
Hari ini adalah hari Jum'at, di bawah Mama sudah sibuk kesana kemari karena rencananya sore nanti kedua orangtua dan juga mertuaku akan pergi ke Semarang, Minggu lalu mereka mendapat undangan dari sahabat karibnya, kata papa pesta pernikahan anak sahabatnya ini akan diadakan sangat mewah karena ia merupakan anak satu-satunya. Beda dari pernikahanku yang persiapannya seadanya, lebih tepatnya mendadak.
Dan besok, besok adalah hari kepulangan Mas Bram, iya, Mas Bram besok akan pulang, meskipun hanya aku dan Raffi sepupu Mas Bram yang hanya bisa menjemput ke Bandara, tapi ada baiknya juga si, aku bisa memeluk dia dengan lama dan erat tanpa ada orang tua yang selalu memojokkan kami ketika bersama. Walaupun terkadang rencana untuk memeluk dia ketika baru pulang seperti di film-film rasanya akan memalukan. Semalam aku menelpon Nisa, dia bilang bahwa aku harus membuang gengsiku besok, "kamu cium saja suamimu duluan sha" kata terakhir yang diucapkan Nisa ditelpon.
Kemarin aku juga sudah memindahkan barang-barang yang belum sempat aku pindahkan kerumah baru, huh rasanya campur aduk, senang tapi masih ada sedikit rasa gengsi juga jika aku harus memperlihatkan sikap yang menunjukkan sesuatu, meskipun Nisa sudah mewanti-wanti untuk membuang gengsi, tapi sepertinya setiap perempuan punya rasa gengsi yang tinggi untuk mengungkapkan perasaannya duluan.
"Kenapa sekarang satu hari terasa lama sekali?"
"Aku tidak pernah membayangkan akan ada orang yang aku tunggu kedatangannya selain Papa dulu"
"Jadi bagaimana? Apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta dengannya?"
"Bahkan aku hampir tidak percaya, sekali lagi, apakah benar aku sudah jatuh cinta padanya"
"Stop bodoh! Berhentilah bertanya tentang perasaanmu ini, membingungkan saja, cinta itu tidak bisa dilihat, stop maksa diri Lo sendiri untuk mendapatkan jawaban cinta atau tidak!"
Aku memarahi diri sendiri, sejak SMA aku memang senang berbicara sendiri di depan kaca, dan ini yang aku lakukan sekarang.
"Jangan terburu-buru, biar mengalir begitu saja" sambil pelan-pelan menarik nafas.
Setelah keberangkatan Mama papa, aku akhirnya pergi ke depan untuk membeli mie ayam favorit keluarga kami itu, sekalian beli jus mangga juga.
"Dari mulai sekarang sampai besok pagi, ini adalah me time ku, besok dan selanjutnya kan aku harus tinggal sekamar dengan dia, mungkin akan sedikit sulit untuk mempunyai waktu sendiri"
__ADS_1
"Hebat ya, bahkan gue yang selalu bilang gak akan semudah itu untuk menikah tiba-tiba gue jadi istri orang aja"
"Ini semua rencana Tuhan sha, berdo'a agar kamu mendapat kebahagiaan saja dan dalam bentuk apa saja dalam hal ini"
Aku mensaihati diriku sendiri.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, aku memasang alarm dengan sangat keras karena takut kesiangan, Semalam Mas Bram bilang dia akan tiba sekitar pukul dua siang, sebelum berangkat aku sempat membuat ayam ungkep dan sambel terasi resep Mama yang rasanya sudah tidak diragukan lagi, pukul sembilan aku sudah rapi, memakai baju terbaik yang aku punya mungkin.
Tak selang berapa lama Raffi menelpon, dia bilang dia sudah ada di depan rumah, akupun buru-buru turun ke bawah, benar saja dia sudah menunggu, akupun langsung pamit ke bibi dan menitipkan rumah.
"Hai kak, bawa apaan si itu?"
"Hai de, bawa ayam ungkep biar nanti tinggal goreng pas nyampe rumah, mampir dulu ya ke rumah baru ya, mau simpan ini di kulkas"
"Prepare banget nih yang mau ketemu suami, yaudah kita berangkat!"
Dijalan kami meneruskan perbincangan kami, ternyata sepupu suamiku ini adalah Ade tingkatkan ketika kuliah. Ketika aku semester tujuh dia ternyata adalah maba di kampusku.
"Gimana de kuliahnya sekarang?"
"Lancar kak, aku udah tau kakak dari sejak lama si"
"Beneran? Sejak kapan?"
__ADS_1
"Sejak tulisan kakak yang vital itu"
"Tulisan yang waktu demi para mahasiswa itu de?"
"Iya, tulisan kakak keren banget, aku juga suka baca blog kakak"
"Wah Thankyou loh, jadi ceritanya kamu penggemar tulisanku dong"
"Haha, iya, bukan cuma aku doang si kak, Mas Bram juga"
"Mas Bram?" Aku agak terkejut ketika Raffi mengatakan nama itu.
"Iya, jadi ceritanya aku kan suka sama tulisan-tulisan kakak, terus aku kasi liat tulisan kakak yang pas demo para mahasiswa itu ke dia, sejak itu dia juga suka baca blog kakak, bahkan dia ngikutin sosmed kakak, katanya dia suka sama cewek yang berpikiran kritis kayak kakak"
"What, bahkan aku gak tau loh de kalo dia ngefollow kakak di sosmed, gak merhatiin juga kakak"
"Lah kok bisa, orang-orang mah suka pada kepoin sosmed pasangannya tuh"
"Soalnya kakak lagi gak terlalu merhatiin sosmed sih, cuma WhatsApp aja, sejak mau menikah sama dia, soalnya menghindari pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan sama orang, lagi fokus nyelesein project nulis juga, biasanya sosmed ngeganggu banget dek"
"Gitu ya kalo penulis, tapi masih nulis di blog kan? Soalnya aku baca, aku baca juga tulisan kakak yang ngebahas soal"
"Soal apa?"
__ADS_1
"Semua blog kakak udah aku baca, termasuk mas Bram, dia juga udah baca"
Aku terdiam sejenak, apa mungkin ternyata alasan dia mau-mau saja dijodohkan denganku karena awalnya tetarik dengan tulisan-tulisan ku.