
Hari demi hari kujalani dengan pergi ke kantor dan menunggu pesan atau telpon dari Mas Bram, selama tiga Minggu kepergiannya ini aku hanya berkomunikasi lewat telpon dua kali saja sebenarnya, dan yang aku ingat aku hanya satu kali mengirim pesan ke Mas Bram duluan, karena ya benar, rasa gengsiku masih tinggi.
Minggu lalu aku juga mengunjungi rumah mertuaku, seperti biasa, aku belajar masak sama mam disana, Mama Maya juga memaksaku untuk menginap karena papa sedang pergi ke luar Kota, akhirnya akupun menginap satu malam disana.
Dan disaat aku akan tidur di kamar Mas Bram lah aku mengirim pesan terahulu untuk pertama kalinya kepada mas Bram selama disana.
"Mas aku dirumah kamu lagi nginep karena pap lagi ke luar kota"
Itupun dibalasnya besok paginya karena mungkin perbedaan waktu disini dan disana.
Tiga Minggu bekerja di kantor saat ini terasa berbeda karena ada Nisa yang selalu heboh dan kadang-kadang memang bikin ketawa.
Satu jam sebelum waktu kerja selesai aku mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Hallo, ini siapa ya?"
"Hallo daya Bima mbak, saya rekan kerjanya Bram"
"Iya, ada keperluan apa mas telpon saya"
"Gini mbak" suaranya terdengar agak aneh
"Mas Bram kecelakaan tadi pas dia lagi bertugas"
Deg, tubuhku langsung lemas
"Kecelakaan gimana mas? Terus sekarang dia gimana, gimana keadaannya sekarang?" Suaraku agak meninggi
"Dia kena tembakan mbak"
Belum selesai dia berbicara handphone ku sudah terjatuh ke lantai, Nisa spontan langsung bertanya padaku dengan nada paniknya
"Sha Lo kenapa sha?"
__ADS_1
Aku langsung memeluk Nisa
"Mas Bram kena tembak pas lagi tugas Nis"
"Astaga kena tembaknya dibagian mana sha, terus sekarang dimana?"
"Gue gak keburu nanyain itu Nis"
Aku belum sempat menjawab pertanyaan Nisadengan lengkap, aku langsung lari dan meminta izin untuk pulangebih awal, dan ternyata Nisa mengikutiku dari belakang.
"Sha mau kemana?"
"Mau pulang"
"Kali gitu gue anterin ya sha?"
"Gak usah Nis gue mau naik ojek biar cepet"
"Yakin sha? Tapi hati-hati ya, nanti Lo jelasin sama gue kalo Lo udah mulai tenang"
"Shanum hati-hati, kendaliin emosi kamu"
Ketika ojek online datang aku langsung menaiki motor dan menaikinya kalau mengajak mas ojol agar jalannya cepat.
Di jalan rasanya hatiku masih linglung dengan kabar yang kudengar, karena itulah aku tidak mengeluarkan ekspresi orang yang panik biasanya
Tibalah aku dirumahnya mas Bram, aku langsung mengetuk pintu sambil mondar mandir kesana kemari, tak lama Mama Maya terlihat membukakan pintu, sontak aku langsung berteriak dan memeluknya.
"Ma, Mas Bram ma" sambil menangis
"Iya sha mama tau, kamu tenang dulu yah ayo masuk duduk dulu"
Aku langsung menjatuhkan badanku ke kursi.
__ADS_1
"Udah sha, Bram baik-baik aja kok, dia kena luka tembak di tangannya, dia belum menelpon karena katanya dia lagi diobatin sha, kata temennya Bram kamu tadi langsung matiin telponnya gitu aja" panjang lebar menjelaskan
"Apa kenapa aku bodoh sekali
Kenapa aku tidak menanyakan hal itu tadi
Aku pikir dia kena tembakan di dadanya atau diare vital lainnya."
Dan sekarang aku merasa malu dihadapan mam mertuaku.
"Aduh udah sayang jangan nangis, sebegitu khawatirnya ya kamu sama Bram"
"Ma, tadi aku panik jadi aku gak sempet kepikiran buat nanya ini itu, aku shock"
"Iya mama ngerti, Bram pasti cepat sembuh kok" sambil mengelus kepalaku.
"Ah tetap saja yang namanya kena tembakan pasti keluar darah, pasti sakit banget Ma"
"Iya sha tapi bagaimana lagi, udah ya Bram nya juga gak kenapa-kenapa kok tadi katanya, cuma lengannya aja yang ngeluarin darah terus"
"sial kenapa kamu bikin aku jadi panik si Mas" gerutuku dalam hati.
"Mama aja bisa tenang masa kamu enggak si"
"Iya ma, kali gitu aku pulang dulu ya kapan-kapan aku kesini lagi" dengan keadaan wajah dan mataku yang merah karena sisa tangisan tadi.
"Nginep aja sayang, sekarang kamu deh yang mama temenin"
"Tapi ma, sha kan besok harus tetap kerja, terus ada file-file yang harus Sasa bawa besok ma"
"Yaudah kalo gitu hati-hati, gimana kalo pulangnya nunggu papa, biar dianterin sha"
"Gak usah ma Sasa naik ojol aja biar cepet"
__ADS_1
"Yaudah, kali gitu hayoo sayang, salam sama papa Mama, do'ain Bram cepet pulih juga ya sha"
'iya ma, amiin".