Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 32


__ADS_3

Zian mengernyitkan dahi pada ponsel yang terpampang nama Zanna. Ia memikirkan perihal apa perempuan itu menghubunginya, mungkin perkembangan pasal insiden saat meeting.


"Halo, Zanna. Ada apa ya?" ucap Zian yang langsung menanyakan maksud.


Zanna tidak langsung membalas, ia malah terdengar cekikikan dari seberang panggilan. Perempuan itu mungkin sedang bagus suasana hatinya.


"Zian, Zian. Ayah akhirnya memecat Daniel. Ouh, dia benar-benar tidak bisa berkutik. Apalagi saat dia dibentak oleh ayahnya sendiri," beritahu Zanna yang sedikit kurang jelas, biaranya cepat dan bercampur tawa.


Zian mengangguk-angguk saja, ia mengerti dan sudah memprediksi hal yang hendak diinformasikan oleh Zanna.


"Ah, ini berita yang tidak terduga. Bisa secepat itu ya?" tutur Zian yang pura-pura kaget.


"Hmm yah ... ini adalah keputusan yang sangat berat bagi ayah. Dia kurang tidur semalam untuk membuat keputusan ini. Ayah juga perlu menghubungi ayahnya Daniel untuk memberikan alasan pemecatannya Daniel," balas Zanna yang sedikit merasa bersalah, juga cemas dengan kondisi ayahnya. Itu adalah beban pikiran yang berat. Beruntung masalahnya selesai dengan akhir yang bukan merugikan.


"Gitu ya?" respon Zian singkat. Ia bertelepon sambil mencuci sayurannya. Yah, ia hendak memasak saat Zanna menelponnya.


"Meski begitu, ayah tetap berusaha mencarikan pekerjaan baru untuk Daniel. Huh, ayah memang merasa sangat berhutang pada keluarganya Daniel." Zanna sangat menyayangkan sikap ayahnya yang tidak enakan.


"Ya itu bisa dibahas lain kali. Namun, syukurlah. Dengan begini pria itu tidak akan mengganggumu lagi!" Zian asal ceplos saat ia memotong-motong wartel.


Zanna tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Ia merasa sangat senang bila Zian peduli padanya.


"Terima kasih ya. Semua ini berkatmu, aku senang kau peduli padaku." Perempuan itu mesem saat mengatakannya. "Eh? Kau lagi masak ya?" celetuknya karena mendengar bising saat Zian memotong-motong sayuran.


"Benar. Kau mau ke sini untuk makan bersama?"


Zanna langsung ingin teriak, tapi ia sadar harus jaga image.


"Ahahaha, maaf ya. Tapi sepertinya tidak bisa, lain kali mungkin. A-aku juga tidak enak karena cuma bisa ngerepotin, hehe," tolak Zanna sedikit sungkan. Uh, ia menyesal telah bilang itu.

__ADS_1


"Oke, tapi ... oh ya, kau sudah bisa mengambil sayurnya besok, kirim beberapa orang!" beritahu Zian, ia mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh baiklah. Tapi, aku akan ke sana sendiri, maksudnya aku juga akan ikuti ke sana. Aku akan mentraktirmu besok. Terlalu banyak hutang budi."


"Begitu ya? Silahkan, tapi ada tidak perlu mendapat apa-apa."


"Tidak! Kau pantas mendapatkan ini. Tunggu saja besok, ya!" paksa perempuan itu. Zian tidak bisa membantah, jadi cuma bisa mengiyakan.


"Oke."


Selanjutnya Zanna memutuskan sambungan teleponnya. Zian langsung menghembus nafas. Setelah itu lanjutkan acara masaknya dengan santai.


Zian seharian itu tidak melakukan apa-apa, ia bersantai dan sesekali mengecek kondisi kebunnya.


Saat sore hari, Zian kedatangan paket. Ia telah memesan perlengkapan tambahan untuk menanam tanaman sukulen. Yah, ia menerima pot kecil dan lain sebagainya.


Zian langsung menggunakan perlengkapan berkebun yang baru dibeli. Ia memperluas lahan, menanam tanaman baru. Tidak lupa, yang paling penting adalah menyiram semua tanaman.


"Beres juga akhirnya."


Semua pekerjaan telah dilakukan, pria itu keluar dari dalam lukisan untuk mandi lanjut makan. Zian tidur nyenyak dan bangun keesokan harinya.


Zanna akan datang hari ini untuk mengambil sayuran yang dijanjikan oleh Zian. Perempuan itu telah bersiap dengan riasan yang cantik, pokoknya ia berusaha memoleskan dirinya secantik mungkin, meski sudah dikenal cantik.


Zian mendengar suara bel pintu, ia juga tadi mendengar suara mobil box. Tebakannya adalah Zanna, perempuan itu sudah datang.


Zian turun ke bawah untuk menyambut tamunya.


"Kau datang pagi sekali, Zanna ....." Zian mendadak berhenti bicara. Otaknya lupa untuk memikirkan kata selanjutnya, hilang tiba-tiba.

__ADS_1


'Perempuan ini?! Dia bisa secantik ini?' batin Zian memerhatikan Zanna, ia melirik dari atas ke bawah. Terlihat sempurna.


"Yah, tidak baik menunda-nunda," balas Zanna tersenyum dengan malu-malu. Ia kemudian menyadari by Zian tidak segera merespon, dan malah nampak bengong.


"Zian, Zian, ekhem ...." Perempuan itu melambaikan tangan di depan wajah Zian. Itu tidak cukup, ia sekalian menjentikkan jarinya.


"Ahahaha, maaf untuk yang itu. Tapi, kau terlihat cantik, Zanna," puji Zian tulis. Zanna kesulitan untuk tidak bereaksi berlebihan, ia menggulung ujung rambutnya.


"Yah, hanya mencoba memoles diri. Syukur hasilnya bagus. Ekhem .... Zian, perkenalkan, ini adalah manager yang baru, penggantinya Daniel.


Orang yang datang bersama Zanna hanya mengangguk, ia terus mengambil sayuran yang telah disiapkan oleh Zian.


Zian dan Zanna ditinggalkan berdua.


"Ahahaha, urusan seriusnya sudah selesai. Bagaimana kalau bersantai?" gurau Zanna menyikut Zian, memberikan kode.


"Kau mau apa——"


"Bagaimana kalau kita pergi ke pantai. Tolong temani dan berikan tour guide yang bagus!" Zanna tersenyum lebar.


Zian menghela nafas dan tersenyum. "Jalan-jalan di pantai ya? Huh, oke ... ayo kita ke sana!"


Zanna sontak bersorak, ia reflek menggandeng tangan Zian ran memintanya untuk menunjukan jalan.


"Ayo, ayo. Pasti seru banget." Zanna sangat antusias. "Terima kasih. Ini akan menjadi kencan yang bagus."


"Kencan?"


Kedua orang itu pun menghabiskan waktu mereka di pantai, selayaknya pasangan kekasih.

__ADS_1


__ADS_2