setelah dirasa pas, ia nyemplung ke tambak. Ia memindah semua lumpur beserta lumut dan yang lainnya secara serempak ke dalam dimensi lukisan dengan pikiran.
"Huh, harusnya sudah cukup," ucap Zian yang langsung masuk ke dalam lukisan. "Kini saatnya untuk membuat pulau!"
Zian mengambil cangkul dan skop. Mulai memindahkan sejumlah tanah hitam, membuat endapan untuk sedikit memperkecil kolam di bagian pinggir. Ia kemudian terus membendung, membuat kolam kecil yang dangkal, seperti kolam yang sedari awal ada di sini.
"Cukup menguras tenaga, tapi akhirnya selesai."
Zian selanjutnya mengecek kondisi ikan arwana yang masih berada di dalam plastik bening, nampak sangat sehat dan lebih terjaga dari sebelumnya. Ikan itu akan segera dimasukkan ke dalam kolam tersendiri. Zian sudah membuatnya.
Sementara itu, kolam atau tambak yang lain sudah selesai. Sisanya tinggal menaruh di kolam. Tapi, sebelum melakukannya, Zian meneteskan larutan bunga ajaib. Para bibit ikan itu langsung menyerapnya. Setelahnya, para bayi ikan dimasukkan ke dalam tambak. Dalam sudut pandang pembudidaya ikan, tindakan Zian sangat tinggi masuk akal. Namun, sekali lagi .... Ia memiliki jaminan yang tidak akan membuatnya gagal.
"Akhirnya selesai," lega Zian menghembuskan nafas. Ia melihat kolamnya yang luas, tapi mendapat ide baru. Kolam atau tambaknya terlalu besar, harus disesuaikan kapasitasnya.
"Mungkin harus membeli bibit-bibit lagi."
Zian menggunakan ponsel untuk menghubungi si pengusaha ikan. Mereka memang bertukar nomor, siapa tau berguna untuk keadaan seperti sekarang. Zian tidak basa-basi dan langsung meminta dikirimkan ikan lagi.
"Tapi, apakah ini tidak terlalu cepat? Saran saya——"
"Aku akan mengurus semuanya!" sela Zian, tidak membiarkan bantahan dari si pengusaha ikan.
"Huh, kelar. Saatnya memasak. Huh, Siapa ini?"
Zian mendapat panggilan dari Zanna,
"Ada apa dengan perempuan ini?"
__ADS_1