
Beberapa saat setelah makan selesai, kini waktunya kami pergi untuk mengantar mas Bram, aku dan mama Maya duduk dibelakang, sedangkan mas Bram dan papa Tyo duduk di depan.
Ditengah perjalanan mama mertuaku bertanya akan apa yang akan aku lakukan selama dua bulan kedepan ini.
"Sha, kamu mulai kerja lagi kapan sayang?"
"Besok shanum udah mulai kerja ma"
"Kata Bram kamu mau tinggal dirumah kamu ya?"
"Iya ma, selama mas Bram gak ada aku tinggal dirumahku dulu"
"Kenapa gak di rumah kami aja sayang, kan nanti mama jadi ada temen ngobrol kalo malem"
"Shanum kan harus bawa-bawa barang Shanum nanti ma, kapan-kapan kalo aku lagi libur kerja aku pasti ke rumah mama kok"
"Yaudah kalo itu mau kamu, tapi janji ya harus main ke rumah Mama"
"Iya ma"
"Duh yang punya menantu baru perhatian amat ya Bram" kata papa
"Ah si papa ini mama kan udah anggep Shanum kayak anak mama sendiri"
"Alhamdulillah kalo gitu ma, Bram seneng dengernya"
Dan entah kenapa, rasanya sekarang aku agak berat buat ditinggalin mas Bram selama dua bulan kedepan, bukannya justru aku harus senang karena aku jadi punya banyak waktu untuk sendiri, jadi punya banyak waktu untuk mencerna dengan apa yang telah terjadi belakangan ini.
Setelah sekitar satu jam setengah mengendara, akhirnya kamipun tiba, tampak banyak keluarga dari teman-teman mas Bram juga sedang mengantar kepergian anggota keluarga mereka yang akan bertugas.
Sebenarnya hal ini juga tidak asing bagiku, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa harus ada rasa yang berat untuk kepergian mas Bram ini, apakah jangan-jangan aku sudah mulai ada rasa?
"Ah tidak, kenapa rasanya rumit sekali, apa sih cinta itu?" Aku menggeleng-geleng kepalaku karena bersamaan dengan perkataanku di dalam hati tadi.
"Kenapa sha?" Mama bertanya
"Enggak kok ma, gak papa"
"Ah kamu ini ada-ada aja sha"
Mas Bram pun berpamitan dengan kami semua, pertma kepada papa Tyo, mama Maya, mama dan papaku dan Sekarang dia tepat di hadapanku, dan sialnya aku merasa deg-degan, Dan terlihat seperti orang kebingungan.
"Sha"
"I,, ii, iya Mas"
"Aku berangkat ya, jaga diri baik-baik"
"Ka,kkamu juga"
Dan sialnya kenapa aku jadi gugup juga.
"Selalu kabarin aku, tunggu aku ya sha"
"Iya"
Mas Bram langsung memelukku di hadapan orang tua kami dengan erat, dan rasa Maluku semakin menjadi-jadi, akupun menaikan tanganku dengan agak ragu, dan merangkul punggung Mas Bram.
"Aku sayang sama kamu sha"
Dia membisikkan kata-kata itu di samping telinga sebelah kiriku
"Udah mas malu diliatin banyak orang" kataku pelan
__ADS_1
Diapun melepaskan pelukannya, dan tersenyum kepadaku, senyumannya nampak sangat tulus, aku yang melihat senyumannya itu hanya bengong menatap wajah tampannya itu.
"Kasian banget ya Shanum, baru sama-sama satu Minggu udah ditinggalin" celoteh mama mertuaku
"Cuma dia bulan kok mbak, kamu tahan kan sha nahan kangen dua bulan?" Aku yang sudah malu bertambah malu lagi karena perkataan papaku itu
"Ah papa apaan si" kataku sambil tertunduk dan pipi yang mulai memanas
"Yaudah jaga diri baik-baik ya Bram, kita semu pulang dulu" kata papa Tyo
"Iya pa, kalian semua juga ya"
Kami semua melambaikan tangan kepada mas Bram, akupun langsung naik ke mobil papa, karena rencananya aku akan langsung pulang kerumah. Ditengah perjalanan mama memulai pembicaraan.
"Diem aja sha? Masa baru ditinggalin udah kangen"
"Apaansi mama, ya sasa pengen diem aja"
"Yaudah iya ya pah?" Mama meledek
"Jangan digangguin ma anaknya" sambil tertawa
"Mama jadi inget, dulu waktu papa kamu ada tugas kayak gini kamu juga sering ikut nganter sama mama, kamu dulu hampir gak pernah nangis kalo papa tinggal, tapi setiap hari pasti kamu nanyain papa udah pulang apa belum"
"Shanum ini emang udah pinter nyembunyiin perasaannya dari kecil ma"
"Emang bener pagi"
"Shanum ini gengsian ya Ma?"
"Papa sama Mama ngomongin orang, orangnya ada di belakang"
Mereka berdua malah tertawa meledek.
"Suka-suka aja Ma"
"Yaudah semog kamu nanti betah tinggal disan, urus rumah yang bener juga sha"
"Iya" aku sudah mulai malas menjawab
"Jangan lupa Juga sering-sering ke rumah mama"
"Iya"
"Ah kamu ini iya, iya aja dari tadi"
"Iya" aku sibuk mengatur jadwalku kembali, karena besok sudah mulai bekerja.
"Udah Ma jangan digangguin anaknya" kata Papa
"Dasar anak Papa yang satu ini"
Tak terasa kami pun sudah sampai dirumah, aku buru-buru masuk dan naik ke kamar dan merebahkan badanku, Karena seharian ini rasanya melelahkan sekali, ternyata memasak bersama mama mertua menyenangkan tapi agak sedikit tegang juga.
Aku membuka layar handphone, tapi tidak ada satupun pesan dari mas Bram.
*Apa aku sudah mulai tidak waras?
Dia baru saja pergi
Apa yang sedang kupikirkan saat ini*?
aku terus berpikir dengan keadaanku yang sambil rebahan tersebut.
__ADS_1
mungkinkah aku terlalu berlebihan dalam menanggapi hubungan ini?
orang lain, teman-temanku mereka terlihat biasa saja ketika bersama pria, ah dasar Lo emang norak sha.
aku terus berbicara di dalam hati sambil menepuk jidatku agak keras.
ah seandainya aku tau bakalan kaku kayak gini sama cowok, dan seandainya sekarang gue belum kawin, gue bakalan Gonta ganti pacar kayak si Nisa, gue gak bakalan cuek sama cowok, kan seenggaknya gue punya pengalaman nanti kalo udah nikah.
sadar dengan ucapanku itu, aku langsung terkejut dan bangun.
astaga sejak kapan pikiran gue mulai kayak gini?
aku memang sesekali membaca novel-novel romantis, tentang kisah percintaan yang rumit, yang awalnya benci jadi saling cinta, tapi di kehidupan nyata, sebenarnya lebih ke situasi hatinya yang rumit.
pikiranku mulai memikirkan kenapa dulu tidak berani membuka hati kepada pria, kenapa dulu aku gak ngasih kesempatan sama Arga.
eh tapi enggak laki-laki lancang kayak dia juga pikirku.
aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan langsung berdiri.
aku benar-benar akan gila
aku langsung pergi ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat dan menyalakan lilin, aku berendam di bathtub dan pikiranku terasa makin damai bahkan aku sampai ketiduran.
tiba-tiba aku terbangun ketika mendengar telponku berbunyi, ternyata yang memanggilku adalah sepupuku Riri.
"halo Ri ada apa?"
"sha Lo udah balik ke rumah lagi sekarang?"
"iya, emangnya kenapa Ri?"
"gue mau minta temenin Lo pergi ke mall sha, gue lagi pengen beli baju sama pengen makan-makan yang banyak"
"wih banyak duit Lo, tlaktir gua kan?" berbicara dengan nada meledek
"iya, tlaktir makan aja tapi"
"oke deh, eh ada apa nih Lo mau ngabis-ngabisin duit kayak gini"
"pokoknya gue sekarang lagi seneng dan gue mau seneng-seneng sha"
"yaudah terserah Lo deh, guamah ngikut aja"
"sebenarnya kalo boleh jujur kalo Lo udah nikah tuh gak seru tau, dulu mah kita bisa pergi kapan aja kita mau"
"yaudah udah terlanjur"
"eh sha, gue gak maksud ngomporin Lo ya, gue juga ngerti kok posisi orang yang udah nikah kayak gimana"
"ya harus ngerti lah, kan elo juga bakal nikah Ri"
"tapi jangan dijodohin kayak elo juga ya" tertawa terkekeh
"ah elo ngeledek aja"
"eh gak papa deh asal calon suaminya ganteng kayak mas Bram"
"Ri, suaraku agak mengeras
"udah ah Ri, nanti keburu malem lagi, gue bentar lagi udah siap nih, cepetan Lo jemput gue ya gue juga udah laper hehehe"
"yaudah, gue juga mau siap-siap, bye"
__ADS_1
"oke, bye"