
Setelah pulang dari tempat wisuda di mobil aku bertanya kepada papa tentang laki-laki yang tadi memberiku bunga, meskipun aku sudah menebak kalau dia adalah orang yang mau papa jodohkan denganku.
"Pa om tyo, Tante Maya, sama yang tadi ngasih bunga ke aku itu siapa ?"
"Om tyo sahabat papa sha, dan Bram itu orang yang papa bilang mau papa jodohkan sama kamu"
Benar saja kan tebakanku, mereka adalah sahabat papa dan anaknya yang kemarin dia bilang, bener-bener papa ku ini, orang itu pake membawa -bawa bunga segala lagi, dilihat sekilas memang tampan, tapi tetap saja aku kan baru bertemu dengannya, belum tau dengan sifatnya, kenapa papa ceroboh sekali, hari ini aku benar-benar kesal sama papa.
"Pa semurah itu ya aku, bisa-bisanya papa ngasih anaknya ke orang lain segampang itu.
"Sha kamu ini apa-apaansi, papa cuma ingin yang terbaik buat kamu, papa ingin sebelum papa pergi papa menyaksikan putri pertama papa menikah tentunya dengan seseorang yang tepat, dan papa pilihkan Bram buat kamu, karena papa sudah terlanjur percaya dengan dia" papa menjawab dengan nada yang tinggi.
Akupun menghela nafas panjang.
"Pa, aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku, aku belum siap berumah tangga untuk saat ini pa Caca mohon"
"Sha, papa liat kamu sudah dewasa dan sudah layak untuk menjalin hubungan yang serius, kamu tau sendiri kan kondisi papa sekarang gimana?"
"Pa, Caca mohon jangan bawa-bawa penyakit papa terus dong aku malah tambah stress pa" mataku terasa sangat panas karena menahan tangis.
"Ya sudahlah Minggu depan keluarga om tyo datang untuk acara lamaran"
"Papa, aku aja baru ketemu sama si Bram itu baru beberapa menit doang kok tiba-tiba lamaran aja si pa".
Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap papa kali ini, biasanya dia selalu mendukung semua keputusanku, tapi tiba-tiba dia memaksaku untuk menuruti apa yang dia mau, mama juga tidak bisa berkutik dengan perintah papa kali ini.
Menikah adalah bukan sesuatu yang mudah, butuh kesiapan secara fisik dan mental, menikah itu bukan hal yang lelucon, kenapa papa dengan gampangnya bilang kalo aku harus menikah dalam waktu dekat.
Yang semakin membuatku heran papa dengan gampangnya menyuruh aku menikah dengan orang yang bahkan belum aku kenal sama sekali, bukannya dia juga dulu yang bilang kalau aku harus hati-hati dalam memilih pasangan.
Aku belum siap menikah, benar-benar belum siap, boro-boro menikah pacaran aja hampir gak pernah, kali saja papa tau aku ini orang yang tidak punya pengalaman masalah percintaan, papa juga tidak bertanya apakah aku punya pacar atau tidak.
Aku sudah menolak, Tapi.
oh
Aku merenung sejenak akupun teringat dengan kejadian kemaren dirumah sakit yang papa sempat kritis itu, dan akupun tau penyakit papa ini memang bukan main-main, aku takut suatu saat aku menyesal karena tidak menuruti perintah papa kali ini.
Setelah terdiam beberapa lama akupun memulai pembicaraan kembali.
"Pa, ma aku udah mutusin kalo aku Nerima perjodohan ini" papa tersenyum
__ADS_1
"Eits tunggu dulu pa, tapi ada syaratnya, syaratnya aku harus dikasih waktu dulu sama papa mama biar aku mengenal si Bram itu ya pa! Jangan buru-buru dinikahin juga lho pa"
Papa tertawa sangat keras
"Oke sha nanti papa bicarain lagi ke om tyo,tapi masalah lamarantetep Minggu besok ya Cha"
"Ih papa, kalo aku gak cocok sama dia gimana pa?"
"Gak mungkin sha masa sih kamu gak mau sama pria setampan Bram"
"Papa ko malah becanda si"
Sekarang Papa dan mama malah terus cengengesan dimobil.
Entah apa yang membuat papa tiba-tiba ingin menjodohkan aku ini, tadi juga nada bicaranya udah tinggi, eh sekarang cengengesan lagi kalo udah denger aku mau coba Nerima perjodohan.
Papa dan mama tetap saja cengengesan dimobil.
Setelah seminggu waktunya lamaran tiba, aku sangat bingung disana tiba-tiba aku merasa menyesal karena sudah menerima perjodohan ini aku takut pernikahannya dipercepat sama papa dan om tyo.
Kenapa kemarin aku mengambil keputusan dengan terburu-buru, kenapa aku tidak meminta waktu dulu untuk berfikir, dan merangkai kata-kata yang pas untuk membujuk papa, ah kenapa bodoh sekali.
Dan sekarang udah terlanjur, keluarga mereka sudah datang.
Aku pikir tidak akan secepat ini
Disana aku memakai baju kebaya modern yang sudah disiapkan mama, rambutku di sanggul kecil dengan sangat rapi oleh mama, mama pun memberikan hiasan berbentuk bunga-bunga kecil di kepalaku, makeup ku malam itu natural karena aku tidak mau terlihat berlebihan.
Dan seperti biasa, karena aku tidak pandai bermake-up untuk acara yang resmi, sepupuku Riri lah yang membantu merias wajahku hari ini.
"Jujur gue kaget Lo sha denger Lo tiba-tiba mau lamaran kayak gini"
"Apalagi gue Ri, gue bodoh banget kemaren langsung Nerima perjodohan ini"
"Kok Lo langsung Nerima? Pasti alesannya karena Om ya?"
"Yaiyalah Ri apalagi, gue pikir gak bakal secepet ini, lagian gue juga udah minta waktu buat saling kenal gitu"
"Tapi kalo menyangkut pernikahan gue tau Lo gak bakal gegabah sha, ini tiba-tiba Lo mau aja, apa mungkin ini jalan menuju Lo ketemu sama jodoh sha"
"Ah elo Ri, tapi gue kan pengen kayak orang lain yang saling mencintai gitu ketika menikah, lagian gak di umur segini juga Ri"
"Iya gue ngerti, lagian kan baru lamaran sha, Lo masih bisa pikirin lagi nanti, jangan mewek ya gue males benerin makeup Lo"
__ADS_1
Riri malah bercanda dengan perkataannya itu, walupun seperti itu aku mengerti maksud nya Riri itu apa, Riri berniat mengingatkanku agar berfikir positif dalam hal ini, makanya dia bilang mungkin ini adalah cara Tuhan menemukan aku dengan jodohku.
"Gue mau ngamuk-ngamuk aja boleh?"
"Ah elo mah becanda aja"
"Becanda? Ri, ah gue kesel sama lo"
"Sorry sha, sorry hehehe"
setengah jam setelah selesai berdandan, Bram dan keluarganya tiba, aku dipanggil turun oleh mama, ketika aku turun keluarga Bram sudah duduk di sofa dan sedang berbincang dengan papa.
Sesampainya dibawah keluarga Bram langsung melihat ke arahku dan tersenyum, mamanya Bram sempat memujiku.
"Ya ampun anaknya mbak Ani sama mas Indra cantik sekali malam ini"
Akupun hanya membalasnya dengan tersenyum.
Acara lamaran pun dimulai, ketika acara lamaran berlangsung aku memberanikan diri melirik wajah mas Bram, dan diwaktu yang bersamaan dia sedang melihat ke wajahku juga, kita berdua bertatapan sekitar lima detik, lalu akupun langsung menundukkan kepalaku.
"Ah sialan kok gue jadi kayak gini si" aku bergumam
Setelah acara lamaran selesai kamipun makan malam bersama, ketika makan malam berlangsung tiba-tiba papa berbicara.
"Sha papa sama sudah ngobrol sama om tyo supaya kalian berdua dikasih waktu buat saling mengenal"
Aku cuma menganggukan kepalaku
"Kalo mau sehabis makan malam kalian bisa pergi jalan-jalan sebentar dan bisa ngobrol satu sama lain juga" kata papa
"Gimana Bram kamu setuju?" Kata om tyo
"Yaudah kalo gitu pa, aku juga mau ngobrol banyak dulu sama Shanum"
"Idih jijik banget gue sama modus ni cowok" aku berkata Didalam hati.
*Sebentar, apakah aku sedang bermimpi sekarang?
Kenapa secepat ini?
Mama, aku harus gimana?
Riri, katalo mungkin ini jalan gue, astaga menegangkan sekali*.
__ADS_1