
"Sha" dia sekarang memandang wajahku dengan seksama, tak terasa ada air mata yang jatuh di pipiku. Dia mengusap pipi kananku dengan lembut.
"Kenapa sha? Kenapa nangis?"
"Aku hanya kuat menggelengkan kepala"
"Aku rindu sama kamu sha"
"Aku sayang sama kamu"
"Sha, kamu bilang apa barusan?"
"Ahh, emmm"
Dari mana kata-kata itu muncul, kenapa aku tidak bisa mengontrol mulutku ini, ahh sialan, kini pipiku memerah karena malu"
"Jangan pura-pura gak denger! Aku mau pulang"
Dia tersenyum, sambil memegang bahuku.
"Aku tegasin sama kamu, aku sangat sangat sayang sama kamu, kenapa si masih gengsi aja"
"Aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala"
"A- a- aku gak tau"
Tiba-tiba mas Bram memeluk kembali diriku, rasa tenang dan damai kembali terasa di hatiku.
"Makasi sha"
"Aku hanya mengangguk-ngangguk saja"
Tak banyak hal yang kami ucapkan, tapi banyak arti yang kami dapatkan.
"Udah dong pelukannya,udah lama nunggu nih"
Suara Raffi mengagetkan kami berdua.
__ADS_1
"Terhitung kalian sudah tiga menit pelukan selama aku disini"
"Biarin kenapa ffi, gue kan kangen sama"
"Iya gue tau, tapi nanti aja bisa gak, mending sekarang langsung pulang ya, biar cepet nyampe rumah, biar bisa puas-puasin tuh kangen-kangenan nya"
"Lu sodara baru Dateng baru ketemu bukannya nanyain kabar ffi, kamu juga gak nanyain kabar aku Sha"
"Lupa" hanya itu jawabanku karena masih merasa canggung. Dan segera pergi menuju tempat parkir.
Dimobil aku duduk dibelakang bersama mas Bram, dan perjalanannya cukup melelahkan, akupun terus menguap karena sangat mengantuk, mas Bram pun menepuk pundaknya.
"Sini Sha tidur aja, kasian dari tadi nguap terus"
Tanpa pikir panjang akupun langsung menempelkan kepalaku di punggungnya , dan melingkarkan kedua tanganku di tangan kekarnya.
"Nasib jadi jomblo" kata Raffi di depan
"Diem kenapa ffi, Lo harusnya dukung gue biar Shanum bisa lebih dari gini"
Ketika kantuk berat aku memang tidak akan memperdulikan apapun, antara sadar dan tidak sadar, tapi aku masih sadar kalo tidur di pundaknya mas Bram sangat nyaman, apalagi dia mengelus kepalaku dengan lembut, biarkan saja toh aku nyaman juga. Aku tidak jadi marah kepada mulutku karena sudah keceplosan menyatakan bahwa aku sayang padanya, nyatanya aku sekarang memang sadar bahwa aku benar-benar menyayanginya.
setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami tiba, Raffi langsung pamit pulang dengan alasan memberikan waktu melepaskan rindu untuk kami berdua, dasar bocah satu ini, tau apa dia.
"Ffi, masuk dulu gih, belum pernah masuk ke rumah ini kan?" kata mas Bram mengaj Raffi mampir.
"besok deh mas, aku mau pulang aja, puas-puasin aja deh tuh kangen-kangenan nya"
"bagus deh kalo ngerti, yaudah besok kesini ya, kita maen PS bareng udah lama"
"oke mas, aku pamit"
"oke Ffi, hati-hati" kataku bersamaan.
setelah masuk, mas Bram membawa barang-barangnya ke kamar, ketika dia akan membereskan isi koper aku melarangnya
"gak usah di beresin mas, nanti aja sama aku, mending kamu bersih-bersih aja terus turun kebawah, aku mau masakin kamu"
__ADS_1
"oke Shanum sayang, Thankyou ya"
"iya"
selesai masak, makan dan membereskannya kami duduk di sofa ruang keluarga, tiba-tiba mas Bram manggilku untuk lebih mendekat padanya.
"Sha, sebelah sini deh" sambil menepuk kursi di dekat pahanya
"ada apa?" akupun mendekat
tiba-tiba dia menggenggam tanganku dengan erat, lalu wajah kita saling bersitatap.
"Makasih sha?"
"untuk apa?"
"ucapan kamu di Bandara tadi bener-bener bikin aku lega, bikin aku bahagia"
aku hanya mengangguk karena bingung harus bersikap seperti apa.
"biar aku tegasin sha, aku sangat sangat sama kamu, kita mulai menata kehidupan kita sama-sama ya, i love you Sha"
"love you to"
"yang keras dong Sha"
"udah ah, malu tau"
tak banyak kata yang terucap, kami kembali berpelukan dengan erat, huh kenapa sangat nyaman sekali berada di pelukannya.
mas Bram menatap wajahku kembali, menatap kedua bola mataku lalu mengusap bibirku dengan lembut.
"Sha, boleh gak?"
meskipun kurang pengalaman tapi aku masih bisa menangkap maksud pertanyaan dia, benari laki-laki yang memperlakukan perempuan dengan selayaknya, bahkan dia tetap meminta izin walaupun pada kenyataannya kami berdua adalah pasangan suami istri.aku hanya mengangguk pelan.
bibir kami saling bertemu satu sama lain, kupejamkan kedua mataku karena masih ada rasa tidak percaya dengan apa yang saat ini aku alami.
__ADS_1