
Kepala desa mulai memberikan penawaran harga, sambil memerhatikan pejabat pajak yang dengan anteng menyibak tumpukan berkas yang ada di atas meja.
"Bagaimana kalau 8 miliar untuk 8 tahun? Menurut saya itu sudah menjadi harga terbaik. Anda bisa mendapat keuntungan berkali lipat dalam beberapa tahun," ucap kepala desa. Ia cuma sebagai perantara, pemilik tanah yang asli sudah menyerahkan urusan ini padanya.
'Nanggung! Lebih baik aku beli tanahnya. Tapi, harusnya pasti jauh lebih mahal.'
Zian berpikir sebentar, ia harus memikirkan berapa keuntungan yang bakal didapat. Yah, ia tidak mungkin merugi meski harga sewa lahan sangat mahal. Pasti akan tertutup dengan cepat oleh laba.
"Umm, yah .... 2 miliar untuk 8 tahun," tawar Zian.
"Sepertinya tidak bisa. Lahannya ada beberapa hektar. Anda pasti akan balik modal pada tahun pertama," balas kepala desa yang memandang pejabat pajak.
'Huh, gimana ya?' Zian juga ikut melihat si pejabat pajak.
"Bisakah Anda menaikkan penawarannya?" pinta kepala desa.
"Naik? 2,5. Sudah bagus itu." Penawaran harga yang agak sadis, seperti tidak niat.
"Maaf, itu masih belum bisa."
"Hohh, umm .... 3,4? Ini sudah terlalu bagus. Itu tawaran tertinggi, kalo tidak bisa mencapai kesepakatan, maka saya akan pergi."
Kepala desa tentu berpikir dengan matang-matang. Susah mencari calon pembeli, orang seperti Zian tidak bisa datang lagi. Namun, pria itu juga ingin mendapat keuntungan yang besar dari komisi menyewakan tanah warga desanya.
Setelah diam beberapa saat, kelapa desa mulai berbicara lagi. "Masih tidak bisa. Ini penawaran terbaik, setengah harga dari harga awal, 4 miliar."
Zian menghela nafas, ia malas berargumen lebih jauh. Menyewa lahan itu sudah menguntungkan, masa bodoh saja dengan harga.
"Baiklah, saya setuju."
Kepala desa lantas sumringah, ia menyiapkan semua berkas-berkasnya. Pejabat pajak juga ikut mengurusnya. Semuanya sudah siap dan hanya perlu menunggu tanda yang dari Zian. Kepala desa sudah menyiapkan tanda tangan dari para pemilik tanah. Zian pun menandatangani beberapa berkas.
"Bagus, sekarang semuanya telah deal." Kepala desa kembali merapikan semua berkasnya dengan senyuman mengembang di wajah.
"Yap, saya sudah mentransfer uangnya. Sekarang benar-benar deal." Zian mengajak kepala desa berjabat tangan. Tidak ketinggalan pejabat pajak.
"Semoga penyewaan lahan ini bisa memberikan keuntungan kepada dua belah mrmds"
Zian sedikit manyun. 'Yang benar adalah tiga pihak. Berapa banyak komisi yang didapat oleh kepala desa?' ucap Zian dalam hati.
"Semoga kerjasama ini tidak meninggalkan sesuatu yang tidak diinginkan." Pejabat pajak sudah melakukan pengawasan terhadap transaksi tadi. Ia berpikir untuk bisa merayakannya, sayangnya orang lain sudah memiliki inisiatif itu.
__ADS_1
Zian tiba-tiba berkeinginan untuk mentraktir kepala desa dan pejabat pajak untuk makan di restoran.
"Aku sudah memesan tempat di restoran. Kita harus merayakan ini," ucap Zian.
Kepala desa ingin menolaknya, tapi Zian bilang sudah mem-booking tempat, jadi ia tidak enak hati untuk menolak ajakan itu.
"Sebenernya saya merasa tidak enak. Tapi, Anda sudah memesan tempatnya. Itu harus dihargai!" ucap kepala desa.
Pejabat pajak cuma mengangguk yang berarti setuju. Mereka bertiga lantas meluncur ke lokasi.
Setelah tiba di restoran, mereka pun
ditunggu oleh seorang manajer wanita yang cantik di meja dengan tiga kursi kosong. Zian memesan ruang VIP.
"Silahkan duduk." Beberapa waiters menyiapkan kursi untuk para VIP.
"Terima kasih."
"Apakah ini tidak terlalu mahal?" Kepala desa merasa tidak enak. Ia berpikir harusnya makan biasa di restoran biasa juga tidak masalah.
"Jangan sungkan kepala desa! Ini hanya acara makan-makan biasa," terang Zian.
Setelah hampir setengah jam, menu yang dipesan akhirnya datang. Kepala desa terkejut karena hampir semuanya berasal dari bahan utama sayuran. Pria setengah baya itu terkejut ketika memakannya. Ia tidak menyangka sayuran bisa memiliki rasa seenak itu
"Sayur jenis apa ini? Rasanya luar biasa." Kepala desa makan dengan lahap. Ia memang baru mencoba sayuran yang dihasilkan Zian.
Zian cuma tersenyum melihat reaksinya. Ia sudah terbiasa dengan reaksi orang-orang.
Acara traktiran itu selesai. Mereka bertiga berpisah, kepala desa tidak mau diantar pulang oleh pejabat pajak.
"Saya bisa sendiri. Lagi pula ada banyak angkutan umum," kilah kepala desa.
Pria itu pun pulang sendiri. Pejabat pajak ikut kembali setelah berbincang sebentar dengan Zian.
"Terima kasih untuk bantuannya."
"Huh, beres juga untuk urusan lahan. Sekarang tinggal membangun green house yang besar." Zian mengambil ponselnya dan menghubungi Charen.
"Oh, Charen. Bisakah kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin kubahas, aku ingin membangun green house."
"Oh, bisa sekali Zian. Datang lah kemari." Charen setuju dan akan meluangkan jadwalnya untuk Zian.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan, Zian segera pergi ke parkiran. Ia datang dengan keadaan membawa sesuatu, tentu saja tidak boleh bertemu tanpa buah tangan.
Zian sebelum pergi ke restoran dengan pot tanaman sukulen yang langka. Charen pasti senang menerimanya.
Setelah tiba di kantor Charen, ia langsung diantar oleh bawahannya ke ruangan sang bos.
"Oh, kau benar-benar serius tentang green house? Oh, apa yang kau bawa itu?" Charen langsung tertuju pada sesuatu yang dibawa oleh tamunya itu.
Zian pun menunjukkan berang yang ia bawa. "Ini untukmu."
"Eh? Benarkah?" kejut Charen yang menerima pemberian Zian. Jenis tanaman sukulen yang langka. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kau akan memberikan ini padaku. Ini lumayan langka tau."
"Ya, ini khusus untukmu."
"Huh, aku tidak akan melupakan ini. Pasti kubalas."
"Ya, santai saja."
Tapi, tanpa disadar. Charen telah mentransfer sejumlah uang pada Zian. Ia tidak ingin menganggap ini sebagai hadiah cuma-cuma, jadi ia membelinya.
"Seharusnya kau tidak perlu membelinya. Itu hadiah." Zian berupaya mengembalikan uang yang diberikan Charen.
"Sudah! Itu tidak penting. Apa yang kau mau bahas? Green house, 'kan?"
Zian mengalah dan tidak membahas uang itu lagi. Charen mempersilahkan Zian untuk duduk dan mulai berdiskusi. Wanita itu dengan cepat menyanggupi bantuan Zian. Ia akan mengusahakan untuk membantu membuat green house.
"Baiklah, aku akan kirim orang. Dia akan membantumu."
"Sekali lagi terima kasih, ya," ucap Zian tersenyum.
"Tidak perlu sungkan."
Ponsel Charen mendadak berdering. ia langsung mengangkatnya. Raut wajahnya sedikit berubah menjadi murung seiring obrolan pada panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Zian.
"Aku akhir-akhir ini sedang mencari kayu phoebe zhennan. Kakekku memiliki wasiatnya untuk membuat petinya dari kayu itu," beritahu Charen.
"Zian, apakah kau bisa membantuku untuk mencarinya?"
"Ah, itu. Tentu saja, dengan senang hati," balas Zian tanpa keraguan. Namun, pria itu juga kepikiran suatu ide.
__ADS_1