Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 33


__ADS_3

"Ini indah!" Zanna langsung reflek berlari ke tepi pantai. Ia dengan cepat melepas alas kakinya untuk dapat merasakan sensasi pasir yang ia injak.


"Waaaaaaaa, Zian!" Perempuan itu berteriak, tersenyum lebar. Senyuman paling bahagia yang pernah Zian saksikan sepanjang hidupnya. Tanpa sadar ia juga ikut tersenyum seolah-olah itu bisa menular.


"Sini!" teriak Zanna.


"Iya, ya." Zian juga ikut melepas sepatu dan sedikit menggulung celana panjangnya.


Zian belum apa-apa sudah disambut oleh cipratan yang dibuat oleh Zanna.


"Jangan takut basah!" sindir Zanna sambil cengengesan.


"Dasar! Kalau begitu kau juga." Zian ikut membalas perbuatan Zanna bahkan dengan volume yang sedikit besar.


"Hoi, curang!" sebal Zanna. Ia pastinya tahu, jika soal kekuatan, laki-laki adalah pemenangnya.


Zanna basah kuyup dengan cepat, ia tidak terlihat sedih atau sejenisnya. Ia begitu menikmati perang air bersama Zian. Perempuan itu juga tidak malu saat disaksikan oleh pengunjung pantai yang lain, pasal sifat kekanak-kanakan. Yah, malah dianggap sebagai pasangan yang lucu.


"Yah, kita basah kuyup, hehe." Zanna terkikik merasakan baju tidak ada yang kering. Make up yang dikenakannya pun luntur, tapi tidak cukup melunturkan kecantikannya.


Zian mengangguk. Mereka kemudian berangkat pergi dari pinggiran pantai. Mengucapakan selamat tinggal pada deburan ombak yang menerpa kaki.


Zian dan Zanna duduk di atas pohon kelapa yang tumbang, menyaksikan keindahan air laut yang jernih.


"Huh, tadi menyenangkan sekali," tutur Zanna. Zian mengangguk mengiyakan.


Tiba-tiba ponsel Zanna berdering, itu datang dari manager. Ia memberitahu jika sayuran telah siap diangkut dan berniat kembali ke restoran. Zanna ditanya ingin ikut atau tidak.


"Oh, kalian kembali dulu. Aku masih punya urusan."


"Baiklah."


Zanna menghembuskan nafas kasar. "Huh, dia tadi menunggu saja." Ia memasukan kembali London ke dalam tas yang agak kotor dengan pasir putih.


Selanjutnya terjadi sedikit keheningan antara Zian dan manusia. Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Zanna sibuk mengamati laut, sedangkan Zian berpikir sesuatu hal.


"Hmm, Zian. Akhirnya jadi mengingat-ingat masa SMP. Saat kita berkenalan." Zanna berkata dengan melihat jauh ke lautan lepas. Nada bicara yang nostalgia.

__ADS_1


"Hm, masa SMP ya? Apa yang menyenangkan? Kurasa datar-datar saja, tidak ada yang menarik." Zian salah memberikan tanggapan. Alhasil ia mendapat sikutan dari Zanna yang merasa kesal.


"Dasar kau ini! Tentu saja datar, kau tidak pernah berkumpul dengan bersama teman-teman. Kau selalu ke perpustakaan saat istirahat!" Zanna meracau.


Zian agak kaget, ia menaikkan sebelah alisnya. "Kau bisa tau kebiasaanku? Kita tidak pernah sekelas lho?!"


"Ahahaha, tak usah dipikirkan!" Zanna langsung memalingkan muka, suasana menjadi sangat canggung.


"Oh, apa kau ingat bagaimana kita saling kenal?" Perempuan itu mengalihkan topik.


Zian menggeleng, "Hmm tidak sih."


Muka Zanna langsung cemberut, ia sedikit kesal Zian bisa melupakannya. Sedangkan ia sendiri merasa bahwa saat itu adalah hari yang bersejarah. Zanna mencoba agar tidak meluapkan kekesalannya.


"Padahal itu hari yang bersejarah. Kau menolongku."


"Menolong? Oh ya, aku baru ingat. Yah, itu cuma ketidaksengajaan. Aku cuma menolongmu dari para berandalan."


"Bukan! Apaan ketidaksengajaan? Itu takdir tau!" celetuk Zanna.


Zian otomatis mengerutkan dahi pada pernyataan itu. "Takdir?"


Setelah beberapa saat berselang, keheningan kembali tiba. Mereka kesulitan memulai pembicaraan. Zanna tidak tahan dengan situasi itu, jadi ia yang mengambil inisiatif lagi.


"Hm, aku penasaran dengan kehidupanmu di akademi militer sampai menjadi tentara," ucap Zanna.


"Yahhhhhh ... kehidupan yang berat. Hidup di sana keras, jarang ada waktu bersantai, aku juga sempat ingin menyerah. Tapi, ada seorang teman yang selalu menyemangatiku untuk tetap bertahan. Dan beginilah, aku berhasil lulus. Namun, hidupku tidak berubah mudah sama sekali. Sama saja beratnya, bahkan lebih," beritahu Zian sedikit tentang masa lalunya.


"Hmm, kukira berjalan mulus ya? Ternyata tidak semudah yang dipikirkan orang-orang." Zanna mengangguk-angguk, kurang lebih paham.


"Aku pun cuma sebentar menjadi tentara, sebuah penyakit membuatku harus pensiun dini," lanjut si mantan tentara.


Zanna cuma memasang muka bersimpati. Ia memang telah menyelidiki hal ini sebelumnya.


"Lalu gimana dengan temanmu itu?" tanya Zanna.


Ekspresi Zian sedikit berubah, ia menunduk sebentar terus memandang langit.

__ADS_1


"Dia orang yang hebat. Hampir mahir dalam segala hal. Kami di tempatkan di pasukan yang sama. Pada suatu misi memburu pengedar narkoba internasional. Dia menjadi penyelamat semua rekan-rekannya, termasuk diriku. Huh ...."


"Keren, itu luar biasa. Terus apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sedih?"


Ya, Zian memang terlihat jelas mengeluarkan aura kesedihan. Pria itu menghela nafas berat seolah-olah apa yang dikatakan selanjutnya susah diungkapkan.


"Dia pindah divisi dan naik pangkat setelah menoreh pencapaiannya luar biasa tersebut. Dia mendapat misi dikirim ke tempat yang jauh, dan sampai sekarang belum ada kabar apa-apa. Menurut rumor yang beredar, semua orang yang menjalani misi utama sudah lost kontak, kemungkinan paling buruk ... mereka semua tewas."


Zian secara tidak sadar menitihkan air mata. Hal itu ketahuan oleh Zanna. Perempuan secara reflek menggenggam telapak tangan Zian yang lebih besar.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Percayalah, tidak ada yang seperti itu. Temanmu itu pasti baik-baik saja. Dia mungkin sedang ngopi santai di suatu tempat," ucap Zanna.


Zian jadi terbahak-bahak pada kalimat yang Zanna lanturkan. Yah, memang itu tujuan dari si perempuan cantik.


"Ahahaha, mungkin benar. Dia sedang santai m menikmati kopi. Mungkin cuma aku saja yang terlalu berburuk sangka." Berkat Zanna, Zian merasa sedikit lega.


Setelah itu, mereka tidak berbincang lagi. Zian mengajak Zanna kembali ke rumahnya. Ia mengaku lapar dan ingin memakan sesuatu. Zanna cuma nurut apa kata Zian.


"Bisa turun?" tanya Zian. Pohon kepala tumbang yang diduduki terlalu tinggi.


"Bisa kok."


Saat Zian ingin turun dengan perlahan, ia mendadak terpeleset dan jatuh. Beruntung Zian siap siaga menahan dengan tubuhnya. Secara tidak sadar, mereka telah berpelukan.


'Apa ini? Apa ini? Jantungku seperti ingin meledak!"


Setelah itu, situasi menjadi canggung. Zanna masih kepikiran kejadian di pantai meski telah sampai di rumah Zian.


"Zanna, aku punya sesuatu untukmu," tutur Zian.


"Apa itu?"


Zian memberikan sebuah tanaman sukulen yang langka, hasil kerja kerasnya. Ia ingin Zanna memilikinya.


"Eh beneran? Ini bukan tanaman sembarangan? Bagaimana kau bisa punya?" Zanna senang sekali menerimanya.


"Ada deh. Ayo, apakah kau mau membantuku memasak?" ajak Zian.

__ADS_1


"Ayay, kapten." Mereka berjalan menuju dapur bersama.


__ADS_2