Takut Kawin

Takut Kawin
bagian 17 (nonton bareng)


__ADS_3

Hari sudah menunjukan pukul sembilan malam, aku dan mas Bram baru saja naik ke atas setelah makan malam dan berbincang sebentar dengan orang tua mas Bram. Kami bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa tadi.


"Mas sepak bolanya mulai jam berapa?"


Rencananya kami akan menonton sepak bola bersama, Karena kami sama-sama suka dengan persepak bolaan ini


"Jam sepuluhan sha"


"Terus kita nunggunya sambil ngapain ya?"


"Sambil cerita-cerita aja, ceritain masa SMA kamu juga boleh"


"Ah masa-masa SMA ku biasa aja mas, gak ada pacar gak ada gebetan temen cuma dikit pula, eh jangan-jangan mas Bram playboy dulu waktu SMA?"


"So tau kamu, aku ini setia orangnya sha"


"Berarti kemaren pas pacaran sama orang-orang itu setia dong?"


"Cuma masa lalu sha, udah ah jangan di bahas, aku mau ke bawah dulu"


"Eh kenapa gak mau bahas? Bukannya tadi kamu ya yang nyuruh aku bahas pengalaman pas SMA, apa jangan-jangan kamu masih inget terus ya sama mantan-mantan kamu pas SMA"


"Eh kenapa heboh gitu, kan ada kamu sekarang, ngapain aku harus mikirin orang lain"


"Terserah deh, aku juga udah pegang janji kamu sebelum kita"


"Sebelum kita apa? Iya aku inget kok janjinya, yaudah aku ke bawah dulu"


"Oke"


Sepertinya akupun tidak terlalu mau memperdulikan masa kalau dia, sudahlah aku hanya ingin mengenal dia yang sekarang.


Selang berapa lama mas Bram kemblai ke kamar dan membawa satu cangkir yang tercium dari baunya kalau itu adalah kopi.


"Kamu habis bikin kopi?"


"Iya sha, kenapa? Mau juga? Aku buatin kalo gitu, tapi ini kopi hitam sha"


"Gak usah repot-repot mas, aku nanti nyicip dari cangkir kamu aja, gak mau minum banyak takut nanti malah gak bisa tidur"


"Emang kamu suka kopi hitam sha?"


"Suka banget, malah aku gak suka kopi-kopi yang pake susu atau segala macam"

__ADS_1


"Nambah satu lagi nih keunikan kamu yang aku tau" sambil tertawa kecil


"Cuma suka kopi item aja unik aneh banget kamu ini"


"Ya kan jarang-jarang cewek suka kopi item"


"Enggak juga tau"


Sejak awal-awal bertemu mas Bram selalu saja berkata kalau aku ini perempuan yang aneh lah perempuan yang unik lah, bahkan barusan aku bilang suka kopi hitam aja dibilangnya unik, cewek lain banyak juga kok yang suka kopi hitam pikirku.


Akupun mengeluarkan makanan-makanan yang sempat kebeli di minimarket kemarin ketika dalam perjalanan kesini, nonton bola sambil makan emang paling nikmat.


"Itu makanan yang kemarin kamu beli ya sha?" Tanya mas Bram


"Iya, kamu suka gak makanan kayak gini"


"Kurang suka si makanan-makanan ringan kayak gitu, tapi karena kamu yang beli aku ikutan makan deh"


"Gak ikut makan juga gak papa"


"Wah kamu ini, jahat banget ya, aku mau ngerasain cemilan yang kamu pilih ini enak apa enggak"


"Emangnya selera aku jelek apa?"


"Yaudah deh enggak, pilihan kamu selalu tepat"


"Sejak kapan kamu suka sepak bola sha?"


"Sejak SMP mungkin"


"Kok bisa suka si?"


"Ya suka aja, mungkin karena papa dulu sering ajak aku nonton bareng"


"Kamu memang unik banget ya sha, kamu beda dari perempuan-perempuan kebanyakan, pekerjaan rumah, masak kamu tetep jago juga"


"Stop jangan puji-puji aku deh mas, aku akuin kok aku emang multi talenta"


"Uh sombong ya si mojang tomboy satu ini"


"Kok sombong, orang tadi kamu yang akuin kok"


"Iyadeh, kamu multi talenta, cewek idaman pokoknya"

__ADS_1


Tak terasa kamipun telah menyelesaikan menonton satu babak pertandingan dan sekali-kali aku meminum kopi buatan mas Bram disela-sela makan cemilan


"Aku bilang apa mas, tim favorit aku pasti unggul"


"Oke, kamu jago juga milih tim favorit"


"Iya dong"


"Eh kamu gak pap ngemil tengah malem gini?"


"Emangnya kenapa? Ini hari spesial karena hari weekend"


"Oh, jadi hari weekend tu harinya kamu memanjakan diri ya?"


"Iya"


"Mungkin itu sebabnya kamu betah sendiri, karena kamu udah nyaman sama diri kamu ini"


"Iyalah mas, kalo bukan kita yang perhatiin diri kita siapa lagi, mungkin bisa diartikan makna hidup aku ya untuk aku dan keluargaku"


"Tapi mungkin setelah kamu bisa ngerasain ada orang asing yang sekarang selalu di dekatmu dan selalu ingin membuat kamu bahagia, makna hidup kamu juga mungkin akan berubah sha"


"Mungkin, terus makna hidup kamu sekarang apa mas?"


"Selain diri aku dan keluargaku, karena sekarang ada kamu, kamu juga sudah menjadi dari bagian makna hidupku sha"


Akupun terdiam sekejap, seperti orang kebingungan.


"Mmmhh, makasi mas udah jadiin aku prioritas kamu juga, dengan diri aku yang masih" ucapan ku tergantung.


"Iya sha gak papa"


"Aku usahain mas, kamu tau sendiri cinta memang tidak bisa dipaksa tapi lagi-lagi dalam hubungan kita ini mungkin aku cuma butuh waktu aja "


"Iya sha udahlah, kita lanjut nonton babak keduanya tuh udah mau mulai"


Ditengah-tengah babak ke dua menonton pertandingan, aku benar-benar merasa ngantuk, akupun menyandarkan diri ke tempat tidur, mungkin setelah itu aku tidur sangat pulas karena ketika terbangun aku sudah berada di atas ranjang, dan mas Bram disebelah ku.


Ia melingkarkan tangannya di perutku, aku membiarkannya saja, karena mungkin aku udah mulai terbiasa dengan situasi yang seperti ini.


Karena ketika aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku dengan keadaan mas Bram yang sedang melingkarkan tangannya di perutku itu.


Bahkan aku sempat mengusap pipi di wajah tampannya itu, dan sempat bergumam kalau wajahnya terlihat semakin tampan ketika tertidur.

__ADS_1


Kadang-kadang aku sudah agak terbiasa dengan melihat mas Bram ketika terbangun dari tidur, bahkan kadang-kadang aku juga suka memandang wajahnya lama tapi kadang-kadang juga aku selalu awkard kalau ingat hal-hal seperti itu.


Entahlah sepertinya aku memang orang uang plin-plan dalam masalah hubungan percintaan, tapi tetap saja aku tidak mau mengklaim kamu diriku plin-plan, tetap saja aku menganggap diriku ini masih butuh waktu.


__ADS_2