Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua

Takdirku Berubah Berkat Lukisan Tua
Bab 27


__ADS_3

"Apa Anda sungguh ingin membeli yang ini?" tanya wanita penjaga toko, ia memastikan Bu Zian hanya ingin membeli satu biji. Tapi, orangnya masih melirik ke sana kemari.


Firasat penjaga toko itu benar. Zian masih ingin melihat-lihat, tapi ia sudah menyuruh untuk membungkus yang dipilih pertama.


"Permisi, aku mau berkeliling sebentar," ucap Zian melenggang pergi ke rak yang penuh dengan lukisan potret yang bagus.


Si penjaga toko mengangguk, terus menyiapkan pesanan Zian.


Zian mulai menyentuh dan meraba beberapa potret lukisan. 'Wah, kau sepertinya sangat suka!?' gumam Zian dalam hati.


Zian merasakan ada beberapa lukisan potret yang menarik perhatian gulungan lukisan di rumahnya. Ia mencoba terus menyentuh produk yang ada. Hal itu membuat si penjaga toko merasa aneh, pasalnya Zian cuma menyentuh lalu pergi. Ia tidak mengecek lebih lanjut barang yang hendak dipilihnya.


'Hmm? Apakah ini tidak terlalu banyak?' Zian lupa sudah masuk hitungan yang ke berapa saat menyentuh beberapa lukisan potret.


"Oh, mbak. Aku ingin membeli ini semua!" Zian menuju ke kasir dengan beberapa lukisan potret. Ia tidak enak membawa terlalu banyak.


"Baik, tunggu sebentar ya." Ia menyiapkan dan menghitung total dana yang harus Zian bayarkan.


'Apakah uangku cukup? Aku cuma membawa 150 juta.'


Zian beruntung sekali, uang yang dibawanya kebetulan pas. Pria itu jadi lega, ia tidak perlu pergi ke ATM untuk menarik lebih banyak uang.


"Terima kasih." Zian menerima lukisan potret yang telah dibungkus dengan rapi.


Setelah dari toko itu, Zian langsung pulang tanpa mampir terlebih dahulu. Yah, ia ingin cepat-cepat memberi bahan bakar pada gulungan lukisannya.


"Huh, sampai!" Zian turun dari mobilnya dan bergegas pergi ke kamar.

__ADS_1


Seperti sebelumnya, Zian membentangkan lukisannya, terus menaruh lukisan potret di atasnya.


"Ohhhh, kau menghisapnya!" Zian tersenyum. Ia merasa punya seekor peliharaan. Tapi, ia tidak tahu, apakah lukisan peninggalan leluhurnya ini makhluk hidup atau bukan.


Zian merasakan hubungan dengan gulungan lukisan semakin kuat. Itu adalah ikatan yang aneh, tapi dirinya merasa terhubung, seolah-olah ia menjadi bagian dari lukisannya.


"Ohhh, perasaan ini? Yah, mungkin aku berhasil menjadi Tuan yang baik."


Zian sekarang bisa melihat isi dalam dimensi lukisan tanpa harus masuk ke dalamnya. Ia cuma perlu memejamkan mata untuk mengubah penglihatannya.


"Ahahaha, yap sangat bagus. Dimensi lukisan berkembang sangat bagus! Aku bisa mendapatkannya pundi-pundi uang lebih mudah. Ini adalah tambang berlianku."


Zian selanjutnya masuk ke dalam dimensi lukisan, ia cuma perlu berkata "masuk" dan tara, ia berada di dalamnya tanpa proses ribet lagi.


"Huh, di sini semakin enak. Aku merasakan udaranya sangat menyegarkan!" ucap Zian yang mulai melihat-lihat.


"Keren! Sekarang ada sungai kecil yang mengalir. Jadi, aku tidak perlu repot menyiram tanaman-tanaman di sini."


Zian mengikuti aliran sungai itu dan sampai di hulu. Itu adalah kolam kecil yang sudah ada dari awal. Air kolam mengalir ke empat penjuru, membelah ladang milik Zian menjadi empat bagian.


Kelopak bunga pun bertambah lagi, jika yang kemarin adalah hijau, sekarang berkembang biak, lahirlah warna ungu.


Zian tersenyum lebar dan merasa sangat puas dengan perkembangan yang ada. Ia selanjutnya cuma melakukan sedikit aktivitas hariannya. Setelahnya ia keluar, terus istirahat sebentar.


"Huh, bersantai sejenak tidak masalah. Sembari berpikir langkah-langkah selanjutnya." Zian kini berada di balkon lantai paling atas. Bersantai menikmati keindahan laut. Itu membuat perasaannya damai.


"Humm, oh ya, aku tiba-tiba kepikiran Zanna. Bagaimana keadaannya? Aku sudah mengurus masalah tentang itu. Aku cuma perlu menunggu, ahahaha!"

__ADS_1


Zian mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Zanna. Yah, sekedar berbasa-basi menanyakan kabar.


.


.


.


.


Pada saat yang sama, tapi di tempat yang berlainan. Wanita yang sedang dipikirkan oleh Zian sedang melakukan rapat di kantor milik ayahnya. Zanna dengan keadaan sedikit tertekan, terpaksa mengikuti rapatnya. Sekarang tengah membahas masalah pembajakan juru masaknya dari restoran pesaing. Masalah genting di restoran milik keluarganya Zanna itu.


"Bagaimanapun kita mengatasi masalah ini? Susah mendapat juru masak yang lebih handal. Apakah kota perlu menawarkan gaji yang lebih tinggi?" papar ayahnya Zanna.


"Saya rasa itu ide yang buruk, juru masak itu cuma seorang mata duitan. Apalagi dia sudah tahu internal restoran kita. Terlalu beresiko, dia bisa dibajak kapan saja," respon Daniel.


Beberapa orang peserta rapat pun saling beradu argumen untuk menampilkan gagasan paling bagus. Mencari pemecah masalah dari problematika yang ada. Namun, dari kesemuanya, tidak ada ide yang cocok.


"Wiland Resto itu sangat licik ya?" Ayahnya Zanna memegangi kepalanya. Pusing memikirkan solusi yang ampuh.


Daniel juga hendak mengeluarkan gagasan terakhirnya. Ia telah meneliti dan menjalin hubungan dengan pihak restoran lain. Di kota, sedang heboh jenis sayur yang sangat enak, tapi harganya sangat mahal. Pria itu ingin mengusulkan untuk bekerja sama dengan pemilik sayuran itu. Tapi, di sisi lainnya, Daniel sadar dengan keuangan yang tidak terlalu stabil. Langkah yang ditempuh terlalu beresiko dan rawan.


"Zanna, apakah kau tidak memiliki ide?" tanya ayahnya. Perempuan itu sedari tadi cuma diam menyimak. Ia juga ingin menyuarakan gagasannya, tapi tahu akan ditolak dengan segera


"Aku memiliki ide, ayah. Tapi, pasti akan langsung disanggah." Zanna melirik Daniel yang duduk di sampingnya.


"Bekerja sama dengan sesuatu yang tidak jelas itu cuma buang-buang waktu atau cuma menggali lubang lubang kuburan sendiri," ucap Daniel.

__ADS_1


__ADS_2