
Bagian 18 (masak bareng mama mertua)
Tak terasa tepat hari ini adalah hari dimana mas Bram harus pergi selama dua bulan untuk memenuhi tugasnya, jadwal keberangkatannya memang pukul sepuluh, tapi aku dan mama mertuaku sudah sibuk dari pagi menyiapkan makanan yang nantinya bisa tahan sampai beberapa hari.
Nanti rencananya papa dan mamku juga akan ikut mengantar menantunya itu, entah kenapa aku merasa tegang sekali sejak tadi aku bangun, padahal orang yang akan berangkat juga terlihat biasa-biasa saja.
Ditengah-tengah aku sedang memasak aku bertanya kepada mama.
"Ma, setiap mas Bram ada tugas kayak gini mama selalu siapin hal yang sama ya?"
"Iya dong sha, namanya juga seorang ibu terhadap anaknya, ibu kamu juga pasti sama-sama ribet kan kalo sama urusan anaknya?"
"Iya juga si ma" sambil tersenyum
"Sepertinya aku harus hafal semua resep masakan mama ni, soalnya rasanya luar biasa banget ma"
"Harus dan wajib itumah, udah resep turun temurun sha gak bisa diragukan lagi"
Ketika aku sedang berbincang bersama mama papa mertuaku menanggapi perbincangan kami ini.
"Wah seru banget nih ngobrol sama menantu barunya"
"Iya pa, menantu kita jahi juga lho masaknya"
"Wah makin sayang de tuh si Bram"
"Ah papa ada-ada aja" kataku sambil agak malu-malu
Ketika kami saling melempar candaan tiba-tiba suara bel rumah berbunyi, karena aku dan mama sedang sibuk memasak akhirnya papa lah yang membukakan pintu.
Suara tamu yang datang sangat tidak asing, benar saja ternyata itu adalah papa dan mama ku, terdengar mereka saling menyapa satu sama lain, tak lama merekapun masuk.
Aku langsung menghampiri dan memeluk mereka, baru beberapa hari tidak tinggal serumah juga sudah sangat rindu, papa terlihat tersenyum karena ketika masuk dia melihatku sedang sibuk menyiapkan makanan.
"Razade gak di ajak ma?" Tanya ku
"Diajak, tapi dianya udah ada janji sama temennya"
Lalu mama Maya pun menghampiri kedua orangtuaku mereka terlihat sangat akrab.
"Mba Shanum ternyata pinter banget masak ya"
"Ah mbak bisa aja, dia cuma bisa masak-masakan yang sederhana aja kok" ibuku merendah
__ADS_1
"Ih beneran tau mbak, Shanum udah pinter banget masak, sekali di ajarin langsung bisa"
"Alhamdulillah kalo gitu mbak, gak sia-sia saya ngimelin dia supaya ikutan kalo saya lagi masak"
Percakapan merekapun diakhiri dengan ajakan duduk di meja makan, dan ketika kami sudah duduk, aku baru sadar kalo mas Bram tidak ada dibawah, akhirnya akupun meminta izin untuk memanggil mas Bram dikamar.
Ketika aku masuk ke kamar ternyata mas Bram tidak ada, aku mencarinya ke kamar mandi tapi tidak ada juga, akupun memanggil-manggil namanya, tiba-tiba suara dia terdengar berasal dari balkon.
Ketika aku menghampirinya, ternyata dia sedang duduk santai dengan secangkir kopinya.
"Dari tadi disini? Aku cariin dari tadi"
"Iya lagi pengen nyantai, kapan lagi kan bisa kayak gini"
"Yaudah kita turun dulu mas, mama sama papaku Udah dateng, kasian kalo orang tua kita harus nunggu lama"
Mas Bram tersenyum lebar dan menghampiri diriku, lalu ia mengelus rambutku sambil berkata.
"Makasi ya sha"
"Makasi buat apa?"
"Semuanya"
Akupun agak kebingungan dengan tingkah lakunya barusan, tapi bodo amatlah aku sudah lamar pula.
"Iya sayang, kamu bisa bawel juga ya kalo lagi laper"
Apa? Sayang? Kok aku masih agak risih dengan kata-kata itu? Aku langsung pergi sambil menggerutu.
"Sayang sayang apaan"
"Eh kamu ngomong apa sha? Aku gak denger" mas Bram bertanya di belakangku sambil berjalan
"Enggak, bukan sama kamu kok"
"Kamu ini suka banget ngomong sendiri"
Kamipun menyantap makanan yang sudah di sediakan tadi, ditengah-tengah makan orang-orang memujiku karena masakannya enak.
"Ya ampun berlebihan banget deh semuanya, padahal gue masak rasanya kayak gini cuma karena ngikutin arahan mama Maya aja"
Gumamku dalam hati.
__ADS_1
"setelah Bram selesai tugas nanti, kalian ada rencana bulan madu gak nih?" ucapan mama Maya yang membuatku terkejut.
"mmh, belum tau ma, aku pergi aja belum" jawab mas Bram
"iya ma kita jalanin aja dulu, masalah bulan madu atau apa itu terserah nanti aja"
"yaudah kalo gitu mama juga terserah kalian aja"
sepertinya pertanyaan itu hanya angin kalau saja. tapi mama Maya kembali bertanya, kali ini dia bertanya kepada mamaku
"gimana mbak masakannya, enak?"
"jelas dong mbak, saya suka sekali"
"ah syukurlah kalau begitu"
Mama mertuaku ini kalau dilihat-lihat memang agak suka sekali berbicara, tapi tak apalah kebanyakan ibu-ibu memang seperti itu.
Setelah kupikir-pikir ini adalah kali kedua keluarga kami makan bersama di dalam satu meja, papaku juga terlihat sangat menikmati makanannya, dan disela-sela makan dia juga saling melempar candaan dengan sahabatnya itu.
Aku bahagia melihat papa seperti ini, ya meskipun aku harus menghadapi drama-drama pernikahan yang awkard ini, mas Bram hanya senyum-senyum saja ketika mendengar papa saling bercanda.
Mungkin hal kecil seperti ini juga yang harus aku syukuri sekarang, sedikit demi sedikit aku sudah mulai terbiasa dengan hubungan antara dua keluarga ini.
Selesai makan aku langsung membereskan piring-piring di meja, meskipun mama mertuaku melarang karena ada mbak yang akan membereskan, tapi bagaimana lagi sebenarnya aku takut mama mertuaku menganggpku malas meskipun mungkin kenyataannya tidak seperti itu.
Setelah aku selesai membereskan semuanya, aku langsung naik ke kamar untuk bersiap-siap dan membawa pakaian ganti yang aku bawa kemarin, baru beberapa saat di kamar tiba-tiba mas Bram menyusul.
"Eh kamu Mas"
"Iya sha, lagi beresin pakaian kamu ya"
"Iya"
"Dalam seminggu ini kamu pasti pusing ya harus kesana kemari"
"Tuh tau, tapi gak apalah cuma seminggu ini kan, jarak rumah kita kan gak jauh-jauh banget juga"
"Syukur deh kalo gitu, nanti dua bulan gak ketemu aku gimana sha?"
"Gimana apanya?" Aku cuek menjawab
"Ya nanti kamu pasti bakalan kangen aku dong sha"
__ADS_1
"Alah kamu ini kepedean banget, udah ah aku mau turun, kamu juga cepet siap-siap nya"
"Oke Shanum"