
"Bisa-bisanya aku hampir kekurangan dana?" Zian menggaruk-garuk kepalanya dengan resah.
Si mantan tentara itu melihat ruang tamunya yang agak kosong, ia baru saja melelang perabotnya yang berharga agak mahal. Yah, Zian sebetulnya juga tidak terlalu peduli asal rencananya berjalan mulus.
"Huh, semuanya sudah beres. Tinggal proses pembangunan." Zian mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Charen atas persetujuan pada proposal yang diajukan Kila. Ia memasrahkan semua urusan pembangunan pada Charen.
"Charen, kita deal. Aku menyerahkan semua urusan kontruksi padamu," ucap Zian tanpa basa-basi.
"Oh ya. Bagus, kau tenang saja. Hasil yang diberikan pasti tidak akan mengecewakan. Tim kontruksi akan segera datang."
"Ya, aku percaya padamu."
Setelah menghubungi Charen, Zian bergegas ke kota untuk mencari beberapa barang-barang untuk si gulungan lukisan makan, untuk meningkatkan apa yang ada di dalam lukisan itu.
Zian pergi ke toko yang sama dan langsung memilih barang-barang yang mendapat perhatian dari gulungan lukisan.
"Oh, kau suka ini? Oke. Oh, suka ini juga? Baiklah."
Zian membawa pulang beberapa benda dan akan langsung diberikan pada sumber uangnya itu.
"Ok, serap ini kawan dan berkembang lah!" Zian meletakkan barang yang baru saja di belinya di atas gulungan lukisan. Yap, langsung hilang terserap.
Lepas itu, Zian masuk ke dalam dimensi lukisan untuk melihat perbedaan apa yang terjadi. Namun, muka pria itu tidak berubah menjadi sumringah, masih tetap biasa saja.
"Tidak ada yang berubah?" bingungnya melihat sekeliling. Zian pun sekilas berkeliling, tapi tetap tidak ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
Namun, Zian baru sadar bila ada satu perbedaan yang agak mencolok. Ia tadi cuma kurang teliti saja.
"Meski tidak ada perbedaan, hal yang paling terasa adalah kualitas udaranya. Di sini terasa sangat segar, seperti di pegunungan atau di bawah air terjun di tengah hutan," gimana Zian yang menghirup udara sekitar.
Zian kemudian memberikan sisa barang yang dibelinya. Jika yang pertama cuma berpengaruh pada kualitas udara, berarti yang kedua, ketiga, dan seterusnya bisa berpengaruh pada hal lain.
Dan meski telah habis barang yang telah dibeli menggunakan uang hasil menyisihkan dari biaya penjualan perabot rumah. Tetap tidak ada perubahan yang signifikan, Zian menjadi bingung. Ia mulai berpikir bahwa ia telah membuang-buang uang dan tidak mendapat hasil.
"Cih, apakah aku cuma menghamburkan uang untuk hal yang sia-sia?" ucap Zian sedikit kecewa.
Zian memerhatikan gulungan lukisan yang berada di atas meja dengan seksama. Ia sedikit murung dan kesal.
"Kenapa bisa begini?"
"Apa yang terjadi?"
*Wush!
Aura hitam pekat itu bergerak dan langsung memasuki matanya Zian. Kejadiannya berlangsung sangat cepat, Zian tidak sadar apa yang terjadi. Hanya saja, sepersekian detik selanjutnya .....
Zian langsung bereaksi memegangi kepalanya, rasanya mau meledak, sensasi ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Zian merintih kesakitan, rasa sakit itu luar biasa.
"Akhhhh, apa-apaan ini? Kenapa dengan kepalaku?" teriak pria itu yang langsung jatuh ke lantai, berguling-guling menegang kepala. Zian bersikap frontal, menendang dan meninju apa yang ada di sekitar.
Setelah melawan rasa sakit itu selama beberapa menit. Zian akhirnya tumbang, ia kalah. Pria itu tidak sadarkan diri.
__ADS_1
.
.
.
.
"Ugh, apa yang terjadi di sini?"
Zian sadar setelah beberapa jam berbaring di lantai. Ia memerhatikan sekitarnya yang seperti kapal pecah habis terserang badai. Ingatan pria itu masih samar-samar.
Zian berdiri dan tidak menemukan gulungan lukisan di atas meja makan.
"Hah? Kemana lukisan itu pergi?" panik Zian, ia berusaha mencarinya. Namun, tetap tidak ditemukan.
Ia kemudian teringat dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Aura hitam yang masuk ke tubuhku?" kejut Zian. Ia langsung mengecek kondisi tubuhnya. Namun, tidak ada perubahan yang terasa.
"Hmm, apa ada sesuatu yang berubah?" Pria itu masih sibuk menelisik seluruh inci tubuhnya.
Setelah berusaha, ia menemukan sesuatu. Ia memerhatikan lengannya.
"A-apa ini?" ucap Zian yang syok.
__ADS_1