Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 22


__ADS_3

Semua perhatian tertuju pada tamu yang datang paling akhir. Zian memerhatikannya baik-baik. Perempuan yang memiliki rambut panjang sedikit bergelombang, terus disemir cokelat, juga kulitnya putih. Tidak diragukan lagi, ia bisa disebut "cantik".


Usai mengucapakan kata maaf yang terdengar setengah-setengah itu, ia asal duduk di samping ayahnya walikota.


"Oh, apakah orang ini yang kakek Lam ceritakan?" ucap perempuan itu, ia tidak melirik Zian sedikit pun.


Dosen Lam atau walikota Anis nampak tidak senang dengan sikap yang diperlihatkan oleh si pendatang baru.


"Kau ini, bersikaplah sedikit sopan, Yayinka——"


"Oh, aku Zian. Kakekmu dan ibumu sering bercerita tentangmu!" Zian dengan ramah menjulurkan tangannya pada Yayinka, ditambah seulas senyum.


Zian tidak ingin timbul suasana tidak menyenangkan di meja makan, maka ia terpaksa menetralisir ketegangan.


Yayinka mengabaikan ramah tamah dari Zian, ia baru mau menjabat tangannya Zian setelah mendapat delikan mata dari sang ibu.


Yayinka memutar bola matanya searah jarum jam. "Huh, Yayinka." Meski begitu, ia tidak berniat melihat rupa dari Zian sama sekali.


'Aku tidak akan bisa akrab dengan gadis ini!' batin Zian dengan topeng muka tersenyum.


Basa-basi itu selesai, Zian dan Yayinka kembali duduk. Dosen Lam menghela nafas sebentar, ia ingin melupakan kejadian barusan. Ia langsung fokus pada Zian.


"Terima kasih sekali lagi atas kedatanganmu, Zian." Dosen Lam mengangkat gelas minumannya, ia ingin bersulang..


Zian cepat tanggap ikut mengangkat gelasnya. "Saya yang harusnya merasa tersanjung karena sudah diundang ke tempat yang indah ini!"


Setelah gelas itu berbenturan dengan pelan, Zian menghabiskannya dalam sekali teguk.


'Huh, dia memang laki-laki baik. Tidak perlu diragukan lagi," batin dosen Lam.


Yayinka justru sebaliknya, ia memberikan respon tidak suka. Ia selalu menatap sinis Zian, hampir sama dengan sikap ibunya saat pertama bertemu dengan Zain. Tapi, Yayinka mungkin lebih keras.


'Dia hanya seorang penjilat! Dia tidak boleh dibiarkan dekat-dekat dengan kakek!' pikir perempuan itu.


"Apakah kondisi Anda sudah baikan?" tanya Zian dengan sopan.

__ADS_1


"Tentu saja. Ini semua berkat ramuan luar biasa yang telah kau berikan padaku. Selain itu, tolong jangan terlalu formal! Bersikap biasa saja."


"Ah, maaf. Saya harus bersikap demikian, Anda adalah sosok ayah dari walikota Anis——"


"Tidak, tidak. Kita di sini setara, sama-sama manusia. Lupakan status dan jabatan!" sela dosen Lam. "Jika tidak ada dirimu, entah apa yang terjadi pada pria tua ini. Intinya, jasamu itu sangat besar, Zian!"


'Huh, aku malah yakin ada sesuatu yang ditambahkan ke dalam obatnya. Kakek tidak mungkin setertarik ini pada seseorang. Pria itu memang ingin masuk ke keluargaku!' Yayinka berpikir negatif. Ia memang tidak akan semudah itu percaya dengan orang lain. Perempuan itu mengira semua orang pasti punya niatan tersembunyi dalam melakukan sesuatu.


"Bukan sesuatu yang besar. Sa——aku hanya menggunakan obat tradisional. Oh, aku kebetulan membawa ramuan itu. Kondisi darurat seperti yang dialami kakek Lam bisa saja terjadi." Zian mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan berwarna kuning. Ya itu jus mangga yang telah diberi ekstrak kelopak bunga tiga warna.


Yayinka cuma bisa menahan kekebalan dengan menunda kepala, bermain ponsel. Ia menggenggam kuat ponsel itu, serasa ingin kehancurannya karena sebal mendengar kakeknya terus memuji Zian.


'Jangan terperdaya, kakek!'


Manager restoran datang tidak berselang lama, muncul dengan para waiters. Mereka membawa menu yang entah mengapa highlight-nya adalah bangsa sayur.


"Kenapa semua menunya dari sayur?" gumam Yayinka bingung.


"Aku ingat tidak memerintahkan Anastasia untuk memesan menu-menu itu?!" sahut walikota Anis.


"Ini adalah permintaan Tuan Zian. Dia ingin Anda sekalian mencicipi sayuran yang dibawanya!" beritahu perempuan itu.


Walikota Anis mengangguk, ia tidak mempermasalahkan menu makanan yang dipesan. Terpenting bisa dimakan. Ia juga langsung menjelaskannya pada dosen Lam dan Yayinka.


Dosen Lam asal mengangguk-angguk saja, ia sepenuhnya percaya pada Zian. Maka sebaliknya dengan Yayinka. Ia sungguh mengutuknya.


"Tidak! Pasti ada obat cuci otaknya di makanan itu! Jangan dimakan——"


Walikota langsung menyumbat mulut anak perempuannya.


"Apaan si, Ma?" sebal Yayinka yang berupa menyingkirkan telapak tangan ibunya yang menyumbat mulut. Yayinka jelas kesal, ia melirik Zian dengan hasrat permusuhan.


'Dia sangat membenciku, ya?' pikir Zian.


"Oh, kakek Lam, ini adalah sayuran yang dikembangkan dan ditumbuhkan oleh temanku. Dia memintaku untuk mencicipinya, jadi aku berpikir bahwa kalian juga harus bisa merasakannya. Dan tidak bisa dibayangkan jika pihak restoran tidak keberatan memakai sayuran ini!" Zian memberitahu alasan ia membawa sayuran itu.

__ADS_1


"Katanya sayuran ini sangat enak?!" Si mantan tentara memaniskan ucapannya.


"Benarkah? Aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya." Dosen Lam antusias pada penjelasan singkat dari Zian.


Yayinka nampak ingin menyela, tapi sang ibu sudah mengawasi, ia bersumpah jika anak perempuannya itu tidak akan keceplosan. Alhasil, Yayinka mati kutu menahan kekesalannya.


Zian kemudian mempersilahkan semua orang untuk memakan hidangan yang disediakan, Anastasia termasuk juga. Dalam satu gigitan, respon yang ditunjukan adalah mata membelalak.


Dosen Lam berhenti makan sejenak, ia melirik Zian. Pria itu cuma mengangguk untuk menanggapinya. Dosenku itu pun langsung lahap memakan segala aneka olahan sayur yang tersaji di meja.


"Ini tidak bisa dipercaya, ini sungguh enak!"


Walikota Anis pada awalnya cuma jaim, ia memasukkan suap demi suap, tapi karena tidak tahan dengan kelezatannya. Ia tidak peduli lagi dengan citranya, ia pun seperti orang yang belum makan selama beberapa hari.


Yayinka yang melihat kelakuan dari ibunya itu mencoba untuk menegur. Tapi, apa daya ia diacuhkan. Gadis itu pun hanya melihat keluarganya makan.


Yayinka lama-lama tidak tahan dengan situasinya, di satu sisi ia belum makan. Ia datang ke restoran untuk makan gratis. Dengan sangat terpaksa, Yayinka mulai menyuapi mulutnya dengan sayuran yang dibawa Zian.


Yayinka memiliki respon yang sama dengan dosen Lam dan walikota Anis, tapi ia sedikit bersikap keras. Tidak mau mengakui.


"Huh, lumayan lah. Kukira seperti kertas amplas!" Ia dengan malu-malu terus menyendok atau menusuk sayur itu ke mulutnya. Zian cuma tersenyum tipis.


'Sialan! Dia sampai membawa sayuran luar biasa ini untuk membuat kakek terkesan. Ia ingin membuat koneksi dengan kakek!' rutuk Yayinka dalam hati, ia melirik Zian dengan kesal.


"Zian, apa kau tidak punya rencana untuk memasarkan sayuran ini? Ini terlalu luar biasa jika disembunyikan. jika kau butuh bantuan, hubungi saja aku, kau juga bisa mengandalkan Anastasia," ucap walikota Anis.


"Terima kasih, aku akan memikirkannya dulu."


Event makan di restoran pun selesai, Zian berniat segera pulang. Tapi, manager restoran tiba-tiba menghampirinya.


Zian tersenyum lebar, rencananya sukses.


'Sesuai rencana.'


.

__ADS_1


__ADS_2