Takut Kawin

Takut Kawin
bagian 13 (hari pernikahan)


__ADS_3

Entah perasaan apa yang sedang aku rasakan saat ini, tegang, badanku terasa lemas, cemas pokoknya campur aduk hal ini terjadi karena besok adalah hari pernikahan ku dengan mas bram, "huh rasanya aku sedang ada di tepi jurang sekarang, tenang sha tenang jangan tegang, kenapa rasanya aneh banget si gue harus gimana ini??" Aku mengobrol sendiri di kamar sambil mondar-mandir kesana kemari.


Tok...tok...tokk suara ketukan pintu, tanpa pikir panjang akupun langsung menyahut


"Siapa?"


"Ini mama Cha"


"Masuk aja ma"


Ketika mama membuka pintu akupun langsung memeluk erat mama dan tiba-tiba air mataku keluar begitu saja


"Kenapa sayang kok kamu nangis gini?'


"Aku bingung ma, kok perasaan aku gak tenang gini dari tadi, badanku juga terasa gemetar gini ma"


"Wajar sayang mama juga dulu kayak gitu, tapi mama dulu gak sampe segininya juga si" sambil meledek tertawa


"Mas, aku serius"


"Ia sha, jangan terlalu dibawa stress ya nanti kamu malah sakit"


"Huh tapi aku susah ngendaliin perasaan aku sekarang ma"


"Yaudah peluk mama aja yang lama biar kamu tenang, gadis introvert mama yang satu ini ternyata Cengeng juga ya"


"Awas ya ma kalo bilang-bilang papa kalo aku nangis kayak gini"


"Iya deh" tersenyum meledek lagi


"Terus aku Sekarang harus gimana ma, aku bener2 shock kalo besok tiba-tiba aku udah menikah"


"Kamu gak harus ngapa-ngapain, kamu sekarang cuma harus makan ya! Biar gak sakit, mama bawain deh makannya ke sini"


"Yaudah makasi ma"


"Iya sama-sama, mama yakin anak mama ini pasti bisa ngelewatin semua rintangan ini"


"Pasti ma, udah terlanjur juga, mudah-mudahan mas Bram yang terbaik ma"


"Iya sha"


Hari yang dinanti-nanti hampir semua calon pengantin telah tiba, tapi tidak denganku rasanya aku ingin terus mengulur waktu karena menunggu rasa kesiapan itu dihatiku, ketika aku sedang duduk di meja rias tiba-tiba telfon di depanku berdering, ternyata itu mas bram


"Hallo mas"


"Hallo sha, kamu baik-baik aja, gimana udah siap?"

__ADS_1


Aku menghela nafas


"Ini aku baru selesai makeup, ada apa?"


"sebenarnya dari semalam aku pengen nelfon kamu tapi takut kamunya sibuk"


"Iya, terus kamu nelfon aku ini ada apa"


"Ya gak papa dong sha aku pengen tau aja keadaan calon istri aku ini gimana, tegang apa enggak nih?" Tertawa kecil


"Kok kamu masih bisa ketawa gitu si, asal kamu tau ya dari semalem aku tu tegang banget, badan aku aja sampe gemetaran tau gak"


"Tadinya biar suasananya cair aja sha biar gak tegang-tegang banget nanti pas ijab kabul, tapi sekarang kamu baik-baik aja kan?"


"Iya baik, udah dulu ya aku belum selesai ini"


"Yaudah sampe ketemu di depan penghulu dan papa kamu ya"


"Terserah kamu deh, aku masih bingung harus bersikap kayak gimana ini"


"Yauda deh cewek serius yang sudah banget di ajak becanda"


Satu jam setelah telfonnya tadi, akhirnya orangnya pun datang, Riri sepupu ku memberi tahu kepadaku.


"Sha mas Bram sama rombongannya udah Dateng, rileks ya sebentar lagi kamu keluar"


"Yaudah iya, berdoa dulu huh supaya acaranya lancar, eh hati-hati Lo sampe kebelet pipis nanti karena terlalu tegang"


"Haha, iya juga ya, tenang aja ri gue udah pipis tadi, Lo tau aja kalo gue tegang gue suka kebelet pipis"


"Nah gitu dong ketawa, kan enak liatnya"


Di luar terdengar prosesi-prosesi penyambutan sedang berlangsung dan tak berapa lama mama datang ke kamarku


"Sha, ayo sayang proses akad akan di mulai"


"Iya ma"


"Ayo Riana, kamu ikut antar Shanum ke bawah"


"Oke Tante"


"Berdoa dalam hati sha biar hati kamu tenang" kata mama


Setelah menuruni tangga akhirnya akupun sampai di tempat ijab kabul, aku memaki kebaya putih panjang dan siger khas Sunda mas Bram juga memakai baju yang senada dengan bajuku, ketika aku akan duduk aku baru melihat kalau sahabat-sahabat ku itu ternyata sedang asik merekam diriku, ana dan Nisa terlihat melambaikan tangannya.


Proses ijab kabul pun dimulai, dan yang terjadi aku malah semakin merasa tegang dan ketika semua orang berkata "sah" disitu rasanya jantungku berhenti beberapa detik, dalam hitungan detik kini statusku sudah berubah.

__ADS_1


Setelah selesai membaca doa aku mencium tangan mas Bram, dan mas Bram mencium keningku, huh rasanya sangat memalukan sekali


Setelah semua proses selesai, akhirnya tibalah di proses salaman, hanya sedikit tamu yang datang karena memang acaranya yang terasa buru-buru, disitu ada juga beberapa kerabat mas Bram dari Jogja yang datang, papa mas Bram memang berasal dari Jogja karena itulah aku memanggilnya mas, itu karena aku bingung juga mau panggil dia apa.


Proses paling mengharukan adalah proses sungkeman, aku memeluk papa mama dengan erat disana, susah rasanya untuk menahan air mata agar tidak keluar.


Sahabat-sahabat ku heboh ketika mereka ingin berfoto bersama


Nisa "OMG, si introvert satu ini udah nikah nih"


Aditya "congrats ya kalian langgeng juga pernikahan"


"Amiin" mas Bram menjawab


Reza "jawab amiin dong sha gimana si"


"Gue udah jawab kok cuma didalam hati aja"


Nisa" ah udahlah pokoknya yang terbaik untuk kalian, Lo cantik banget tau gak si sha sama riasan ini beneran pangling gue"


"Makasi pujiannya Nisa bawel sahabatku ini"


Reza "yaudah kita langsung foto-foto aja, gue udah laper nih"


"Huh dasar, aji mumpung lu" Nisa menyambar


Setelah teman-temanku pergi untuk makan, aku dan mas Bram duduk bersebelahan tanpa bersuara, seperti biasa mas Bram akhirnya memuli pembicaraan


"Sha aku masih gak nyangka sekarang kamu sudah menjadi istriku"


"Apalagi aku"


"Kamu terlihat sempurna hari ini"


Karena aku merasa tidak enak dari tadi jutek terus sama mas Bram akhirnya akupun menoleh sambil tersenyum dan berkata


"Kamu juga sangat terlihat sempurna hari ini"


"Bismillah ya kita mulai membangun keluarga kecil kita"


"Iya" dan entah kenapa ketika mas Bram berkata seperti itu rasanya aku ingin menangis karena masih awkard.


"maaf ya mas kalo selama ini aku jutek terus sama kamu"


"iya, kata kamu juga kan karena belum sepenuhnya kenal sama aku"


"iya makasi udah mau ngertiin aku"

__ADS_1


"iya sha sama-sama".


__ADS_2