
Saat berada di rumah Dosen Lam, Zian jadi selalu merasa gelisah. Itu semua berkat sebuah potret lukisan misterius yang diberikan oleh ayahnya walikota Anis itu. Entah kenapa Zian bisa merasakan respon aneh dari lukisan di rumahnya, getaran yang aneh.
Zian cepat-cepat menghabiskan makanannya dan segera pamitan. Ia sebetulnya tidak enak buru-buru pulang, tapi ada hal penting yang harus diselesaikan.
"Maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Ada sebuah kebutuhan mendesak," sesal Zian menunduk pada dosen Lam dan walikota Anis.
"Hm, yah. Tidak perlu dipaksa. Terima kasih sudah mau datang dan akan sayuran yang lezat ini," balas dosen Lam tersenyum. Ia terus berdiri, berniat mengantar Zian sampai pintu depan.
"Saya pamit, dosen Lam."
Kakek itu mengangguk dan tersenyum, melambai pada Zian. "Hati-hati di jalan."
Zian mengemudikan mobil pick up nya lebih cepat dari pada perjalanan pergi. Ia sampai 15 menit lebih cepat. Sesampainya memasukkan mobilnya di garasi, ia bergegas ke kamar untuk mengecek gulungan lukisan peninggalan keluarganya. Ia juga lantas mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
"Kenapa dengan dirimu, lukisan?" Zian bermonolog. Yah, bicara sendiri, seperti orang dengan gangguan jiwa. Tapi, ia memang seolah-olah terhubung dengan lukisan itu.
Zian dengan pelan meletakkan lukisan potret pemberian dari dosen Lam tepat di samping lukisannya.
"Perasaan apa ini?" gumam Zian, ia memang merasa memiliki koneksi dengan lukisan peninggalan leluhurnya. Ia bisa merasakan kalau lukisan itu sungguh menantikan lukisan potret yang dibawanya.
"Ini sungguh aneh, tapi aku merasa bisa memahami lukisan ini?! Seolah-olah dia adalah makhluk hidup." Zian memerhatikan lekat gulungan lukisan itu.
Ia kemudian melirik lukisan potret terus memegangnya. "Hmm, kenapa dengan ini? Kenapa kau menginginkannya?" Pria itu memerhatikan tiap inci lukisan potretnya.
"Apakah ada sesuatu yang ajaib juga dari benda ini?" terka Zian yang garuk-garuk kepala.
Lukisan itu seperti mengirimkan sebuah sinyal pada Zian, pria itu punya paham maksudnya. Memang gila, tapi ia sekilas mengerti, otaknya mampu menerjemahkan.
"Aku harus membawa lukisan potret ini ke dalam lukisan? Begitu, 'kah?"
__ADS_1
Zian meletakkan lukisan potretnya di atas lukisan, dan tanpa disangka-sangka lukisan potret pemberian dosen Lam seketika menghilang.
"Hah?" kaget Zian, ia buru-buru mengambil stok darah untuk masuk ke dimensi lukisan.
Sesuatu yang tidak terduga terjadi lagi, lingkungan kamarnya Zian perlahan-lahan berubah. Tidak ada lagi tempat tidur, lemari, atau sejenisnya, ia telah masuk ke dalam dimensi lukisan. Zian bisa melihat kebun sayur dan koleksi anggreknya. Itu sungguh aneh, padahal ia belum meneteskan darahnya.
Namun, ada sebuah perbedaan yang sangat mencolok. Luas dimensi lukisannya itu bertambah satu kali lipat dari awalnya.
"Apa yang terjadi? Aku bisa masuk tanpa menggunakan darah?" Zian bingung, melihat sekelilingnya. Mata pria itu sontak membelalak ketika melihat, bahwa ada kelopak bunga baru yang tumbuh.
Zian lantas pergi ke dekat kolam. Di sana ada tumbuhan tak bernama dan jumlah kelopak bunga menjeda empat. Sekarang bunga itu memiliki kelopak berwarna merah, biru, kuning, dan yang terbaru ... hijau.
"Luar biasa! Kelopak bunganya bertambah. Ini sangat bagus!"
Zian keluar dari sana sebentar untuk mengambil benda unik menyimpan kelopak-kelopak bunga itu. Ia terus dengan sangat penuh perasaan menyimpan kelopaknya di dalam kotak kecil.
Karena sudah terlanjur di dalam dimensi itu, Zian pun melanjutkan kerjanya untuk mengurus tanaman-tanaman yang ia miliki. Sekalian untuk mencari perbedaan yang ada, sebelum dan sesudah lukisan potret pemberian dosen Lam masuk.
"Luasnya bertambah dengan otomatis, apakah ini sungguh efek dari lukisan potret itu?"
Lukisan potret itu terserap ke dalam lukisan, ia yakin itu. Tapi, Zian tidak menemukannya di mana pun.
"Oh, gulungan lukisan ini melahapnya terus dijadikan sumber makanan atau apalah itu? Hmm, yah kukira seperti itu?!" Pria itu menduga-duga, berpegang dahu dengan serius.
Waktu tidur terasa telah berlalu satu jam. Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan Zian di dalam sana, pekerjaannya sudah dilakukan sebelumnya. Ia memutuskan untuk keluar, dan saat ia mengecek jam di ponselnya.
"Hah? Sudah tengah malam?" kaget Zian. Itu lima jam lebih cepat. Seharusnya perbedaan waktunya adalah 1:10, tapi sekarang bertambah menjadi 1:15. Satu jam di dalam dimensi lukisan, sama saja 15 jam di dunia nyata.
"Ternyata ini jauh lebih hebat, aku benar-benar bisa menghemat waktu atau mempercepat produksi sayuran lebih cepat."
__ADS_1
Selain itu, Zian bisa merasakan hubungannya dengan gulungan lukisan menjadi lebih kuat. Saat ia berpikir tentang dunia nyata, si mantan tentara dapat melihat dirinya berada di sana. Begitu juga sebaliknya. Lebih hebatnya lagi, Zian bisa membayangkan menyentuh benda-benda yang ada di sana. Keluar-masuk menjadi lebih mudah.
Zian sudah sengaja meninggalkan kotak yang merupakan penyimpanan kelopak bunga. Ia membayangkan dirinya berada di dalam dimensi lukisan dan mengamalkan kotak itu. Zian menguatkan tekadnya.
"Ambil!"
Secara ajaib kotak penyimpanan kelopak bunga telah berada di atas telapak tangannya.
"Beneran bisa? Setelah ini aku tidak perlu keluar-masuk untuk mengambil sesuatu, ahahaha." Zian sangat senang dengan perkembangan ini.
Si mantan tentara berpikiran untuk menambah makanan untuk si lukisan. Jadi, Zian berpikir untuk memasukkan lukisan potret atau benda lain yang menarik bagi si lukisan.
"Ah, aku harus mencari benda-benda yang menarik bagi lukisan ini." Zian bergegas siap-siap untuk pergi keluar. Ia berencana ingin membeli benda serupa. Yah, meski akan menguras kantongnya. Harganya mahal.
Namun, tidak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan keuntungan yang bakal Zian dapat. Yah, segala sesuatu butuh pengorbanan untuk keuntungan yang berlipat.
Berbekal dari informasi dari Anastasia. Wanita itu lah yang membeli lukisan potret milik dosen Lam. Ia memberi rekomendasi yang bagus untuk Zian.
"Oke, Anastasia. Terima kasih informasinya."
Zian cepat-cepat meluncur ke lokasi. Toko yang menjadi langganan Dosen Lam. Toko itu benar-benar antik. Barang-barang yang ada di dalam seperti berumur puluhan tahun.
Zian melihat beberapa lukisan potret. Ada satu yang menarik perhatiannya. Ia pun menyentuh lukisan potret itu.
"Ah, yang ini ya?" Zian tersenyum. Ia bisa merasakan gulungan lukisan di rumahnya bergetar.
Zian langsung memilih lukisan potret itu.
"Aku mau membeli ini!?"
__ADS_1