
Lusa, setelah aku memindahkan barang-barangku kini waktunya aku kerumah mas Bram, kami berangkat sejak pagi, sesampainya dirumah mas Bram aku menyalami kedua mertuaku, dan sedikit berbincang.
Rumah mas Bram sangat besar dan mewah ternyata, akupun mengikuti mas Bram untuk masuk ke kamarnya, akupun melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang spesial dari kamarnya, layaknya kamar laki-laki pada umumnya mungkin.
"Kamar kamu simple banget mas konsepnya?"
"Gak tau sha aku gak urusin interior di kamar aku, aku gak suka terlalu banyak barang-barang yang kurang berguna juga di kamarku"
"Barang-barang kamu juga keliatannya sedikit, kayaknya bisa langsung sekali bawa dong, gak usah bolak-balik"
"Iya sha, jadi nanti kalo aku udah pulang tugas kita langsung menetap aja dirumah itu"
"Yaudah kalo gitu, kita mulai beresin dan masukin barang-barangnya"
"Sekalian aku packing buat lusa juga"
"Yaudah aku juga bantuin packing, biar tau apa aja yang harus dibawa kalo mau tugas"
Mas Bram hanya tersenyum mendengar perkataan ku.
Lah kenapa dia tersenyum seperti itu?
Apa ad yang janggal dari perkataanku tadi?
Aku mengingat kata-kata ku barusan
Ah, sepertinya dia merasa kalau aku mulai perhatian padanya?
Eh apa iya?
Atau malah mungkin aku yang berlebihan?
Atau mungkin dia hanya tersenyum biasa?
Aku membombardir pertanyaan-pertanyaan terhadap diriku sendiri.
"Emang kamu gak pernah bantuin packing papa kamu sha?"
"Enggak, kan ada Mama"
Ketika aku sedang membereskan barang-barang mas Bram pandangan ku tiba-tiba tertuju kepada beberapa foto uang dipajang di dinding.
Terlihat dari jauh sepertinya itu adalah foto-foto masa mudanya mas Bram, akupun menghampiri dinding yang dipajang beberapa foto tersebut.
"Mas ini foto-foto kamu waktu SMA ya?"
"Iya sha, udah ganteng sejak dulu kan?"
"Ganteng gak yah?, Eh kok gak ada foto kamu pas lagi sama prajurit TNI lainnya?"
"Oh, fotonya aku simpan, belum sempat dikasih pigura sha"
"Lagian cowok mana mungkin mau melakukan hal-hal seperti itu ya"
__ADS_1
"Ah enggak juga"
"Terus kenapa belum dipasang?"
"Nanti aku pasangnya dirumah baru kita, sekalian aku mau pasang foto pernikahan kita berdua, fotonya harus paling besar pokoknya"
"Beneran?"
"Ya iya sha masa bohong"
"Foto pernikahan pas aku liat-liat disana aku senyumnya kayak enggak ikhlas tau keliatan banget"
"Ah masa? Enggak kok, emang kemaren kamu pas pemotretan senyumnya gak ikhlas beneran ya?"
"Sedikit"
"Tapi aku bakalan tetep pasang fotonya, kan ada foto yang ekspresi wajahnya kayak yang so serius-serius gitu Lo sha, kamu udah liat kan?"
"Yaudah terserah deh aku ngalah"
"Makasi sha" sambil tersenyum so manis di depanku.
"Ah uda ah, aku mau istirahat dulu"
Akupun duduk karpet yang terletak di depan tempat tidurnya mas Bram.
"Mas emang sejak dulu cita-cita kamu emang mau jadi TNI ya?"
"Keliatannya? Justru aku malah khawatir banget sama papaku, soalnya dulu-dulu papa pernah beberapa kali kecelakaan saat bertugas, lumayan bikin panik si, bahkan aku pernah berpikir tidak mau punya suami yang profesinya sama kaya papa, udah cukup Papa aja yang bikin aku khawatir terus"
"Doa'in aja sha aku selalu sehat dan selamat, itu artinya kamu juga khawatir dong sha dengan pekerjaan aku ini?"
"Ya iyalah, kenapa si seumur hidup aku harus mencemaskan orang-orang yang aku sayang karena tugas beratnya ini"
Aku langsung menutup mulutku, karena sepertinya ada yang janggal dalam ucapan ku tadi 'mencemaskan orang-orang yang aku sayang' astaga sialan bagaimana ini.
"Sha semua pekerjaan itu ada resikonya, kamu yakin aja sama aku, aku pasti baik-baik aja, makasi juga Lo aku udah kamu anggep salahsatu orang yang kamu sayang"
"Bukan itu maksudnya tau"
"Terus apa?"
"Ah sudahlah, aku mau mandi dulu, besok aja kita anterin barang-barang kamu ini aku udah lelah mas"
"Yaudah iya, cepetan gih mandi sana!"
"Ini juga mau mandi"
"Jutek amat si neng"
"Neng neng apaan si, aku gak suka dipanggil kayak gitu ya"
Mas Bram malah tertawa cekikikan
__ADS_1
Akupun langsung bergegas ke kamar mandi, selesai mandi aku keluar dengan hanya menggunakan handuk mandi saja karena aku lupa membawa pakaian gantiku ke kamar mandi, dan ternyata nampaknya mas Bram tidak keliatan ada dikamar, ketika aku hendak memakai baju aku dikejutkan dengan suara mas Bram yang menyebut namaku sambil memasang tangan kiriku.
Yang lebih mengagetkan lagi tangan kanannya mulai memeluk pinggangku, akupun refleks langsung mengibaskan tanganku dan berbalik badan.
"Kok kamu ada disini? Terus barusan ngapain?" Aku berbicara agak tegas, entah apa yang sedang kulamunkan barusan sehingga membuat aku tegang dan seperti orang yang ketakutan seperti ini.
Dan sepertinya mas Bram tersinggung dengan ucapanku yang nadanya seperti itu.
"Sampai kapan sha? Sampai kapan kita kayak gini terus? Bukannya kamu juga sudah sadar sekarang bahwa aku ini suami kamu, kamu punya kewajiban terhadapku, tadi kamu bilang kamu sayang sama aku" berbicara dengan nada yang tinggi
Deg, Huh aku kaget karena mas Bram bisa semarah ini kepadaku, akupun tidak bisa mengontrol emosiku saat ini, sama halnya dengan mas Bram aku juga berbicara dengan nada yang cukup tinggi.
"Aku juga gak tau sampai kapan mas, aku mohon sama kamu tolong ngertiin aku dulu untuk sekarang ini, semua ini masih terasa begitu cepat bagiku"
"Tapi kenyataannya sekarang? Kita udah suami istri sha"
"Aku ngerti maksud kamu, tapi aku masih bingung mas, sebenarnya perasaan apa yang aku miliki sekarang ini, aku juga masih takut mas, aku takut jika aku sudah terlanjut jatuh cinta sama kamu nanti aku terluka karena aku yang belum mengenal kamu lebih dalam"
Mas Bram terdiam sejenak, menarik nafasnya lalu mengusap wajahnya.
"Maaf sha, aku udah marah sama kamu, gak semestinya aku kayak tadi, aku juga udah pernah janji kalo aku bakal nunggu kamu sha, maafin aku aku mohon"
"Aku juga minta maaf mas, sikap aku tadi udah bikin kamu tersinggung, maafin aku belum bisa jadi istri yang sepenuhnya"
"Gak papa sha aku ngerti cuma tadi aku lagi gak bisa ngontol diri aku aja"
"Iya gak papa mas aku juga punya kesalahan dalam hal ini"
"Yaudah cepetan gih pake baju, aku mau mandi, nanti malem kita nonton bola bareng ya"
"Boleh"
Mungkin ini yang orang-orang bilang jika ingin menjalin suatu hubungan dua individunya harus mempunyai pikiran dewasa, agar tidak egois satu sama lain nantinya.
"Terus kenapa belum dipasang?"
"Nanti aku pasangnya dirumah baru kita, sekalian aku mau pasang foto pernikahan kita berdua, fotonya harus paling besar pokoknya"
"Beneran?"
"Ya iya sha masa bohong"
"Foto pernikahan pas aku liat-liat disana aku senyumnya kayak enggak ikhlas tau keliatan banget"
"Ah masa? Enggak kok, emang kemaren kamu pas pemotretan senyumnya gak ikhlas beneran ya?"
"Sedikit"
"Tapi aku bakalan tetep pasang fotonya, kan ada foto yang ekspresi wajahnya kayak yang so serius-serius gitu Lo sha, kamu udah liat kan?"
"Yaudah terserah deh aku ngalah"
"Makasi sha" sambil tersenyum so manis di depanku.
__ADS_1