
Rani telah sampai di rumah sementara yang diberikan oleh walikota Anis. Ibunya telah berada di pintu depan untuk menyambut kepulangan putri bungsunya.
"Hei, gimana dengan sekolahnya? Apa menyenangkan?" tanya sang ibu saat Rani mencium punggung tangannya.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, semua dalam kendali, hehe," ucap Rani terkekeh. Ia lantas nyelonong masuk. "Aku udah lapar!"
"Huh, iya, iya." Ibunya cuma geleng-geleng kepala.
"Bibi, kita setelah ini akan meninjau rumah yang diberikan walikota Anis," beritahu Zian.
"Oh, berarti nanti malam, ya? Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan semua pemberian ini!" ucap Bibi gusar.
"Tidak, semua ini adalah hal yang pantas Bibi dan Rani dapatkan. Ini adalah kera keras Raden!"
"Mungkin kau benar. Raden adalah tentara, ia bukan warga sipil, hidup keluarganya memang ditanggung oleh negara. Tapi, kau tidak punya kewajiban untuk membantu kami juga."
Zian seketika kaget dan menatap Bibi dengan bingung.
"Aku akan mengembalikan uang itu. Pakai lah untuk kebutuhan dirimu sendiri, itu adalah jerih payahmu. Kami yang bukan siapa-siapa bagimu tidak pantas menerimanya!" ucap Bibi yang menunjukkan ekspresi gusar.
"Tapi, aku cuma ...."
"Raden tidak pamrih, dia pasti kesal bila tahu kau sudah menganggapnya sebagai orang yang perhitungan, ingin mendapat balasan dari apa yang diperbuatnya."
Skakmat, Zian susah untuk menjawab pernyataan dari Bibi. Meski begitu, ia masih ada yang mengganjal bila tidak membalas kebaikan dari sahabatnya. Yah, memang insting dari kebanyakan manusia, hutang budi.
"Baikal, jika maunya Bibi begitu. Aku akan menerima uangku kembali," ucap Zian lesu.
"Tapi, aku hanya akan menerima setengahnya saja. Bibi jangan anggap itu balas budiku pada Raden. Ini murni pemberianku, hadiah!"
"Aku setuju. Terima kasih, ya, Zian."
"Sama-sama." Zian mengangguk.
Bibi dan Zian masuk ke dalam rumah. Mereka merencanakan untuk makan di luar.
"Ehh? Aku baru selesai makan, lho!" rengek Rani yang sedang makan di dapur, ia kaget mendengar ibunya ingin makan di luar.
__ADS_1
"Tak usah kaget. Apa masalahnya makan banyak, kau mustahil untuk gendut!" Ibunya menertawai Rani. "Benarkan Zian?"
"Ya, meski gendut, Rara malah tambah imut."
"Aaaa, terserah deh." Rani mengubur mukanya dalam-dalam, ia tidak mau menampakkan wajahnya yang memerah.
Mereka bertiga menuju ke restoran terdekat. Itu menjadi makan malam yang membahagiakan, mereka selayaknya keluarga.
'Huh, keluargamu bisa sebahagia ini. Cepat selesaikan semua urusanmu dan pulang!' batin Zian.
Setelah perut kenyang, Zian mengantar Bibi dan Rani menuju rumah pemberian walikota Anis.
Mereka mengecek dengan seksama semua inci rumahnya, tidak ada minus. Rumah normal yang nyaman. Bibi dan Rani merasa senang, mereka setuju untuk tinggal di sana.
Surat perjanjian disodorkan, Bibi membacanya dengan teliti. Saat melihat tidak ada yang aneh, ia baru menandatanganinya.
"Ini adalah rumah kalian mulai dari sekarang," ucap Zian.
"Ya, tapi perabotannya belum ada. Apa kita pindahkan saja dari rumah lama?" tanya Rani, ia melirik ibunya untuk meminta pendapat.
"Jangan pakai uangmu, ya!" Bibi tersenyum.
"Aku akan memakai uang kalian!"
Hati Bibi menjadi lega.
"Kalau begitu aku pamit. Semua perabotan akan dikirim besok. Selamat malam, Bibi dan Rara."
"Ya, hati-hati di jalan."
Keesokan paginya .....
Sesuai dengan janji yang kemarin. Zian mempersiapkan barang-barang yang telah dibeli dari barang-barang di rumah lama Raden dengan tambahan sedikit uang. Ia sebetulnya ingin menyarankan untuk sekalian menjual rumahnya. Tapi, Zian sadar tidak mendapat perintah. Mungkin Bibi ingin mengenang kenangan di rumah itu.
"Huh, semuanya sudah beres!"
Semua barang milik Bibi dan Rara sudah diangkut di mobil pick-up dan bersiap menuju ke lokasi yang baru.
__ADS_1
"Sudah, pak. Silahkan berangkat!" ucap Zian pada supir mobil itu.
Zian sendiri tidak ikut ke rumah baru Bibi dan Rani. Ia harus mengurus acara pindahan sendiri.
Keperluan pindahannya sudah selesai dan petugas yang mengurusnya berkata jika Zian sudah bisa menempati rumahnya kapan aja.
"Huh, ya, terima kasih. Aku akan ke sana." Zian mematikan ponselnya. Ia kemudian naik bis untuk menutupi ke rumah yang terletak di area dekat pantai, di pinggiran kota. Spot yang bagus, suasana kota yang padat akan berkurang.
Namun, dalam perjalanan, Zian kepikiran sesuatu. Ia memikirkan tentang perjalanannya yang jauh, ia pasti kadang akan bolak-balik ke rumah Bibi dan Rani.
"Apakah aku beli mobil saja, ya? Uangnya masih sisa, sepertinya itu cukup untuk mobil biasa." Zian agak bimbang. Tapi, isi hatinya menyarankan untuk membeli mobil.
Zian meminta turun di halte bis dan melanjutkan dengan taksi Online. Ia langsung menuju ke showroom terdekat.
Zian tidak banyak cincong, ia memilih mobil yang pas dengan budget yang dimiliki. Setelah membayar dan serah terima kunci, mobil baru itu langsung dinaiki menuju ke rumah baru.
Tapi, lagi-lagi kepikiran suatu hal yang menghemat untuk sampai di rumah barunya. Zian sempat berpikir untuk membeli perlengkapan untuk membungkus anggrek, persediaan yang ia miliki sudah habis. Dari pada beli online, kenapa tidak beli langsung saja? Begitu isi pikirannya.
"Huh, beli itu dulu lalu pulang."
Zian mampir di toko dan membeli semua barang yang diperlukan.
"Akhirnya beres. Waktunya pulang," ucap Zian lega setelah memasukan barang belanjaannya ke bagasi.
"Hmm ... kau sudah dengar beritanya? Wakil kepala polisi tingkat daerah lengser. Katanya dia melakukan sesuatu yang jabatannya dicopot!"
"Orang itu memang tidak pantas mengemban jabatan seperti itu, jadi wajar saja."
Zian tidak sengaja mendengar pembicaraan pelanggan lain tentang wakil kepala polisi tingkat daerah. Ia tersenyum, orang bejat itu akhirnya mendapat balasan.
'Huh, rasakan itu. Kuharap hidupmu bisa menjadi lebih susah.'
Setelah sampai di rumah, ia langsung terjun ke tempat tidur. Zian memeluk gulungan lukisan yang sudah mengubah hidupnya.
"Aku baru saja menjual 40 anggrek. Keuntungan yang kudapat sangat besar. Di masa depan bisa menjadi lebih tinggi lagi, lama-lama aku bisa menjadi orang terkaya di dunia, hahaha." Ia mulai membual.
Dan tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1