Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 29


__ADS_3

Meeting yang awalnya disudahi kini dibuka kembali. Para peserta meeting di mata kembali. Ayahnya Zanna menjabarkan kronologi yang terjadi 15 menit yang lalu. Tentu saja mereka sama syoknya dengan ayahnya Zanna saat mendengar pernyataan dari putrinya.


Pusat masalah dilimpahkan pada Daniel. Semuanya buntu, tapi pria itu juga tidak dapat melakukan apa-apa. Tatapan kekecewaan pun diterima Daniel, ia lantas menunduk dalam.


Pemimpin rapat, yaitu ayahnya Zanna meminta sang Putri untuk melakukan sesuatu. Yang pasti adalah untuk menyelesaikan masalah, berdamai dengan Zian, agar hubungan kerja sama bisa dilakukan.


"Tenang saja, aku akan menghubungi Zian. Dia pasti masih mau diajak bernegosiasi."


"Yaa, maafkan ayah, Zanna. Ayah tidak mau percaya padamu, harusnya tidak serumit ini." Ayahnya Zanna sedikit menundukkan kepala untuk memohon maaf.


"Tidak apa-apa, itu bisa dimengerti. Tenang saja, Zian bukan orang yang pendendam. Tapi, ayah dan Daniel mungkin harus melalui sesuatu terlebih dulu," ucap Zanna yang bersiap menghubungi Zian.


Daniel hanya terus merunduk, ia mengepalkan tangannya kuat dan terus merutuk Zian dalam hati.


'Pria itu, sialan! Aku pasti akan mengungkap semua kedoknya.'


Semua peserta rapat menunggu dengan cemas, Zian tidak segera mengangkat teleponnya.


Tanpa sepengetahuan mereka, pria itu sedang tertawa terpingkal-pingkal. Ia sangat puas dengan perkembangan ini. Ia memang sengaja lama mengangkat teleponnya, untuk memberikan kesan marah dan sejenisnya, padahal ia biasa saja.


Zian akhirnya mengangkat teleponnya. Zanna me-lost speaker ponselnya agar semua orang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Zian.


"Iya, Zanna. Ada apa ya?"


Semua orang lega karena tidak terdengar nada marah, tapi belum bisa dipastikan.


"Aku sungguh menyesal atas perlakuan Daniel padamu beberapa hari yang lalu. Apa kau mau memaafkannya? Dan juga ayahku, dia hanya terhasut oleh Daniel."


Zian memberi jeda untuk membalas perkataan Zanna. Semua orang sontak menahan nafas.


"Oh, itu ya. Gampang, mereka berdua hanya perlu pergi ke rumahku. Itu akan diselesaikan di sana."


Daniel langsung bereaksi. "Aku tidak sudi. Dan paman jangan datang ke sana, kita tidak tahu rencana jahat apa yang dia siapakan. Mungkin itu cuma jebakan."


"Kau masih berprasangka buruk? Huh, oke ...." Zanna menyumbat lubang speaker di ponselnya. "Baiklah, sekarang pikirkan bagaimana cara mencari jalan keluar dari masalah ini. Proposal tadi sangat bagus lho. Kau pasti sudah menyusunnya susah payah. Mau dibatalkan saja, hmmm?" Tatapan Zanna seakan menantang Daniel untuk memikirkan ide lain.

__ADS_1


Tentu saja Daniel terdiam, tidak dapat meresap apa-apa. Zanna tersenyum puas.


"Kau benar-benar mengecewakan, Daniel! Jika kau punya salah, akui saja kesalahanmu. Benar-benar tidak kompeten!" cibir ayahnya Zanna.


"Tapi, paman. Pria itu masih tidak jelas. Dia sangat licik!"


"Argumenmu tidak berbobot sama sekali. Itu cuma perasaan pribadi saja. Kau tidak punya hak untuk memutuskan itu."


Zanna membuka kembali membuka speaker ponselnya.


"Apakah cuma itu saja, Zanna. Kalau sudah, aku tunggu di rumah. Aku akan berada di sini selama 24 jam. Manfaatkan kesempatan itu!"


"Ya, terima kasih, Zian."


Zian setelah itu mematikan sambungan teleponnya. Rapat segera diakhiri, ayahnya Zanna akan bersiap meluncur ke rumah Zian. Begitu juga dengan Daniel, ia bakal dipaksa ikut, mau tidak mau.


"Ini tidak terjadi jika kita membuat kontrak lebih awal dengan Zian," ucap Zanna tepat di hadapan Daniel. Perempuan itu menunjukan tatapan jijik.


Mereka bersiap-siap pergi ke rumah Zanna dengan petunjuk jalan dari Zanna. Yah, memang cuma ia yang tahu alamatnya.


Setelah melewati perjanjian hampir sejam. Mereka pun sampai di kediamannya Zian. Sang pemilik rumah langsung mempersilahkan tamunya untuk masuk. Ia sudah menyiapkan minuman dan kudapan, selaku tuan yang baik.


"Selamat datang, silahkan duduk," ucap Zian tersenyum.


Tapi, respon yang ditunjukan oleh ayahnya Zanna sangat tidak terduga. Ia menunduk 90°.


"Saya sungguh menyesal atas apa yang terjadi. Atas kebodohan bawahan saya ini. Tapi, tolong maafkan kami. Ini hanya sebatas kesalahpahaman." Ayahnya Zanna meminta maaf secara tulus. Bahkan jika disuruh, ia akan bersujud.


"Hei, Daniel! Cepat——"


"Huh, Anda tidak perlu bersikap seberlebihan itu. Saya akan tetap berkeinginan menjalin kerja sama dengan perusahaan Anda. Yah, Karena Zanna adalah teman saya," ucap Zian santai, mengibaskan tangannya, terus meminta ayahnya Zanna untuk tegak kembali.


Zian melirik Daniel yang sedang menahan emosi, mencoba untuk membuat diri tidak lepas kendali. Supaya tidak menghajar Zian.


"Tapi, ini ada syaratnya. Tidak perlu cemas, syaratnya sangat mudah."

__ADS_1


"Apa itu? Saya akan berusaha memenuhinya bila mampu!"


Zian otomatis menunjuk Daniel. "Pecat saja orang ini! Orang seperti dirinya tidak pantas s perusahaan Anda. Sikap arogannya, melibatkan perasaan, serta mencampur urusan pribadinya ke pekerjaan, sangat kurang kompeten!"


*Buagh!


Daniel lepas kendali dan hendak menghajar Zian. Sayang sekali, pukulannya mampu dihentikan dengan mudah. Yang ada, tangan Daniel yang dipelintir. Ia mengerang kesakitan.


"Persetan dengan sayurmu. Meski kau sudah mempengaruhi semua orang, aku pasti akan membongkar semua kebusukanmu!" Daniel memaki-maki, tapi ia juga meringis kesakitan.


"Lihat sendiri bagaimana sikap bawahan Anda. Dia tidak bisa bersikap profesional. Rasa bencinya pada seseorang, membutakan matanya," ucap Zian.


"Benar sekali. Dia katanya sudah meriset tentang sayuran X-tra X-tra. Dan bilang itu sangat bagus, tapi ia tidak bisa menerima siapa pemiliknya. Dia terlalu kekanak-kanakan!" sahut Zanna mencibir Daniel.


Sementara itu, ayahnya Zanna nampak bingung. Ia kesusahan menentukan keputusan. Ia memiliki hutang budi dengan orang tua Daniel, jadi ia tidak bisa memecat Daniel.


"Apakah tidak ada syarat lain?" Ayahnya Zanna mencoba meminta keringanan.


Zian hanya menggeleng. "Saya sudah terlanjur muak dengan pria ini. Dia bahkan tidak punya keinginan untuk minta maaf."


"Saya beritahu sesuatu, jika tidak ada Zanna. Saya sudah menjalin kontrak dengan kompetitornya Anda. Karena Zanna, saya tidak akan mau menjalin hubungan dengan mereka. Itu adalah hak istimewa, apakah masih perlu diragukan?" Zian mencoba menghasut.


Karena masih belum berhasil. Zian izin ke kamarnya sebentar untuk mengambil sesuatu.


"Ayah, tidak usah mempertahankan Daniel! Dia memang sangat kurang. Tidak bisa bersikap profesional." Zanna membujuk ayahnya.


Daniel cuma diam, ia benar-benar terpojok. Melawan hanya akan menambah masalah untuknya, ia sekarang hanya bisa berharap pada hubungan keluarga dengan keluarga Zanna. Hanya itu yang bisa membuatnya bertahan.


Zian kembali dengan sebuah berkas. Itu adalah surat perjanjian kontrak yang telah dibuat oleh manager restoran.


"Silahkan dibaca isi kontrak ini. Saya jamin akan sangat menguntungkan kedua belah pihak." Zian memberikan berkas itu. Ayahnya Zanna membaca secara seksama.


"Huh, ya. Ini perjanjian yang bagus, tapi saya masih memiliki utang budi."


"Itu tidak perlu dipikirkan. Anda tinggal bercerita apa adanya, kenapa anak kesayangan teman Anda itu bisa dipecat!" usul Zian.

__ADS_1


Daniel langsung berkeringat dingin. Ia sudah tahu bagaimana sifat orang tuanya.


__ADS_2