
Zian mengabulkan permintaan Zanna yang ingin makan masakannya lagi. Ia tidak keberatan, toh Zian memang suka memasak.
Zanna kali ini tidak mau cuma duduk manis, ia ikut pergi ke dapur untuk membantu Zian sebisanya. Seperti memotong sayuran atau sebagainya.
"Sayur-sayuran ini memang tampak sangat segar. Gimana sih, cara menanamnya? Ini luar biasa, tau!" tanya Zanna mengagumi sebuah tomat merah yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Ini rahasia perusahaan, Zanna," balas Zian sembari bergurau.
Mereka masak bersama dengan gembira. Sesekali melempar candaan satu sama lain, colek pipi masing-masing dengan minyak atau tepung.
Setelah setengah jam lebih berkutat di dapur, mereka berdua siap dengan sarapan sehat, menunya didominasi sayur. Zanna paling suka salad yang dibuat oleh Zian. Itu benar-benar enak. Nasi gorengnya juga tak kalah enak.
"Terima kasih hidangan lezatnya ... ups, maaf!" Zanna tidak sengaja bersendawa.
"Ya, sama-sama." Zian langsung membereskan bekas piring.
"Mari kubantu." Mereka mencuci piring bersama. Tidak, malah bermain busa.
"Ahahaha, rumah ini hebat. Ayo, antar aku berkeliling Istanamu!"
"Ini bukan istana, masih gubuk kali."
"Sukanya merendah!?"
Zian pun mengadakan tur khusus untuk Zanna. Yah, perempuan itu terkagum dengan segala isi dari gubuk kecil yang baru dibeli Zian.
"Pemandangannya bagus. Kau pasti bisa melihat sunset dengan jelas di sini."
Zian mengangguk.
"Huh, aku sangat iri padamu." Zanna duduk di pinggir kolam, menendang-nendang air. "Pasti menyenangkan jika hidup tidak ada yang mengatur, bisa bebas ini itu. Di rumah, aku selalu dikekang. Apalagi aku akan dijodohkan dengan Daniel!" Zanna tiba-tiba murung.
Zian sedikit terkejut mendengarnya. Ia ikut duduk dengan Zanna di tepi kolam.
"Maaf, lancang. kau juga punya hak untuk mengabaikan pertanyaan ini. Kenapa kalian bisa dijodohkan?" tanya Zian yang sebetulnya agak segan.
"Ceritanya agak sedikit panjang. Tapi, intinya, papaku dengan ayahnya Daniel itu bersahabat. Papaku memiliki utang budi, nyawanya pernah diselamatkan." Zanna mengambil jeda untuk membiarkan Zian merespon. Tapi, pria itu cuma diam.
"Sebagai balas budi, papaku membiayai hidup anak sahabatnya itu. Diberi pendidikan, diberi pekerjaan, terus aku dijodohkan dengannya. Ahh, itu menyebalkan!"
"Oh, begitu rupanya? Jadi, apakah kau menerima perjodohan itu?" goda Zian.
"Apakah masih perlu ditanya? Tentu tidak, karena papa. Aku jadi tidak bisa menolak!" Zanna dengan bingung memegangi kepalanya.
"Apakah aku cuma barang pelunas hutang?"
"Tentu tidak! Huh, kau sudah membicarakan hal ini baik-baik dengan papamu?" tanya Zian.
"Sudah dan tidak digubris. Semua orang di perusahaan juga sudah tau kalau aku dijodohkan dengan Daniel."
__ADS_1
Zian diam sebentar untuk berpikir. 'Huh, ya, aku mungkin bisa membantu zanna.'
"Begini saja, aku ada sebuah ide untuk mengatasi masalahmu," beritahu Zian, ia tersenyum lebar, menandakan kalau idenya memiliki kemungkinan berhasil yang tinggi.
"Ide seperti apa?" Zanna mengernyitkan dahi..
"Pokoknya ada lah, ini adalah jalanan keluar untuk masalahmu. Oh, selain itu ... aku akan mengirimkan pasokan sayuran sesuai perjanjian ke restoran yang kau kelola. Yah, meski ini belum resmi, tapi aku akan menyamarkannya."
"Serius kan, kau bisa menyelesaikan masalahku?" tanya Zanna meminta kepastian.
Zian menghela nafas, "Yah, aku berjanji. Kau tau akan berjodoh dengan pria itu!"
Zanna lantas tersenyum lega. Ia kemudian mendapat panggilan telepon dari ayahnya.
"Umm, iya, Pa. Ada apa?"
Pihak yang menghubungi rupanya tidak ingin berbasa-basi. Tidak ada yang bertanya kabar lebih dulu, langsung menuju inti pembicaraan.
"Apa semua yang dikatakan Daniel itu benar?"
"Hah? Maksudnya?" Zanna reflek melakukan lost speaker agar Zian juga mendengarnya.
"Jangan ceroboh, Zanna. Melakukan kontrak dengan sembarangan pihak yang belum memiliki usaha resmi. Itu beresiko!"
"Bukan, Pa. Aku berani jamin tidak akan ada sesuatu——"
Setelah itu panggilan teleponnya terputus.
"Ck, apaan si Daniel itu? Dia pasti bercerita yang tidak-tidak!" geram Zanna, yang kesal memasuki ponselnya ke dalam tas. Ia menendang-nendang air.
"Sudah, lebih baik kau kembali dan bicara baik-baik dengan ayahmu. Soal urusan Daniel, tidak usah kau cemaskan! Aku pastikan akan terselesaikan!" Zian mencoba menenangkan Zanna.
"Oke, baiklah. Aku percaya padamu." Zanna merasa tenang saat menatap mata Zian.
Zanna berdiri dan langsung pamitan pada Zian. "Makasih sarapan dan tur istananya z Zian. Aku akan berkunjung di lain waktu." Ia tersenyum.
"Ya, gerbang istana ini akan selalu terbuka untukmu." Zian membalas sarkasme Zanna
Zian mengantar Zanna sampai pintu depan.
"Dah, Zian." Zanna melambai kecil.
"Yaaaa."
Setelah Zanna pulang, Zian memutuskan untuk berkebun lagi. Ia telah membeli bibit tambahan. Ladangnya akan dibuat seluas mungkin agar produksi sayuran bisa maksimal. Tapi, ia tidak lupa dengan tanaman hiasnya.
Zian berada di dalam dimensi lukisan sampai tengah hari. Ia keluar karena mendapat panggilan dari asisten walikota, yaitu Anastasia.
"Tuan, ayah dari walikota telah keluar dari rumah sakit. Beliau ingin bertemu dengan Anda," beritahu Anastasia langsung.
__ADS_1
'Yah, dia memang pernah berjanji untuk mentraktirku,' pikir Zian.
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Anastasia."
"Apakah perlu saya jemput?" tawar si asisten walikota Anis itu.
"Oh, tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Kau kirim saja alamatnya!"
"Baiklah, saya mengerti." Anastasia memutuskan teleponnya dan mengirim alamat dari titik pertemuan.
Zian langsung bersiap-siap, ia berkeringat setelah melakukan aktivitas fisik.
"Yap, sebaiknya aku membawa buah tangan." Zian tidak akan datang dengan tangan kosong.
Lalu, sebuah pemikiran melihat di kepala si mantan tentara. Ia tersenyum tanpa sadar.
"Eh? Mungkin itu ide yang bagus."
Zian terus berangkat ke lokasi pertemuan dengan mobil barunya. Hanya 45 menit di perjalanan, ia telah sampai d tempat yang sudah diputuskan. Itu adalah restoran bintang 5 paling terkenal di kota.
"Huh, ini terlalu berlebih!' batin Zian.
Anastasia kemudian memangkas jarak dengan Zian.
"Tuan sudah ditunggu," ucap perempuan itu.
"Oh, tapi sebelum itu. Bisakah kau pergi ke dapur dan memasak menggunakan bahan makanan yang aku bawa?" tanya Zian.
Anastasia diam sebentar, berusaha mencerna perkataan Zian. Beberapa detik berselang, ia akhirnya mengangguk.
"Sangat bisa, Tuan." Anastasia kemudian menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengambil sayuran di bagasi mobilnya Zian.
Sementara itu, Zian bersama Anastasia masuk ke dalam restoran.
'Sepertinya restoran ini sudah dipesan untuk acara pribadi. Tidak pelanggan lain.'
Ayahnya walikota Anis yang paling bersemangat. Ia seketika berdiri dan menyambut Zian.
"Selamat datang penyelamat hidupku!" tangan Zian dijabat. "Aku sangat berhutang budi dengan kebaikanmu!"
"Ahaha, itu bukan apa-apa. Saya hanya melakukan hal yang semestinya, menolong sesama adalah hakekatnya menjadi manusia," balas Zian tersenyum canggung.
"Itu cuma bukan sekedar insting manusia. Ayo, duduk."
Zian duduk, si dosen dari universitas ternama itu menuangkan minuman untuk Zian. Sementara itu, Zian mengangguk pelan pada walikota Anis yang juga hadir di sana.
Tidak berselang lama, tiba tamu selanjutnya. Seorang perempuan muda.
"Aku terlambat."
__ADS_1