
Bagian 9 (pernikahan dilercepat?)
Setelah beberapa hari setelah kejadian di bioskop saat itu, ketika kami sekeluarga sedang sarapan pagi, tiba-tiba papa memulai pembicaraan
"Sha pernikahan kamu di percepat!"
"Apa??" Aku teriak kaget
Benar saja, hal yang aku takutkan dalam perjodohan ini akhirnya benar-benar nyata, entah apa lagi ini, lamaran kemarin saja sudah membuat hati aku lelah, apa lagi berita pernikahanku yang dipercepat ini.
Aku terdiam sekejap, rasanya dadaku sakit dan napasku benar-benar berat, kaget, marah, bingung, pokoknya perasaanku campur aduk, bukannya papa juga sudah setuju dan udah bilang kalo dia mau ngasih kita waktu dulu untuk saling kenal.
"Iya sha, Bram ditugaskan ke Afrika sebulan lagi, jadi papa dan om tyo memutuskan untuk mempercepat pernikahan kamu sama Bram"
"Papa ko gitu? Aku kan belum bilang kalo aku sudah kenal dan cocok sama dia, ma bantuin jelasin sama papa!"
"Sha, mama gak bisa bantu kamu, kalo nunggu siap memang sampai kapanpun gak akan pernah 100% siap"
"Kenapa gak setelah dia pulang dari tugasnya aja si pa ?"
"Gak bisa sha" papa menjawab dengan tegas
"Papa kenapa makasa banget si, Sasa pusing, demi papa Sasa udah Nerima perjodohan ini, bahkan tiba-tiba lamaran aja, Sasa cuma minta waktu buat kenal dia aja pa"
"Sha, nurut aja ya sama papa"
"Atau jangan-jangan papa jual Sasa? Dikasih uang berapa pa sama keluarga Om Tyo?"
Mama berteriak karena kaget mendengar perkataanku yang lancang
"Sha, mama gak pernah ajarin kamu ngomong lancang ya sama orang tua"
"Mama kok gitu, pernikahan kok dijadiin mainan kayak gini ?? Aku langsung bangun dari kursi dan pergi ke kantor, aku benar-benar kecewa saat itu, aku juga malas berdebat banyak dengan orangtua.
"Sha, mama mohon kami sebenarnya tidak ingin memaksamu, tapi ini yang terbaik nak" mama berbicara sambil agak teriak karena aku terus berjalan keluar tanpa mempedulikan perkataan mama.
"Drama apalagi si ini? Semuanya serba tiba-tiba kayak gini" gumamku dalam hati.
Aku berjalan agak jauh Sambil memesan ojek online, aku benar-benar tidak mau sekedar hanya berdiri didepan rumah pun, situasi pagi ini sangat berat, sangat menguras emosi.
Pagi-pagi bukannya dapat kabar baik, kabar yang bikin semangat, ini malah sebaliknya.
Sesampainya di kantor aku Tidak terlalu konsentrasi bekerja karena kejadian tadi akhirnya aku menelpon Bram karena ingin memperjelas semuanya, akupun menelpon Bram.
Sebelum menelpon aku sempat ragu tapi dalam pikirku buat apa ragu, ini demi kejelasan masa depan sendiri, aku benar-benar akan membombardir dia dengan banyak pertanyaan, aku benar-benar tidak habis pikir kalau keluarga kami akan mempercepat pernikahan ini.
*Ah sial, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi bekerja
Mimpi apa aku semalam
Papa sama Mama benar-benar keterlaluan*
Sambil memegang hp yang sedang mencoba menghubungi Mas Bram, aku memukul-mukul jidatku entah kenapa, mungkin itu adalah salahsatu luapan ekspresi situasi yang sedang aku alami saat ini.
__ADS_1
"Hallo sha ada apa?"
"Gak usah pura-pura gak tau deh mas, itu maksudnya apa ko papa bilang pernikahan kita dipercepat?"
"Aku tidak ikut campur masalah itu sha"
"Kamu kan bisa nolak, kalo kamu ditugasin keluar negeri yaudah pergi aja, kan aku bisa punya waktu lama buat nyiapin mental aku buat perjodohan ini"
"Sha aku gak bisa nolak"
Aku tidak sempat bertanya banyak karena keburu kesal dengan perkataannya tadi, dia juga sempat menelpon kembali tapi aku malas mengangkatnya, mungkin karena dia mengerti situasi hati aku sekarang yang sedang kacau dia akhirnya tidak menelepon aku kembali ketika telpon pertamanya tidak aku angkat tadi.
"Sha aku gak bisa nolak" aku mengulang kembali kata-kata mas Bram tadi.
*Gak bisa nolak gimana si, jadi cowok lemah amat.
Tinggal bilang pernikahannya gak dalam waktu deket aja susah amat
Ahhhhhhhh,,, Astaga aku harus bagaimana*
Karena kesal akupun langsung mematikan telpon dan lanjut menelpon Ana
"Hallo na"
"Iya sha ada apa?"
"Gue mau cerita sebentar sama Lo na"
"Iya sha cerita aja gue dengerin"
"Na" suaraku gemetar
"Kenapa sha ada apa?"
" Tadi pagi bokap gue bilang kalo pernikahan gue dipercepat karena Bram sebulan lagi akan ditugaskan diluar negeri, gue bingung na"
"Sha Lo tenang dulu, apa Lo gak bisa nolak atau cari alesan gitu?"
"Lo tau bokap gue kayak gimana na, meskipun dia selalu ngedukung keinginan gue tapi sekalinya dia gak seuju tetap gak setuju, sekalinya harus ya harus"
"Terus gimana sha gue juga kan gak bisa bantu, yaudah mending sekarang Lo pikirin lagi dengan tenang, setelah Lo kenal sama Bram menurut Lo apa dia memang tepat buat Lo apa enggak"
"Na gue kan baru kenal bentar sama dia"
"Ah gue lupa, elo kan orangnya susah banget buat kenal sama orangnya, kalo gue jadi elo gue mah mau ko sama si Bram sha hahah, jangan nolak sha susah nyari yang kayak gitu"
"Ah Lo sama aja na, gue pikir Lo bisa bantu bikin solusi, eh sama aja sama yang lain, pas awal-awal ngobrol tadi Lo kayaknya serius banget"
Aku pikir dengan menelpon Ana bisa membantu membuat solusi, nyatanya tidak, bahkan dia sempat-sempatnya bilang kalau dia yang dijodohkan dia bakal mau sama Bram, emangnya dia tau apa tentang mas Bram.
"Ya gimana lagi sha gue ngerti perasaan lo, seumur idup aja Lo baru ngalamin pacaran 24 jam apalagi ini langsung disuruh kawin"
"Na, gue lagu stress ini"
__ADS_1
"Jangan di bawa stress sha, percuma Lo mikirin ini keras kalo ujung2nya lo tetep harus kawin juga, sekarang sadarin diri Lo aja, bismillah sha"
"Ana ini kawin lho bukan cuma mau ujian yang cuma sejam dua jam, udahlah Lo sama2 nyebelin"
"Yaudah sha, jangan lupa Dateng ke nikahan gue ya, sama mas Bram ya hahaha"
"Ana Lo kok gitu si"
Ana bersikap kayak gitu karena dia tau betul sikap aku, seberat apapun masalah yang aku alami aku gak akan berani ngelakuin hal yang "gila" aku selalu menyelesaikan dengan kepala dingin.
"Nyebelin Lo na, kali ini gue gak bisa nyelesein masalah gue dengan kepala dingin, kepala gue panas banget sekarang *****" gumamku dalam hati.
Setelah menyelesaikan pekerjaan akhirnya akupun pulang, ketika memasuki rumah mama dan papa sedang menonton tv di tengah rumah.
Mama "sha udah pulang?"
Aku tidak menjawab mama karena masih merasa sangat kesal dengan kejadian tadi pagi, aku langsung naik ke atas dan masuk ke kamar, sesampainya di kamar aku membanting tasku ke kasur dan duduk di kursi yang menghadap kekaca.
Sambil menatap wajahku aku bergumam " kenapa gue kemaren pas awal gak nolak mati-matian ya?, Apa jangan-jangan sebenarnya Lo juga berharap kalo Bram suatu saat jadi suami Lo?, Apa karena pengen ngewujudin keinginan papa aja? Okeh gue coba berfikir positif dengan perjodohan ini.
"Setelah gue ketemu sama bram, dia memang cowok baik-baik keliatannya, dia juga sopan,ramah dan sayang orangtua, si ana emang bener kalo dia itu cowok idaman dan lumayan langka bisa dapet cowok kayak gitu sekarang. Tapi kan masalah utamanya cuma gue aja yang belum siap, gue kok masih takut buat nikah secepet ini, iapun gue udah kenal lama kayaknya gue masih takut deh buat kawin"
Aku berbicara sendiri sambil menghadap kaca, dan ternyata mama mendengar omonganku barusan.
"Sha" aku terkejut karena mama tiba-tiba ada di belakangku.
"Sha, mama gak bisa bantu apa-apa sayang, mama tau ini pasti sulit, tapi gimana lagi ini kemauan papamu, sekarang kamu coba buat buka hati kamu sha! Pikirkan positifnya saja, kali menunggu siap sebenarnya mama juga tidak seratus persen siap, tapi mama selalu menanamkan di diri mama buat ikhlas dalam menjalani rumah tangga"
"Ma, tapi aku takut pernikahanku gagal"
"Suttt, jangan bicara begitu sha, banyak kok yang pacaran lama pas nikah cuma sebentar,. Mama yakin Bram anak baik-baik sha"
"Tapi ma". Akupun memeluk mama.
"Ma, sorry ya tadi pagi aku ngomongnya kayak gitu"
"Iya mama sama papa ngerti sha, ini terlalu cepat buat kamu"
"Kalo mama sama papa udah tau kalo ini terlalu cepat buat aku, kenapa papa sama Mama tetap memaksa ma?"
"Maaf sayang, itu keinginan terbesar papa kamu"
"Tapi kenapa ma?"
Aku terus merengek meminta penjelasan mama dengan rinci, tapi seketika mama melepaskan pelukannya karena papa dari bawah memanggil.
"Sha, mama dipanggil papa"
"Yaudah"
"Tenangin pikiran kamu sayang"
"Iya"
__ADS_1
Akupun memutuskan untuk mengikuti apapun yang diinginkan kedua orang tuaku, aku sudah benar-benar bingung dan hilang harapan.