
"Kita mau masak apa nih?" tanya Zanna yang antusias.
"Apakah masih perlu bertanya? Pengusaha sayuran lho," balas Zian yang sedikit bergurau.
"Yeuuu, bisa saja kan memasak selain bangsa sayuran. Tapi, sayuran terlalu luar biasa, bahan makanan lain bakal kalah," puji Zanna yang blak-blakan. "Aku lama-lama bisa jadi vegan nih, gara-gara kamu."
"Malah bagus dong!" Si mantan tentara menyiapkan sayuran yang bakal dimasak.
"Ya bukan lah, tidak bagus sama sekali. Aku bisa jadi kurus dan lemah karena kekurangan protein."
"Ada benarnya. Eh tapi kita sepertinya terlalu banyak ngobrol. Ayo masak supaya cepat makannya."
Zian memberikan seikat sawi putih pada zanna agar bisa dicuci. Setelah dicuci, Zian menyuruh untuk memasukkan sawinya ke dalam rendaman air.
"Air apa ini?" tanya Zanna yang penasaran. Air dalam wadah itu agak berwarna kehijauan.
"Resep rahasia yang akan membuat sayuran ini semakin enak."
"Benarkah?" Zanna buru-buru memasukan semua sawinya ke sana.
Mereka selanjutnya menyiapkan komponen lain sembari menunggu sawi putihnya terendam.
Menu makan siang itu beres setelah mengahabiskan waktu hampir setengah jam. Selain sawi putih, ada juga ikan goreng. Yah, mereka tetap butuh asupan protein.
"Ummm? Ini enak, sawi saja bisa seenak ini." Zanna dengan lahap memakan jatah makannya. "Kenapa sih, kau bisa menanam sayuran ini? Ini sungguh maha karya. Cita rasanya melebihi semua sayuran yang ada." Perempuan itu tidak henti-hentinya memuji, meski mulut penuh dengan makanan.
"Aku sudah bilang sebelumnya, ini rahasia perusahaan."
"Ck, curang! Selain itu, di mana kau menanam semua sayuran itu? Punya lahan yang luas?"
Zian berhenti makan sejenak. Ia kebingungan sebentar atas pertanyaan Zanna.
'Huh, dia ini! Kenapa pertanyaannya mengarah ke situ?' pikir Zian.
"Yah, ada kok. Tapi bukan lahan yang luas, bisa dibilang seperti Charen yang punya green house," beritahu Zian.
"Gitu ya." Zanna nampak belum terlalu puas dengan jawaban yang diberikan, tapi ia memutuskan untuk tidak mengulik lebih dalam. Fokus untuk menghabiskan makan siangnya.
"Huh, makasih atas makan siangnya!" ucap Zanna sangat berterima kasih.
__ADS_1
"Sawi putih ini sangat enak, Zian."
"Syukurlah kalau kau suka." Si mantan tentara membereskan semua piring-piring kotor. Zanna dengan sigap mencegah.
"Cukup! Cukup! Biar aku saja!" Zanna mengambil semua piring di tangan Zian dan menyuruhnya duduk kembali.
"Oke."
Zanna dengan senang mencuci semua peralatan makan yang kotor.
"Hm, Zian. Sawi putih tadi tidak masuk daftar sayur yang kau pasok ke restoran, kenapa begitu?" tanya Zanna dari dapur, di sela-sela ia mencuci piring.
"Sawi putih itu masih dalam masa pengembangan. Aku belum berani menjualnya bebas di pasaran."
"Meski begitu, sawi itu sudah sangat enak padahal belum sempurna, kan?" Zanna telah beres mencuci piring terus menghampiri Zian lagi.
"Aku mau sayur itu juga diikutkan saat pengiriman selanjutnya." Perempuan itu tiba-tiba berkata.
Zian agak kaget. "Serius? Tapi kalo itu maumu, apa boleh buat." Ia memilih mengiyakan saja.
"Ok, terima kasih."
"Zian, green house-mu pasti berada jauh dari sini. Kenapa tidak membangun itu dekat dengan rumahmu? Di sini banyak ada lahan kosong dan bekas tambak terbengkalai. Manfaatkan saja itu," usul Zanna.
Zian sebetulnya sudah memikirkan hal ini agar orang-orang tidak curiga, dari mana ia menanam sayurannya itu.
"Kurasa itu ide yang bagus, aku mungkin bisa memangkas ongkos perjalanan. Yah, usul diterima." Zian mengangguk setuju.
"Okeeeee .... kalau begitu, aku merekomendasikan untuk menghubungi Charen. Keluarganya juga punya usaha di bidang perumahan. Ia bisa mengurus masalah lahan dan pembangunan green house."
"Cabang bisnisnya ternyata banyak juga. Baiklah, aku menyerahkan urusan itu padamu, Zanna."
"Tugas diterima."
Setelah itu, Zanna memutuskan untuk izin pulang. Ia cukup lama di rumah Zian, padahal ada tugas yang harus dikerjakannya.
"Makasih untuk makanannya dan tanaman ini!" Perempuan itu berbalik setelah memberi lambaian tangan. Namun, nasibnya agak apes, ia terjegal kakinya sendiri.
Zian dengan reflek bergerak untuk menjadi bantalan untuk Zanna, agar perempuan itu tidak mengalami benturan. Namun, masalahnya adalah pose mereka yang bikin salah paham. Zanna menindih Zian, wajah mereka sangat dekat, satu sama lain bisa merasakan embusan nafas.
__ADS_1
"Maaf, Zian."
Cup ....
Zanna buru-buru bangkit, ia tidak mengalami cidera apa pun. "Makasih sudah menyelamatkanku dan pot tanamannya."
Perempuan itu langsung pergi begitu saja. Sementara itu, Zian masih belum mengerti dengan kejadian tadi, begitu cepat dan ia merasakan sensasi berbeda di bibirnya.
"Eh? Apa tadi?" Zian berdiri dengan memegangi bibirnya. "Sensasi itu, sangat cepat?!"
Pria itu langsung berteriak begitu sadar pada kejadian yang baru saja terjadi.
"Itu ciuman pertamaku!"
.
.
.
.
Zian selama beberapa hari tidak pernah meninggalkan rumah. Ia sibuk mengurus kebun sayurnya. Entah itu memperluas lahan, menyiram, merawat, serta menanam. Apalagi Zian harus menyiapkan pasokan sayuran yang harus dikirim ke restoran-restoran di seluruh kota, bahkan luar kota. Popularitas sayurannya sudah sangat menyebar luas.
"Ugh, sial. Ini sangat melelahkan. Aku belum lagi melakukan pengecekan pada ikan-ikan itu," keluh Zian, ia abis meminum air kolam.
"Yah, emang harus segera membuat lahan di dunia luar dan memperkerjakan orang. Terlalu melelahkan untuk dilakukan sendiri."
Setelah itu, Zian harus juga melakukan panen dan menyimpannya. Nanti akan dikirim ke berbagai tempat.
Rutinitas keesokan harinya, Zian memasukkan bibit tanaman sukulen ke toko onlinenya. Semua pelanggan setianya sudah menantikan itu, mereka memang menunggu-nunggu produk baru.
"Huh, sudah beres. Saatnya menunggu."
Semua produk baru yang ditambahkan langsung ludes terjual dalam hitungan menit. Zian sangat terkejut ketika mengecek akun Online shop nya.
"Hah? Sudah habis?"
Zian sekarang harus mengemas semua pesanan itu ..... sendiri.
__ADS_1