
hari ini adalah hari yang dinanti sahabatku, mungkin ini bisa menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya, yang biasanya hanya membutuhkan waktu belasan menit saja untuk berdandan kali ini aku telah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdandan, kali ini aku sangat niat sekali dengan penampilanku, meskipun look makeup yang natural, tetap saja aku selalu merasa kesulitan melakukannya, akhirnya aku meminta tolong sepupuku riana yang pandai memoles make up diwajah.
Riana "tumben nih mau ribet dandan kayak gini?"
"ini kan spesial pernikahan sahabat gue RI"
"lebih spesial lagi karena mau berdampingan sama mas Bram ya haha"
"terserah Lo deh, gue gak mau debat sama Lo sekarang"
"yaudah deh sepupu unik gue ini emang jaim, yaudah gih udah selesai makeup nya, turun aja kebawah sambil nunggu ada yang jemput"
Riri ketawa meledek.
"apaan si, thanks Riri sepupu bawel gue udah berkenan makeup-in gue"
"bersyukurlah karena Lo punya sepupu yang baik"
"idih, tetep aja Lo"
btw Riri adalah anak dari adik mamaku, yang tak lain adalah tanteku.
setelah selesai dandan kamipun memutuskan untuk turun ke bawah dan menunggu di ruang tengah.
mama "aduh Caca di apain nih sama Riri, kok jadi cantik gini?"
"aku dandanin dia biar terlihat sangat mempesona di depan mas Bram Tan"
aku langsung memukul paha Riri "ish apaan si Lo"
"emang iya kan? gak usah boong"
"gak usah sotoy"
mama "udah ah jangan berantem Mulu, nanti pulangnya jangan kemaleman ya sha!"
"oke ma"
papa tiba-tiba mendekat dan mengatakan
"kamu sama Bram kan sha?
"yaiyalah lah sama siapa lagi"
papa hanya sedikit tersenyum.
dan tiba-tiba terdengar suara mobil di depan, dan tak berapa lama bel rumah berbunyi, tanpa basa-basi aku langsung membuka pintu, disaat itu pula aku dan mas Bram saling terdiam untuk beberapa detik, dan suara papa tiba-tiba mengagetkan dari belakang.
"ekhem, kenapa sha?"
"papa apa-apaan si"
"selamat malam om Tante apa kabar?" mas Bram menyapa
papa "malam juga nak Bram, kita Alhamdulillah baik papa mama sehat?
"Alhamdulillah mereka baik juga om"
karena takut telat aku langsung pamit ke papa dan mama juga Riri
"pa, ma aku langsung berangkat aja ya takut telat soalnya,ri gue berangkat ya"
mama "yaudah hati-hati sha Bram"
"iya Tante, kalo gitu saya berangkat "
__ADS_1
mas Bram berjalan beriringan denganku ketika menuju mobil dan dia membukakan pintu untuku.
"eh gak usah"
"udah yerlanjur, ayo masuk"
"oke"
setelah mobil mulai melaju papa dan mama punn melambaikan tangan.
di perjalanan mas Bram memulai pembicaraan.
"kamu malam ini cantik banget sha"
"kamu juga sangat tampan malam ini" setengah tak sadar dengan ucapanku aku langsung menutup mulut dengan tanganku.
"kenapa sha?" sambil tertawa kecil
"emhh gak papa"
"eh ko kadi salting gitu?"
"yaudah deh iya aku akuin kamu malam ini sangat tampan"
"nah gitu dong gak usah kaku-kaku amat sha sama aku"
"aku juga bingung kenapa sudah banget buat biasa aja sama kamu"
"kenapa selalu deg-degan ya, aku juga sama kok"
"Mas Bram stop yah"
"yaudah sebentar lagi kita sampe, aku cuma mau bilang malam ini kamu sangat cantik dan cocok mengenakan baju ini"
"makasi" sambil menutup mukaku
"jangan bilang aku jutek dong, itu karena belum benar-benar saling kenal aja, belum tau aja kalo aku udah kenal sama orang gimana gilanya aku"
"yaudah sebentar lagi kan kita bisa saling mengenal lebih jauh"
"udah ah nanti lagi ngobrol nya"
tak terasa kami pun sudah sampai, kami langsung memasuki gedung tempat pernikahan ana berlangsung, dan ternyata Reza Adit dan Nisa sudah ada disana dengan pasangannya masing-masing.
Nisa "wah wah kemana aja nih baru Dateng"
aku "gak telat-telat amat kan?"
Nisa "enggak sih, wahhh ada ada yang beda nih di penampilan kami sekarang, spesial ya?"
aku "spesial lah buat sahabat gue"
Adit " kenalin Napa sha sama cowok yang ada di sebelah Lo"
aku "oh yauda mas ini teman-teman aku Adit, Reza, dan ini nisa"
mas Bram "halo saya Bram"
Nisa "Bram calon suaminya Shanum kan" sambil meledek
aku "Lo masih tetep aja ya nis" sedangkan mas Bram hanya tersenyum di sampingku
Nisa "ganteng banget sha, Lo kok sempet nolak si, susah nyari cowok kayak gini sha" dengan tidak tau malunya Nisa mengoceh.
"ih lo emang kebangetan deh, sorry mas temen-temen ku emang pada suka becanda"
__ADS_1
mas Bram "yauda gak papa lagi hal kayak gini biasa kok di antara temen sama temen"
Reza "eh eh liat tuh si ana udah keluar"
setelah pembicaraan itu kita langsung menemui sahabat kita ana dan merangkulnya satu persatu sambil mengucapkan selamat, setelah itu kami berfoto bersama.
pesta berlangsung sangat meriah dan kini tiba saatnya pelemparan bunga, Nisa sudah sangat ribut memintai pacarnya untuk mendapatkan bunga tersebut, dan tibalah proses pelemparan bunga "1,2,3," MC menghitung, dikemparlah bunga itu oleh kedu mempelai dan tanpa diduga akhirnya mas bram yang berhasil menangkap bunga tersebut, ia tersenyum tipis kepadaku.
MC pun memanggil mas Bram untuk naik ke panggung, dan tiba-tiba mas Bram menggenggam tanganku dan menarik naik ke panggung juga
Nisa " huhh sha tu bunga juga tau next elo yang kawin" sambil tertawa
Reza "emang gak salah tangkap si ini"
setelah aku naik ke panggung bersama mas bram akhirnya ana menghampiriku
ana "kok bisa kebetulan kayak gini ya sha" sambil tertawa
MC pun langsung meminta aku dan mas Bram untuk berfoto bersama kedua mempelai.
pesta sudah berlangsung cukup lama, akhirnya aku dan mas bram memutuskan untuk pulang, akupun pamit kepada teman-teman ku untung pulang lebih dulu.
di tengah perjalanan
"sha kok kamu bisa si berteman sama temen-temen kamu itu, mereka keliatannya heboh banget, sedangkan kamu pendiem kayak gini"
"gak tau aku ngerasa nyambung aja sama mereka,kalo sama mereka aku juga bisa berubah heboh seketika si"
"kalo udah kenal sama aku kamu juga bisa dong kayak gitu"
"gak tau tuh" (dengan dinginnya aku menjawab)
"sha"
"iya"
"nanti pernikahan kita apa akan bikin peta kayak gitu juga?"
deg jantungku terasa mau copot, aku masih belum sepenuhnya sadar bahwa mau tidak mau pernikahan ku dan mas Bram memang sudah sangat dekat.
"aku bahkan belum tau kapan tepatnya pernikahan itu dilaksanakan, tapi yang pasti gak usah ngundang terlalu banyak orang, kan waktunya juga gak lama lagi"
"papa kamu belum bilang sha?"
"belum"
"baru tadi siang papaku sama om tadi bicara, kalo pernikahan kita akan dilaksanakan dua Minggu lagi, karena seminggu setelah kita menikah aku ada tugas ke Afrika unituk satu bulan"
"ya aku tau tentang tugas kamu itu, segitu gak taunya aku karena sangat kurang berkomunikasi sama kamu sama papa juga, padahal aku diem juga pernikahan bakal tetep dilaksanain"
"aku ngerti kok sha ini masih sangat sulit buat kamu,. aku juga yang salah karena aku gak ajak komunikasi banyak juga sama kamu, aku takut kami risih soalnya."
"gak papa, aku juga yang terlalu cuek"
"bismillah ya sha, dua Minggu lagi, meskipun kamu belum siap menerima aku sepenuhnya aku sudah siap menerima kamu apa adanya, aku siap nunggu dan ngeyakinin kamu"
tak terasa akupun mengeluarkan air mata
"makasi mas, sebenarnya aku gini karena aku bingung, maaf kalo aku belum bisa terima kamu sepenuhnya,tapi aku akan tetap menghargai kami sebagai suami aku kok"
"iya gak papa sha, pelan-pelan saja, nanti kami terbiasa"
"kasih tau aja kalo aku salah, mas?"
"iya sha"
__ADS_1
"sekali lagi makasi, aku hanya mau menikah sekali seumur hidupku meskipun aku belum mencintai kamu tapi rasanya tidak ada laki-laki lain yg harus ada di hidup aku ,jangan kecewakan aku ya nanti aku benar-benar tidak bisa membayangkan,
"iya sha sebisa mungkin aku bahagian kamu".