
"Maaf mengganggu waktu Anda, tapi saya ada sesuatu hal yang diperbincangkan," ucap manager restoran dengan sopan, ia ditemani dengan beberapa waiters dan juru masak.
"Tidak masalah, apa yang bisa aku bantu?" jawab Zian santai.
Dosen Lam dan keluarga telah pulang lebih dulu, Zian satu-satunya tamu yang masih berada di restoran. Namun, ia malah dicegat. Yah, itu sesuai rencana ... rencana untuk memasarkan produksi sayurannya.
"Kita bisa mendapat tempat yang lebih nyaman untuk berbisnis!"
Zian mengangguk saja terhadap pernyataan si manager, ia mengikutinya ke suatu ruangan dekat dapur. Mungkin ruangan pribadinya.
"Silahkan masuk!?" Ia mempersilahkan Zian masuk. Para pegawainya diminta untuk kembali bekerja.
"Umm, urusan bisnis itu? Apakah ada hubungannya dengan sayur yang aku bawa?" tebak Zian tepat saat ia duduk di sofa yang empuk. Sementara manager restoran sibuk menyiapkan teman diskusi mereka.
"Hmmm, apakah Anda sengaja membawa sayuran itu agar kami terkesan?" Manager restoran tersenyum, muslihat Zian memang mudah terbaca sebetulnya.
"Ahahaha, harusnya sudah jelas!?" Zian tertawa lebar sembari memegangi kepalanya. "Apakah sayuranku berhasil menarik perhatian kalian?"
"Huh, ya tentu saja, Tuan Zian. Sayuran Anda sangat berkualitas tinggi. Metode apa yang Anda gunakan?" Manager restoran mendekat ke arah Zian dengan sebotol wine.
"Ahaha, tidak. Rahasia perusahaan. Yah, jika tawarannya bagus, aku bisa memasok sayuranku ke restoran ini!"
Manager mendengarkan dengan hikmat sembari menuangkan wine ke gelasnya Zian.
"Yah, itu mudah. Kami bisa membayar mahal untuk mahakarya Anda. Restoran juga bisa mendapat timbal balik, sayur-sayuran itu itu terlalu luar biasa."
"Selain harga, aku punya beberapa syarat!" Zian dengan senang hati meminum wine yang dituangkan oleh manager restoran.
"Apa syaratnya?"
Zian tersenyum puas, ia mengangkat satu jari telunjuknya. "Pertama .... aku ingin memanfaatkan relasi restoran ini, promosikan sayuran ini agar terkenal di kalangan orang-orang elit."
"Itu syarat yang mudah!"
Zian mengangguk, ia menambahkan jari tengah di samping jari telunjuk. "Yang kedua, jangan ada hubungan dengan Wiland Resto."
__ADS_1
"Huh? Kenapa?" Manager restoran menaikkan sebelah alisnya. Ia jelas-jelas bingung dengan permintaan Zian yang kedua. Jika ingin sayurannya dikenal luas oleh kalangan atas, maka Wiland Resto juga termasuk. Itu adalah salah satu restoran bintang lima di kota.
"Ini akan jadi rahasiaku sendiri. Intinya, apakah permintaan ini akan dikabulkan?"
Manager berpikir sebentar, restoran yang ia kelola memiliki hubungan dengan Wiland Resto. Jika ia memutuskan hubungan kerja sama secara tiba-tiba, itu akan menimbulkan konflik. Tapi, ia telah memperhitungkan semua untung dan ruginya. Ia akan lebih banyak mendapat untung dari pada rugi.
"Huh, okay. Saya setuju, ini adalah pertaruhan yang besar!"
"Senang mendengarnya."
Alasan Zian menarget Wiland Resto adalah karena Zanna. Restoran ini adalah pesaing utama dari usaha milik keluarga Zanna. Ia tentu tidak ingin restoran ini bisa mematikan pemasukannya Zanna.
"Apakah hanya itu syaratnya?" tanya manager memastikan.
"Umm yah, cuma dua saja. Jadi, apakah untuk sementara adalah perjanjian lisan?"
"Ah, ya. Untuk saat ini, tapi tidak akan lama. Besok kita akan melakukan perjanjian kontrak yang sah," papar si manager menjulurkan tangannya kepada Zian, meminta jabat tangan.
Zian tersenyum, menatap pria di hadapannya lekat.
"Semoga ini bisa menjadi kerja sama yang saling menguntungkan!"
"Aku juga harap begitu."
Mereka selanjutnya berbincang sebentar, saling berbasa-basi. Sekarang telah hampir setengah jam. Zian memutuskan untuk pamit. Namun, ia baru kepikiran sesuatu.
"Oh, ya, aku belum mendaftarkan izin usaha sayuran itu, belum memiliki nama. Apa kau juga bisa mengurus hal ini?" pinta Zian.
"Dengan senang hati, itu sangat mudah. Anda perlu memberikan berkas-berkas yang diperlukan."
Zian mengangguk, "soal nama merk-nya. Kau bisa atur sendiri, aku tidak peduli!"
Zian berniat langsung capcus pulang, tapi dengan segera dihentikan. Ia memang tidak tahu-menahu soal membuat merk sendiri.
"Ada sejumlah biaya yang diperlukan. A——"
__ADS_1
"Oh, berapa biayanya?" sela Zian, ia tidak mau buang-buang waktu. Ia ingin segera kembali ke rumah.
"Ah, saya sudah bilang kan. Saya yang bakal mengurus semuanya. Anda cuma perlu goyang kaki di rumah," ucap si manager restoran nada bercanda.
"Ya, tidak sampai goyang kaki. Mengurus sayuran-sayuran itu melelahkan," balas Zian cemberut.
"Saya cuma bercanda."
Setelah itu Zian tidak perlu segan untuk keluar dari ruangan itu. Rencana untuk menarik perhatian restoran mahal itu sukses, ia tidak perlu mengurus semuanya sendiri. Ia hanya perlu berlebih dan berkebun, itu saja.
Pria dengan kemeja wanita krem itu menghela nafas. Sang manager merasa bersyukur telah menemukan kolega yang bagus, bagaikan tambang emas.
"Aku harus menunjukkan kesan yang bagus. Dia jelas bukan orang biasa karena dekat dengan keluarga walikota. Pasti sangat menguntungkan jika berkerja sama denganku. Aku harus membuat dia merasa hutang budi."
.
.
.
.
"Woah, hmm? Sudah pagi?" Zian yang masih setengah sadar mematikan alarm ponsel. Ia melihat jam, ternyata baru jam 5.
Namun, tidak ada waktu bermalas-malasan. Ia langsung bangun, membasuh muka, terus mengganti baju tidur dengan baju olahraga. Zian berniat joging di pantai, mencari udara segar.
"Huh, udara yang sangat bersih. Tinggal di sini adalah pilihan yang tepat."
Zian berlari kecil di pinggir pantai, sesekali merasakan deburan ombak di kaki. Ia memang bertelanjang kaki, pasir putihnya terasa lembut dan halus.
Tidak terasa bahwa matahari telah meninggi, waktu telah menunjukkan pukul 6. Zian kembali ke rumah.
"Huh, orang di restoran akan segera mengambil pasokan sayurannya. Hmm, aku tidak menyangka yang awalnya cuma iseng bisa memunculkan pundi-pundi uang," ucap Zian menengadah ke langit. Hidupnya banyak mengalami perubahan setelah mendapat Lukisan peninggalan leluhurnya.
Setelah duduk sebentar di teras, Zian segera menyiapkan sayuran-sayurannya untuk dikemas.
__ADS_1