Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 6: Mulai bisnis tanaman


__ADS_3

Zian membeli bibit bunga anggrek hitam papua dalam jumlah yang besar. Selain itu, ia juga membeli tanaman-tanaman langka yang lain. Pokoknya ia sudah menghabiskan 9 juta hanya untuk mempersiapkan toko online-nya.


"Tinggal menunggu paket datang dalam beberapa hari. Sekarang, apa yang kulakukan?"


Untuk antisipasi, Zian mempersiapkan tokonya. Ia membuat akun terlebih dahulu meski belum membeberkan produk yang akan dijual.


Ia pun melakukan riset di sana-sini, belajar tentang tanaman-tanaman, terlebih yang spesies langka dan sulit dibudidayakan. Ia belajar dari bagaimana cara perawatan sampai harga pasarannya. Jika ia bodoh masalah itu, tokonya bisa-bisa gulung tikar, seperti memberi harga yang terlalu rendah atau mematok harga yang sangat tinggi.


"Ah, rupanya begitu? Aku sudah paham sampai bab ini. Ternyata tidak sulit, yang penting aku punya modal untuk melakukannya!" Zian manggut-manggut dengan puas. Ia kini sedang mengikuti kelas online.


"Aku lama-lama bisa jadi ahli botani!" ucapnya percaya diri. Ia membanggakan kemampuan dalam mempelajari sesuatu


Zian mengikuti kelas itu selama beberapa jam dan telah mendapatkan kenalan yang mencoba merintis usaha yang sama dengannya.


Di sela-sela waktu lenggang, Zian masuk ke dalam lukisan untuk merawat sayuran yang ia tanam. Ia setiap hari memang menyiraminya dengan air kolam yang memiliki khasiat yang luar biasa itu.


"Tomat, wortel, sawi, dan kol ini tumbuh dengan sehat. Aku tidak sabar untuk memanennya." gumam Zian melihat hasil jerih payahnya. Sungguh mendamaikan jiwa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari kemudian ....


Zian masih sibuk mengikuti kelas online dan belajar karena Ia merasa masih belum cukup. Ia juga sesekali menghubungi Charen untuk meminta saran, setidaknya wanita itu lebih berpengalaman daripada dirinya.


"Harusnya hari ini paketku akan tiba?!" Zian memang tidak sabar untuk menerima paketnya. Ia ingin segera memulai bisnis itu.


Beberapa saat kemudian, ponsel yang ia letakkan di samping laptop berdering, ada sebuah panggilan. Zian mengintipnya sedikit.


"Hmm, Zanna?"


Setelah mereka bertukar nomor, baru sekarang wanita itu mengubungi. Zian pun men-tab icon terima dan me-lost speaker.


"Halo, Zian. Apakah kau punya waktu luang?" Wanita itu tidak berbasa-basi.


Zian bisa langsung tahu bila Zanna ingin meminjam waktu luangnya. Misalnya mengajak jalan-jalan.


Zian memikirkan jadwalnya setelah mengikuti kelas online.


'Sepertinya aku tidak bisa?'


"Kenapa, Zanna? Aku agak sibuk sebetulnya."

__ADS_1


"Oh, agak sibuk, ya?" Suaranya sedikit terdengar lesu. "Eh, semisal aku ajak kamu makan di luar nanti malam .... gimana?"


"Makan malam?" Zian mempertimbangkan sebentar.


Zian tidak mau membuat Zanna kecewa dengan memberinya penolakan. Namun, ia benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang, selagi penyakitnya belum sembuh. Hubungan mereka bakal berakhir dengan salah satunya merasa kehilangan. Hal itu sangat dihindari olehnya.


Zian sedikit dilema. Kedua-dua pilihan yang ada berujung ke perkembangan yang kurang bagus.


'Ugh, ini menyebalkan! Apa yang harus kukatakan. Jika kuterima, aku tidak mau memberinya sedikit harapan.'


"Umm, Zian. Kau masih di sana?"


"Eh? Ah? Ya. Maaf, aku melamun sebentar."


"Tidak masalah. Jadi, apakah nanti malam kau sibuk?"


'Ah! Sialan! Zian, jadilah orang yang tegas! Tidak ya, tidak. Kau itu mantan tentara, bodoh!' Ia benar-benar krisis identitas.


"Maaf sebelumnya, ya, Zanna. Untuk malam ini aku tidak bisa. Mungkin kita bisa melakukannya di lain waktu." Akhirnya Zian mengatakannya. Meski masih memberi Zanna secuil harapan.


"Oke, aku mengerti. Maaf telah mengganggu waktumu."


"Ya, tidak masalah. Apa kau masih ada hal yang ingin dibicarakan?" tanya Zian. Ia malah berbasa-basi begitu. Zanna tentu akan memakan umpannya.


Zian pun terpaksa out dari kelas online dan menjadi teman ngobrol Zanna selama hampir dua jam.


"Ah, sampai di sini saja. Maaf, sudah mendengarkan ocehan yang tidak berguna ini!"


"Tidak masalah."


Zanna setelah itu memutuskan sambungan teleponnya.


Zian langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. "Akhirnya selesai. Jujur, tadi sangat membebani mental. Aku ini sebenernya tentara yang gagal, ya? Kenapa tidak bisa tegas?"


Si mantan tentara itu kemudian merasa haus. Ia tidak pergi ke dapur, melainkan ke dalam lukisan. Air kolam jauh lebih menyegarkan dari air minum biasa.


Zian melakukan rutinitasnya seperti biasa. Tidur di ruangan itu. Sepuluh menit waktu di dunia nyata sudah cukup, itu artinya Zian sudah tidur 100 menit di dalam lukisan. Lebih dari cukup.


"Oh, paketnya sudah datang?" kejut Zian melihat notifikasi di ponselnya. Ia cepat-cepat keluar dari lukisan dan menyambut kurir yang datang ke rumahnya.


"Atas nama Zian Zaidan?" tanya kurir itu.

__ADS_1


"Benar."


"Oke, maaf, ya. Saya ambil foto!" Kurir itu menyerahkan paketnya sambil mengambil foto Zian dengan ponselnya.


Zian gembira setelah paketnya datang. Ia buru-buru memindahkan ke dalam lukisan.


"Ugh, kotak besar ini ternyata cukup berat!" keluhnya saat membawa paket dengan panjang dan lebar lebih dari satu meter.


Zian kehabisan tenaga, penyakitnya itu memang menyebalkan. Ia langsung minum air kolam dan staminanya langsung pulih.


Zian membuka paketnya dengan pelan, takut rusak. Ia mengeluarkan semua isinya. Ada pot, beberapa jenis tanah, dan tentunya bibit. Untuk keperluan lainnya ia bisa membelinya di pasar atau minimarket.


Zian melakukan pekerjaannya. Ia mempraktekkan apa yang ia pelajari dari internet dan kelas online. Ia pertama-tama membuat campuran tanah untuk pot tanamannya. Ia juga menambahkan tanah hitam yang ajaib itu, yang berperan sebagai booster.


Pekerjaan itu selesai dalam waktu satu jam, yang artinya cuma enam menit di dunia nyata.


"Woah, akhirnya selesai." ucap Zian mengelap keringat di pelipis menggunakan lengan kirinya.


Untuk tahapan akhir, Zian menyiram bibit tanamannya dengan air kolam.


"Tinggal menunggu hasilnya!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari berlalu, Zian hanya keluar-masuk ruangan untuk melihat perkembangan bunga anggrek hitam papua.


"Yap, tumbuh dengan sempurna."


Zian mendadak mendapat pemikiran brilian. Ia ingin dapat mengambil keindahan bunga itu secara sempurna. Jadi, kamera ponselnya tidak akan mendukung


Ia pun memutuskan untuk membeli kamera profesional untuk hasil gambar yang maksimal. Dengan cepat uang dari hasil menjual anggrek hitam papua tinggal setengahnya. Namun, tidak masalah, ia bisa mendapat lebih jika rancangan bisnisnya sukses.


"Oh, sayurannya ternyata sudah pada siap panen?"


Waktu benar-benar berlalu sangat cepat. Sayurannya kini siap masak. Zian memetik secukupnya untuk makan siangnya.


"Apa-apaan ini? Sayur yang kutanam memiliki rasa selezat ini?! Sangat berbeda dari sayur yang kubeli dari minimarket dan pasar."


Zian semakin lahap menyantap menu utamanya yang keseluruhan adalah sayuran.


"Hmm, apakah aku juga perlu menjual sayuran? Ah, kurasa tidak .... itu bakal merepotkan!"

__ADS_1


Lalu, satu bulan telah berlalu dengan cepat. Tanaman yang ia tanam telah tumbuh dan berbunga. Itu sudah siap dijual.


Dan untuk jaga-jaga, Zian pun melakukan setek pada anggreknya.


__ADS_2