
"Tak terasa sekarang sebentar lagi aku wisuda, ternyata tak ada yang spesial selama bertahun-tahun aku kuliah" kataku didalam hati.
Maksudnya tidak ada orang yang menjadi spesial selama kuliah ini, boleh diartikan seperti pacar mungkin, tugas-tugas yang selalu menumpuk, skripsi dan sidang yang membuatku stress itu bukanlah hal spesial bagiku. Meskipun di semester awal aku cukup menikmati tapi lama-lama aku ternyata kewalahan juga demi mendapatkan nilai yang memuaskan.
Hari itu tepat seminggu sebelum aku wisuda, sebelum aku lulus aku memang sudah magang disalah satu kantor penerbit buku, dan setelah aku lulus sidang aku langsung resmi bekerja disana.
Aku sudah mempersiapkan pakaian yang akan ku pakai saat wisuda nanti, aku juga sudah menyiapkan pakaian seragam untuk papa, mama dan Razade adikku, aku memang ingin tampil perfect untuk wisuda ini, masalah make-up pun sudah beres aku memilih Tia teman SMA ku yang merias wajahku, meskipun aku tidak terlalu suka makeup tapi untuk kali ini aku ingin tampil beda dari biasanya.
Biasanya aku selalu meminta sepepuku Riri untuk masalah makeup, tapi kali ini dia sedang berada di luar kota untuk beberapa hari, karena itulah aku memanggil teman SMA ku yang tak kalah jago juga dalam masalah makeup.
Hari itu aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku dan pergi ke kantin untuk makan, di tengah-tengah makan tiba-tiba telfon berdering, ternyata mama menelponku, tanpa pikir panjang akupun langsung mengangkatnya.
"Hallo ma"
"Hallo ca, kamu dimana sayang?"
"Aku di kantin kantor ma, lagi makan"
"Ca, papa kena serangan jantung lagi dan sekarang mama sedang dirumah sakit, katanya papa harus pasang ring jantung secepatnya sha" mama berbicara sambil terisak-isak kepadaku.
"Apa ma, kejadiannya dimana, yaampun papa, aku langsung kerumah sakit sekarang ma, mama yang tenang okeh!"
"Iya mama tunggu ca"
Aku langsung meminta izin untuk pulang lebih awal, rasanya benar-benar tidak karuan, pikiranku susah untuk dikendalikan, rasa cemas yang sangat besar dan pikiran-pikiran negatif terus berkeliaran.
Dua puluh menit kemudian akupun sampai di rumah sakit dengan menggunakan ojek online, dijalan aku sempat menanyakan ruangan papa lewat SMS ke mama, setelah membayar ojeknya aku langsung berlari ke ruangan papa.
__ADS_1
"Mah papa gimana?"
"Udah agak mendingan sha, besok papa operasi"
Akupun langsung menghela nafas, dan didalam hati sebenarnya aku takut kalo besok operasi papa tidak berjalan dengan baik, akupun langsung memasuki ruangan papa.
"Pa, gimana sekarang udah mendingan?"
"Udah sha, sha papa mau bicara sesuatu sama kamu"
"Bicara apa pa, langsung aja Caca dengerin kok"
"Sha papa berniat menjodohkan kamu dengan putra sahabat papa, dia seorang dokter sha, papa harap kamu bersedia sha"
Deg,,,, jantungku terasa berhenti sekejap
"Papa ini apa-apansi aku takut kawin pa, apalagi di usiaku sekarang yang masih segini, baru juga mau wisuda pa, papa jangan becanda sama Caca"
"Papa kok ngomongnya kayak gitu, papa dulu nikah diumur 30 dan mama di umur 28 ini gak adil pa, pacar aja gak punya apalagi harus nikah sama orang yang aku gak kenal, aku takut pa kata mama kan nikah tuh untuk sekali seumur hidup, masa aku harus tinggal seatap sama orang yang enggak aku cintai sama sekali pa" panjang lebar aku menjelaskan.
"Papa tau sha, tapi papa mohon papa tidak sembarangan memilih calon suami untuk kamu"
"Terserah papa, aku langsung pergi dan tidak menemani mama lagi dirumah sakit.
Keesokan harinya adalah jadwal operasi papa, aku sangat takut, tapi pas jam 12:00 mama menelfon, katanya papa sudah selesai operasi meskipun tadi sempat kritis.
Ketika aku mendengar papa sempat kritis, aku sangat merasa marah dengan diriku sendiri, bisa-bisanya aku tidak ada disana saat papa operasi.
Tak terasa sekarang adalah waktu dimana aku harus berpisah dengan teman-temanku, rasanya sangat bercampur aduk disisi lain aku senang karena akhirnya aku lulus, dan disisi lain aku juga merasa tidak rela harus berpisah dengan teman-temanku.
__ADS_1
Meskipun papa baru keluar dari rumah sakit tapi dia tetep keukeuh ingin menyaksikan aku saat diwisuda, mama pun mengijinkannya karena disanapun cuma duduk saja kata mama.
Di tempat wisuda, ketika itu aku sedang berfoto-foto dengan teman-teman dan keluargaku, tanpa ku ketahui ternyata papa mengundang orang yang akan dijodohkan denganku dan kedua orang tuanya.
Papa
"Sha sini kenalin ini om tyo, Tante Maya , dan ini anaknya Bram, aku langsung menyalami mereka, ketika aku bersalaman dengan Bram tiba-tiba perasaan ku aneh, tidak tau kenapa.
Orang yang bernama Bram ini memang tampan, tubuhnya kekar, tinggi dan sangat karismatik, tapi aku tidak terlalu peduli dengan dia.
Ketika aku menyalami orang itu itu tiba-tiba ia memberikan buket bunga yang sangat indah sambil tersenyum kepadaku.
"Sha selamat ya" sambil menyodorkan bunganya
Akupun terdiam sekejap, dan mamaku membisiki "ambil sha"
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil bunganya, dan mengucapkan terimakasih, aku berfikir jika aku menolaknya aku merasa tidak enak karena banyak sekali orang disana.
"Senyumnya terlihat sangat tulus dan ramah si" gumamku.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil bunganya, dan mengucapkan terimakasih, aku berfikir jika aku menolaknya aku merasa tidak enak karena banyak sekali orang disana.
Sebentar, aku berfikir kenapa papa mengundang orang asing di acara wisuda ku, akupun menutup mulutku karena teringat akan sesuatu
Astaga, jangan-jangan itu orang yang mau papa jodohin sama gue
Papa kok gak bilang-bilang si
Mama lagi, ikut-ikutan papa aja
__ADS_1
Astaga, gimana kalo bener mereka tadi adalah sahabat papa dan anaknya
Ahhh aku pikir tidak serius, ternyata papa tidak main-main