Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 37


__ADS_3

Zian menyanggupi permintaan Charen. Ia berjanji akan mencarikan kayu phoebe


zhennan. Harusnya kayu itu mudah didapatkan asal tahu mencarinya di mana. Mungkin Charen tidak sempat untuk menjelajahi lebih jauh.


"Aku akan mendapatkan kayu itu, kau tenang saja. Umm, kirimkan sejumlah uang untuk membeli kayu itu!"


Zian tidak mau munafik, memang tidak enak atas pemberian Charen tadi. Namun, ia sadar bahwa untuk melancarkan proyeknya, perlu dana yang besar. Ia sedikit ragu jika sisa semua uangnya cukup untuk itu.


"Tentu saja. Berapa dana yang kau butuhkan?" Charen menawarkan sambil membuka ponsel terus menjalankan aplikasi m-banking. Ia bersiap menulis sejumlah nominal uang.


"Secukupnya. Harga kayu itu biasanya berapa?"


"Yah, tentu. Mungkin segini cukup!?" Charen langsung mentransfer sejumlah uang tanpa persetujuan Zian. Pria itu hanya takut jumlahnya terlampau berlebih. Lagi-lagi rasa tidak enak.


Zian mengecek ponselnya, muncul notifikasi transfer. 'Hmm ... apakah ini tidak terlalu banyak? Ah, tapi bodo amat.' ia memilih tidak mau ambil pusing.


"Oke, aku akan segera mencari kayu itu. Aku tidak akan membawa barang mentah, kayu itu bahkan akan siap menjadi peti," ucap Zian yang berniat nyelonong pergi.


"Ehh? Itu terlalu berlebihan dan membuat repot. Hmm, begini saja. Serahkan saja sisanya pada asistenku, kau cuma perlu mencari kayunya. Itu lebih mudah bukan?"


Zian berhenti dan mempertimbangkan penawaran Charen. Ia menghela nafas dan berbalik lagi.


"Oke, deal."


"Selain itu, asistenku juga akan langsung datang besok," beritahu Charen.


"Terima kasih sekali lagi ya," ucap Zian sungkan.


"Aku yang harusnya berterima kasih."


Setelah itu, Zian pergi dan segera mencari kayu phoebe


zhennan. Ia berkeliling kota dan mencarinya lewat internet juga. Agak sulit memang, tapi beruntung karena Zian memiliki backingan seorang asisten walikota. Anastasia hampir tahu tentang informasi-informasi detail semacam itu.


Zian akhirnya berhasil mendapat kayu phoebe zhennan tanpa harus pergi mencarinya ke luar kota. Anastasia sekali lagi adalah bank informasi bejalan.


Setelah mendapat apa yang dicari-cari, Zian langsung kembali ke rumah untuk merencanakan kegiatan hari esok.


Namun, sebelum itu. Zian pergi ke dalam dimensi lukisan untuk menaruh kayu phoebe zhennan. Dia meninggalkan kayu itu terus pergi tidur.

__ADS_1


.


.


.


.


Keesokan harinya.


Zian melakukan rutinitas biasa di awal hari. Ia sarapan, joging di pantai sebentar, terus mandi dan bersiap menyambut utusannya Charen. Selain itu, Zian sudah menyiapkan hal-hal lain.


Ia pergi ke dalam dimensi lukisan sebentar untuk mengambil kayu pesanannya Charen. Pria itu tidak menyerahkan seluruhnya, Zian masih menyisakan untuk dirinya sendiri. Ia punya rencana baru.


Asisten Charen tiba setelah Zian melakukan semua aktivitasnya.


"Oh, kau pasti asistennya Charen. Mohon bantuannya," sambut Zian ramah, mempersilahkan seorang perempuan masuk ke rumahnya.


Zian tidak pernah melihat kehadiran perempuan itu saat berkunjung ke tokonya Charen. Tapi, ia tidak ambil pusing. Asisten tidak harus selalu bersama dengan bosnya, mungkin Charen menugaskannya untuk mengurus sesuatu.


"Ya, saya Kila. Saya yang akan membantu Anda mengurus perencanaan green house," ucap Kila dengan sopan dan formal. Usia mereka sebaya, jadi Zian merasa tidak nyaman disapa dengan formal. Pada dasarnya mereka setara.


"Tidak usah terlalu sopan, Kila. Usia kita tidak terpaut jauh, panggil saja seperti Charen."


zhennan?"


Zian menggeleng. Ia tahu tidak baik membiarkan tamunya terus-terusan berada di ambang pintu. Jadi, Zian mempersilahkan Kila masuk dulu sebelum melakukan pembicaraan tentang agenda hari ini.


"Terima kasih."


Zian menyajikan teh dan kudapan. Ia juga sudah mengambil kayu pesanan Charen dari lukisan, tinggal memberikannya pada Kila.


"Aku sudah mendapatkan kayunya. Kau tinggal memberikannya pada Charen dan buatlah peti untuk kakeknya."


"Wah, tak kusangka bisa secepat ini. Tapi, syukurlah," lega Kila melihat kayu phoebe zhennan yang telah menjadi seonggok papan dalam jumlah yang lumayan banyak.


"Kita bisa langsung ke masalah green house, kan?" tanya Zian.


Kila mengangguk. "Tentu saja."

__ADS_1


Sebelum pergi men-survey lapangan, Zian membiarkan Kila untuk menghabiskan makanannya.


Setelah selesai, Zian mengajaknya Kila untuk ke daerah pesisir yang banyak dengan tambak ikan. Ia sudah menyewanya untuk beberapa tahun ke depan, jadi akan segera dilalihkan menjadi green house. Sebetulnya agak aneh membuat tempat seperti itu di dekat laut. Tapi, ya, rencana Zian memang aneh.


Selagi berkeliling, Zian menjelaskan rencananya pada Kila.


"Begitu ya .... karena kau hanya menyewa lahannya, sebaiknya kita gunakan saja bangunan semi permanen. Tapi, mungkin agak sedikit kesulitan menerapkan beberapa fitur ke dalam green house," papar Kila sembari mencatat pada tab yang ia bawa.


Zian menggeleng. "Tidak, aku ke depannya akan membeli lahan ini. Jadi, tidak perlu cemas."


"Begitu ya .... baiklah."


Zian terus menjelaskan apa yang ia inginkan, Kila mengoreksi apakah keinginan Zian bisa direalisasikan.


Tur keliling mereka akhirnya berkahir. Kila izin pamit dan akan membuat rincian dana pada Zian. Kila yang akan mengurus perencanaan pembangunan green house neraka besar itu.


"Terima kasih sekali lagi, Kila."


"Ini sudah menjadi tugasku."


Setelah Kila pergi, Zian masuk kembali ke dalam dimensi lukisan. Ia berniat mengurus kayu phoebe zhennan.


Pria itu memotong papan kayu itu menjadi tiga bagian. Zian kemudian merendamnya di dalam wadah yang berisi cairan dari larutan kelopak bunga. Tapi, hanya untuk potongan pertama. Potongan kedua dikubur dalam tanah hitam, sedangkan potongan ketiga dikubur di dalam kolam ikan.


"Huh, beres. Saatnya menunggu, apa yang bakal terjadi pada kayu itu."


Tiga hari kemudian ....


Kila kembali berkunjung ke tempat Zian. Ia sudah membawa proposal perencanaan proyek dan anggaran yang diperlukan untuk pembangunan green house. Zian membacanya secara seksama. Ia agak mengerutkan dahi pada total dana yang diperlukan. Biaya yang diperlukan sedikit banyak.


Selain itu, Zian sudah sangat puas dengan proposal dari Kila, semuanya sangat jelas.


"Jadi, bagiamana? Apakah ini sudah cukup baik? Perlu direvisi?" tanya Kila.


Zian berpikir sebentar, ia mempertimbangkan biaya dengan sisa uangnya.


"Ini cukup. Tidak ada yang perlu diubah," beritahu Zian.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu saja."


'Huh, bagaimana cara menghasilkan uang dengan cepat? Harus fokus mencari uang.'


__ADS_2