
Terhitung sudah satu bulan lebih dua Minggu mas Bram pergi, itu berarti tersisa dua Minggu lagi waktu dia untuk kembali.
Tapi entah kenapa rasanya hati ini benar-benar berat menahan jarak antara aku dan mas Bram saat ini, rasanya detik ini juga aku ingin segera bertemu dengannya.
Ditambah setelah kejadian itu aku intens berkomunikasi dengan mas Bram, bahkan kemarin aku pernah berbicara ditelpon dengannya Samapi waktu berpuluh-puluh menit, obrolannya mengalir begitu saja.
Setelah aku melihat waktu berapa lama aku berbicara dengannya aku sendiri juga merasa sangat kaget, seumur hidup rasanya aku tidak pernah menelpon orang selama itu.
Astaga apa ini tandanya?
Apa aku sudah mulai jatuh cinta?
Bagaimana bisa?
Rasa ini juga berbeda sekali ketika dulu aku berhubungan dengan pacar pertamaku.
"Ah, jelas beda Shanum" sambil ku pukul pelan kepalaku
Bagaimana jika benar aku sudah jatuh cinta kepada mas Bram?
Apa aku harus mengakuinya?
Apakah akan jadi hal yang memalukan jika aku mengakui perasaanku?
Aaaa, bagaimana ini?
Saat ini aku sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyenderkan pundak di bantal, aku membolak-balik hp ku, aku kadang senyum-senyum sendiri tapi kadang aku juga seperti cacing yang kepanasan karena setiap aku sadar bahwa aku sedang memikirkan mas Bram aku merasa malu dengan diri aku sendiri.
__ADS_1
Hari ini aku sudah menelepon mas Bram dua kali, entah kenapa aku yang biasanya tahan menjaga gengsi sekarang malah rindu gak berhenti, seseorang selalu berlalu lalang di ilusi, ah terkadang rasanya bahagia terkadang juga terasa aneh dan rumit.
Akupun membuka kembali pesan-pesan yang sempat dikirimkan mas Bram, ada satu foto yang ia sempat kirimkan, difoto dia terlihat sangat gagah dengan memekai baju seragam, tersenyum lebar dengan latar belakang tanah yang gersang.
Kamu keren banget tau
Cepetan pulang kenapa, tega banget ninggalin aku
Pokoknya pas kamu pulang nanti aku bakalan jadi orang pertama yang peluk kamu, aku bakal meluk kamu sekencang mungkin.
Dua Minggu itu lama tau
"Astaga, apa yang kupikirkan barusan, sebentar, apakah aku memang benar-benar sudah jatuh cinta sama mas Bram?" Aku berbicara sendiri.
Ya, mas Bram berhasil membuat aku susah tertidur kembali, memang hal yang berkaitan tentang dialah yang sering membuat aku susah tertidur akhir-akhir ini.
Tunggu, bagaimana jika aku mengakui perasaanku nanti dia malah mengejekku
Ahhh, cinta emang bikin gila
Bunyi telpon tiba-tiba mengagetkanku, baru m mendengar nada telpon saja sudah senang, namun kesenangan ku berubah tiba-tiba ketika mengetahui bahwa yang menelpon bukanlah mas Bram, melainkan sahabatku Nisa.
"Hallo Nis ada apa?" Aku berbicara dengan nada yang malas
"Ih kok gitu si temennya nelpon?"
'to the point aja Nis, ada apa Lo nelpon gue malem-malem kayak gini"
__ADS_1
"Yaudah oke, jadi gini sha, ada cowok uang deketin gue nih, terus dia ngajak serius gitu buat ngejalin hubungan, gue terima gak ya sha?"
"Loh kok malah nanya gue, gue kan gak tau tu cowok siapa, kayak gimana orangnya, elu yang kenal, elu uang tau, elu yang ditembak pula, salah siapa gak ngasih tau kalo Lo lagi Deket lagi sama cowok"
"Santai dong sha, elo kan biasanya gak peduli kalo gue Deket sama cowok"
"Orang Lo cowoknya gonta-ganti Mulu"
"Terus gue harus gimana Shasha?"
"Ya ampun, gini deh, gimana perasaan Lo sama cowok yang sekarang lagi Deket sama Lo? Menurut yang Lo liat sejauh ini gimana?"
"Ya, menurut gue si dia baik sha, tapi karena kejadian kemaren gue jadi ragu gitu"
"Lah apalagi gue, gue lebih bingung Nisa, lagian Lo kenapa jadi lembek kayak gini si sama masalah cowok, biasanya juga bodo amat"
"Yaudah, besok di kantor gue cerita sedetail-detailnya ya, sorry ganggu"
"Oke Nis, gue dengerin kok, saran gue si jangan terburu-buru mengambil keputusan"
"Thanks ya sha, gue mau mandi dulu bye"
"Eh buset lu jam segini belum mandi?"
"Gak mood sha"
"Astaga, Nis"
__ADS_1
"Hehehe udah ya, bye"
Pembicaraan dengan Nisa adalah pembicaraan terakhirku hari ini, setelah beberapa menit akhirnya akupun mulai tertidur.