
Zian berencana menambah produk baru pada olshop miliknya. Ia memberikan pemberitahuan pada semua customer-nya.
"Huh, oke. Aku menjanjikan lima belas hari dari sekarang akan ada produk baru."
Zian selesai membuat pengumuman itu. Beberapa menit berselang, para langganannya berkomentar. Mereka nampak sangat menanti-nanti hal tersebut. Mantan tentara yang telah beralih profesi menjadi pengusaha tanaman itu tersenyum.
"Yah, bisnis ini sudah berkembang dengan baik."
Setelah itu, Zian harus melanjutkan kegiatan packing-nya. Memang belum selesai semua.
Selepas itu, Zian membiarkan kurir untuk menjemput semua paket yang perlu diantar. Ia terlalu malas untuk keluar rumah.
"Selesai! Setelah ini bisa santai sebentar." Pria merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Tiba-tiba Zian teringat dengan perkataan Zanna tentang mempunyai lahan yang berada dekat dengan rumahnya.
"Membeli tanah untuk kamuflase? Masuk akal, pasti suatu saat akan ada klien yang ingin melihat langsung di mana sayurannya ditanam. Jika aku tidak bisa menunjukkannya, maka akan jadi bencana."
Zian mulai berpikir untuk membeli, tidak, caranya membeli lahan yang berada di wilayah pesisir.
"Bisa tumbuh tidak ya? Meskipun aku membuat green house, tapi itu tidak akan bekerja pada semua sayuran. Ada beberapa sayuran yang bergantung pada iklim. Huh, Apakah aku harus membuat green house yang punya teknologi yang bisa membuat iklim buatan."
Rencana itu terlalu mahal, Zian sudah menduganya. Ia tidak berniat ingin mengeluarkan uang banyak pada hal itu.
"Air dari kolam hanya membantu tumbuh dan hidup. Sayuran yang dihasilkan tidak akan memiliki kualitas yang sama. Itu akan jadi penurunan kualitas. Semua orang pasti bertanya-tanya?"
Zian merasa semua hal itu merepotkan. "Menggunakan larutan bunga kelopak berbagai warna. Tidak, terlalu boros."
Setelah berpikir dengan keras, Zian masuk dalam kesimpulan untuk tidak memperdulikan kualitasnya. Ia bisa membuat alibi tentang produksi yang semakin besar, jadi mempengaruhi kualitas. Namun, Zian mengupayakan tidak terlalu jauh kualitas sayurannya.
Sekarang masalahnya adalah mendapatkan semua lahan yang ada di sekitar rumahnya, daerah pesisir dekat laut.
"Aku tidak tau siapa saja yang memiliki tanah itu. Hmm, harus minta bantuan orang."
Zian mengambil ponselnya dan mengubungi seorang perempuan.
__ADS_1
"Umm, Anastasia. Aku butuh bantuanmu, apa kau sibuk?"
"Oh, tentu tidak, Tuan. Walikota Anis selalu berpesan untuk membebaskan tugas jika Anda meminta bantuan."
'Guh, aku seperti lebih penting dari perkejaannya sekarang?' pikir Zian yang merasa tidak enak. Namun, ia memilih acuh saja.
"Senang mendengarnya. Apa kau bisa mencarikan seseorang yang bisa membantuku menentukan Tuan tanah, aku ingin membeli atau mnye aku lahan." Zian mengutarakan maksudnya.
"Saya bisa mengurusnya, Tuan tenang saja. Saya punya kenalan yang bisa membantu Anda. Saya akan menghubungimu dulu."
"Ouh, ok. Terima kasih atas bantuannya, Anastasia."
"Saya akan mengabari Anda secepatnya."
Panggilan diakhiri. Zian ingin bersantai lagi, tapi baru beberapa detik berselang, sudah ada panggilan lain. Ia mengira itu adalah Anastasia yang mungkin lupa untuk memberitahukan sesuatu. Ternyata salah.
Orang yang menghubungi Zian adalah manager restoran.
"Oh, manager. Ada sesuatu yang penting?" tanya Zian.
"Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus."
"Sekarang kita tidak perlu cemas lagi pada pihak ketiga seperti pemerintah yang bisa mengusik."
"Yap, benar sekali!" Zian tersenyum lebar. "Kita dengan begini bisa memakai nama perusahaan untuk membeli atau menyewa tanah."
Zian memutuskan untuk segera menuju ke restoran. Ia hendak mengambil berkas-berkas pendaftaran perusahaan.
"Aku akan menunggumu," ucap manager restoran sebelum memutus panggilannya.
Zian cepat menuju ke lokasi. Manager restoran langsung menyambutnya dan menyiapkan berkas yang diminta Zian.
"Yah, terima kasih," ucap Zian memasukan beberapa berkas ke dalam tas yang ia bawa.
"Untuk rencana membeli atau menyewa lahan itu. Rencananya bakal di mana?" tanya manager restoran.
__ADS_1
"Kurasa di daerah pesisir yang dekat dengan rumahku," jawab Zian. "Dan yah, kau tidak perlu cemas. Aju memiliki metode tersendiri untuk menumbuhkan tanaman-tanaman itu. Semuanya masih sesuai rendah." Zian bisa membaca apa yang manager restoran.
"Baiklah, aku mengandalkanmu."
Zian mendapat pesan dari Anastasia. Itu adalah nomor telepon seseorang, perempuan itu menyuruh Zian menghubunginya.
"Kita tidak bisa berbincang lama-lama. Aku ada urusan," beritahu Zian jujur.
"Itu bisa dimengerti." Manager restoran mengangguk. Zian hendak keluar dari ruangan pribadi milik si manager. Ia mendadak teringat sesuatu.
"Oh, ya. Mulai minggu depan, aku akan memasok lebih banyak sayuran ke restoran ini",
"Eh? Benarkah? Itu sangat bagus."
"Ya nantikan saja." Zian keluar dari ruangan itu. Ia langsung menghubungi nomor telepon diberikan padanya. Dari pejabat pajak.
"Oh, perkenalan. Saya Zian Zaidan, disuruh menghubungi Anda lewat rekomendasi Bu Anastasia."
"Ya, saya sudah mendengar sedikit gambarannya. Saya bisa membantu Anda, kita bisa bertemu untuk mengurus masalah ini besok. Bagaimana?"
"Saya setuju. Saya akan mengirimkan alamat dari lahan yang ingin disewa."
"Baiklah, Anda yang mengatur semuanya."
Keesokan harinya ... pejabat pajak datang ke rumah Zian. Ia bukan mengurus masalah perpajakan, tapi hal lain.
Zian mempersilahkannya masuk, dan ternyata tamu Zian pada hari itu bukan ia seorang. Ada orang lain.
"Saya juga membawa kepala desanya."
"Itu malah sangat membantu." Pejabat pajak mengangguk. Ia berjabat tangan dengan Zian dan kepala desa.
Semua orang telah lengkap, Zian bisa memulai proses pembeliannya. Berkat mereka berdua, tidak susah untuk mencari lahan yang diinginkan.
Fase pertama selesai, menuju ke fase selanjutnya. Zian perlu menghubungi sang pemilik tanah. Namun, kegiatan itu akan dilaksanakan besok.
__ADS_1