
Dua hari setelah lamaran itu tepat Malam hari sekitar pukul 19:00 aku sedang chattingan di grup WhatsApp, awalnya ana yang membuka pembicaraan.
"Guys pada kemana nih? Udah pada lulus sepi amat."
Lanjut dibalas sama kita berempat.
Reza " iya nih gue baru ngeh, sibuk kerja soalnya"
Ana "sibuk kerja bukan berarti lupa sama temen juga kali"
Aditya "eh kalian, udah pada sibuk masing-masing ya hehe, yaudah gampang tinggal kumpul aja nanti kalo weekend"
Aku "yaudah weekend nanti kita kumpul aja di kafe favorit kita, biar bisa ngobrol banyak"
Anisa "Oke calon manten"
Aku "eh apaan lu nis dateng-dateng langsung bikin gue emosi aja haha"
Anisa "lah emang iya kan, Lo orang kedua yang kawin di antara kita berlima ya haha"
Seminggu yang lalu Ana memang memberi tahu kita kalo dia Tiga Minggu lagi akan melangsungkan pernikahan.
Aku "Apaan si nis"
Nisa "nanti dinikahkan ana bawa calon suami Lo ya gue pengen liat"
Aditya "bener-bener tuh gue pengen liat calon suami si cewek batu yang satu ini"
Aku "kalian berdua emang nyebelin nya sama ya, kalian tau kan gue kepaksa, bukannya bantuin mikir malah ngekek gue mulu nih kalian"
Ana "bantuin apa sha? Bantuin agar Lo bisa cinta sama calon suami Lo itu?
Aku "Lo polos-polos nyebelin ya na"
Ana "ah udah lah pokoknya jangan lupa ya Dateng ke pernikahan gue nanti, kita obrolin lagi pas kumpul."
Ketika aku sedang asik chatting tiba-tiba ada WhatsApp masuk dari mas Bram
"Sha kamu lagi dimana? Aku mau ngajakin kamu nonton, ada film bagus nih, kalo kamu mau aku langsung jemput sekarang?"
Akupun membiarkan pesan itu beberapa menit untuk berfikir, "mungkin gue harus mau gak si supaya gue bisa lebih ngenal dia? Kalo dia orangnya baik ya syukur nah kalo gak baik terus gue gak tau tapi nantinya tetep dipaksa kawin juga gimana?" Aku bertanya kepada diri sendiri.
"Yaudah aku siap-siap" balas pesanku kepada mas Bram.
"Oke sha aku berangkat"
Setelah 15 menitan mas Bram datang dan mama yang membukakan pintu,mama memanggilku dari bawah.
"Sha ini ada Bram"
"Iya ma sebentar"
Setelah membawa tas kecilku aku langsung buru-buru turun ke bawah, ternyata di bawah sudah ada mas Bram yang sedang mengobrol dengan papa, " pinter banget nyari perhatian bokap gue" ucapku dalam hati.
"Pa, aku pergi dulu"
"Iya, hati-hati sha" jawab papa sambil senyam-senyum.
__ADS_1
Sesampainya di tempat tujuan mas Bram langsung mengajakku ke lantai dua, karena memang letak bioskopnya ada disana.
"Sha mau nonton film apa?"
"Tadi kata mas ada film yang bagus itu film apa?
"Film horor, mau gak nonton filmnya"
"Mas suka film horor?
"Iya sha"
"Yaudah"
Setelah itu mas Bram pun membelikan tiketnya, sebelum masuk ke ruang bioskop mas Bram juga sempat membelikan minuman dan popcorn.
"Sha ni ambil buat nanti di dalem"
"Oh, makasi"
Kita berdua pun masuk, setelah beberapa menit akhirnya film pun dilutar, orang-orang heboh menjerit karena ketakutan sedangkan aku biasa aja karena menurutku itu tidak seram, dan aku sebenarnya tidak suka sama film horor, tapi karena gak enak sama mas Bram aku ngikut aja, lagian katanya filmnya bagus.
Setelah setengah jam menonton film aku malah sangat merasa ngantuk, tak sadar akupun ketiduran dan menyender di bahu kekarnya mas Bram dengan popcorn yang masih ditangan.
Tiba-tiba orang seisi Biiskop menjerit dan aku langsung terbangun dan memeluk mas Bram karena kaget, setelah beberapa detik akupun tersadar dan melepaskan pelukanku, gak terbayang si gimana malunya saat itu.
"Eh so so rry mas aku kaget banget soalnya" ucapku sambil agak terbata-bata
" Haha tidurnya pules banget sha"
"Ya kenapa juga kamu gak ngebangunin, kan malah kayak gini jadinya"
"Ih kok malah gitu si aku malu tau, gak sengaja juga"
"Udah gak papa sha, lanjut nonton aja"
"Aku lanjut tidur aja, udah jangan berisik nanti orang lain marah"
"Ngambek sha haha"
"Ihh, bangunin aja nanti pas filmnya udah selesai!"
Akupun pura-pura tidur kembali, meskipun sebagian orang masih berteriak aku tidak memperdulikannya, sebenarnya hal ini aku lakuin karena aku masih malu sama mas Bram.
Setelah film selesai mas Bram membangunkan ku padahal dari tadi aku pura-pura tidur.
"Sha bangun filmnya udah selesai"
Aku langsung bangun
"Yaudah langsung pulang aja"
"Loh gak mau makan dulu?"
"Enggak, aku ngantuk"
"Yaudah kita pulang aja"
Ditengah perjalanan mas Bram memulai pembicaraan lagi
__ADS_1
"Sha kok itu popcornnya masih di pegang?"
"Oh iya, aku gak suka popcorn mas"
"Kenapa gak bilang sha?"
"Ya aku gak enak sama kamu"
"Ya ampun sha kayak sama siapa aja, terus tadi kenapa pas nonton malah tidur?"
"Ya sebenernya aku juga gak terlalu suka film horor juga"
"Sha kamu masih nganggap aku orang asing? Bahkan hal kecil yang kamu suka atau enggak aja kamu gak mau bilang sama aku"
"Mas aku itu baru ketemu kamu sebentar, aku tuh butuh waktu lama buat kenal sama seseorang, apalagi posisi kamu ini udah dijodohin sama aku, aku tuh bingung harus ngapain, niatnya si aku minta waktu ke papa buat bisa lebih kenal sama kamu, tapi kok aku sudah tau"
"Jangan gitu sha, jangan anggap aku orang asing, gak usah canggung lagi sama aku, aku juga berusaha buat ngertiin kamu kok"
"Yaudah makasi, aku juga minta maaf sama kamu"
"Gak perlu minta maaf sha, santai aja"
Aku hanya menganggukan kepalaku.
Sesampainya didepan rumah mas Bram
"Sha inget kata aku tadi ya"
"Iya, kamu gak mau masuk dulu mas?"
"Enggaklah kasian jamunya udah ngantuk, salam aja sama om dan tante!"
"Oke nanti aku sampein, thankyo ya aku masuk dulu, salam juga buat om tyo dan tante"
"Oke sha"
Sesampainya didalam aku langsung berbicara kepada papa yang sedang menonton TV bersama mama.
"Sha udah pulang"
"Iya pa, pa aku mau ngomong sama papa" aku duduk di kursi sebelah papa duduk
"Pa kayaknya aku gak siap buat nikah di waktu dekat ini pa, rasanya aku butuh waktu tahunan lagi untuk siap, aku tetep bersikap baik sama Bram dan keluarganya karena keluarga mereka adalah sahabatnya papa, aku sangat menghormati mereka.
"Sha, tapi papa rasa waktu papa sudah bukan tahunan lagi"
"Pa, stop dong ngomonin hal kayak gitu! Aku takut kehilangan papa tau"
"Sha semua sudah ada yang mengaturnya"
"Yaudah pa, tapi aku mohon jangan buru-buru nikahin aku pa, aku masih perlu waktu"
"Iya sha, papa lihat kamu semakin dewasa sekarang, tidak semua hal harus di atasi dengan emosi, itu kan yang papa ajarkan sama kamu"
"Iya pa, ma, aku mau ke kamar, ngantuk "
"Yaudah sha, jangan ragu-ragu dalam menjalin hubungan harus yakin sha"
"Gimana gak ragu-ragu orang ini dipaksa" gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku langsung masuk kekamar dan mencuci muka dan langsung mengganti pakainku, malam itu aku sudah benar-benar malas melakukan sesuatu jadi aku langsung tidur.