Takut Kawin

Takut Kawin
bagian 24 (Calon pacar)


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur, tepat seminggu lagi mas Bram juga akan pulang, rencananya nanti siang aku akan menemani Nisa bertemu dengan calon pacarnya itu, dia terus memaksa untuk ditemani, katanya aku harus ikut menilai laki-laki yang sedang dekat dengannya kali ini, sorenya aku dan Nisa juga sudah ada janji untuk bertemu Ana,kata Nisa semacam girls time gitulah.


Ketika aku turun ke bawah nampak Mama sedang memasak untuk sarapan.


"Eh kakak baru turun" biasanya kalo ada Razade papa sama Mama kadang memanggilku kakak.


Papa tiba-tiba berceloteh "udah punya suami kok bangunnya masih telat, Mama kamu malah udah dari tadi tuh masak"


"Suaminya juga gak ada, lagian Papa ribet banget si, aku dari tadi udah bangun tau cuma nelpon dulu aja sama Nisa sama Ana"


"Alah alesan kamu mah sha"


"Si papa pagi-pagi udah cek-cok sama anak-anaknya aja " sambung Razade


"Biarin ah, Papa seneng berantem kecil sama kalian"


"Kayak gak ada hobi lain aja ya zade?" Kataku, saat ini aku dan razade sedang bersatu untuk meledek Papa.


"Eh ko malah makin panjang, cepetan bantuin Mama masak sini kak!"


"Emangnya bibi kemana si ma?"


"Lagi ke pasar, bahan makanan udah mau abis soalnya"


"Yaudah aku bantuin deh"


Setelah sarapan agendaku hari ini adalah bersih-bersih dan beresin rumah, aku juga sempat memasukan sisa pakaian, karena seminggu lagi aku harus tinggal dirumah yang baru.


"Sudah cukuplah, kayaknya gak ada yang perlu dibawa lagi,sisa barang mas Bram juga udah disana, ya tuhan seminggu lagi aku akan meninggalkan kamarku ini, dan seminggu lagi pula aku akan tinggal bersama dia" aku berbicara sendiri sambil bertolak pinggang dan nafas yang berat karena penat setelah melakukan pekerjaan rumah.


Tibalah saatnya aku pergi bersama Nisa, Nisa menjemputku ke rumah, hari ini dia berdandan sangat totalitas sepertinya.


"Wih gaya banget nih yang mau ngedate, nanti gue jadi nyamuk dong"

__ADS_1


"Apaan si Sha, pokoknya nanti Lo harus liat dia secara jeli, dari mulai gerak geriknya dan segala macem"


"Oh jadi ini alesannya Lo ngajak gue, biasanya juga asal sikat aja"


"Ih kan elo tau kejadian kemaren Sha, gue udah gak mau main-main lagi dalam berhubungan"


"Apa jangan-jangan Lo udah mau kawin ya?"


"Enggak juga, gue cuma pengen ngenal laki-laki yang akan menikah sama gue dengan waktu yang cukup lama Sha, gue gak mau gagal, gue juga gak mau kayak Lo"


"Eh gue kan gak gagal dalam pernikahan gue, enak aja"


"Ya maksud gue, gue gak pengen nikah sama orang yang belum gue kenal kayak lo, masalah gagal apa enggak ya amit-amit lah Sha, gue mau temen gue langgeng"


"Kalo aja gue gak dijodohin Nis, kayaknya gue masih gak bakalan kepikiran buat nikah deh"


"Udah Sha, udah terlanjur"


"Iya si"


"Cinta maksud Lo?"


"Ya iya, gimana Sha?" Nisa Terlihat penasaran


"Kayaknya iya, kayaknya enggak juga, tau ah bingung, tapi kayak aneh gitu sih hati gue sekarang"


"Cieee, ngaku aja Napa sih, gengsi banget, tinggal bilang gue udah jatuh cinta Nis sama mas Bram, susah amat"


"Apaan si, orang gue juga masih bingung sama hati gue, kadang-kadang gue kayak cacing kepanasan kalo udah kangen sama dia"


"What, Lo bilang apa? Kangen? Gak salah lagi Lo udah mulai jatuh cinta sha sama dia"


"Emang iya?"

__ADS_1


"Ih dasar Lo, katro banget masalah percintaan, udah pas suami Lo pulang ngaku aja kalo Lo hati Lo udah mulai terbuka buat dia"


"Malu gue Nis, lagian dia juga belum pernah bilang terang-terangan kalo dia cinta sama gue"


"Terus dia bilang kayak apa dong"


"Aku siap Nerima kamu, aku bakalan nunggu kamu, kayak gitu si"


"Ih katro banget si, itu tandanya dia cinta sama Lo kampret"


"Ah tapi gue agak gengsi kalo harus bilang duluan"


"Gak berubah ya, masa harus gue yang bilang sama suami lo"


"Iya si, gak ada salahnya juga"


"Tuh tau"


Sesampainya di tempat yang sudah dijanjikan, ternyata calon pacarnya si Nisa sudah berada disana, kesan pertama yang aku tangkap dari dia adalah tepat waktu, dia menyalami kami dengan ramah dan sopan,dia juga lumayan tampan, dia mempersilahkan kami duduk dengan ramah, dan kesan kedua yang aku dapatkan dia terlihat sangat menghargai perempuan.


Kami banyak berbicara disana, satu jam setelah mengobrol akhirnya laki-laki itu pamit pulang, dan Nisa langsung heboh menanyakan pendapatku.


"Gimana menurut Lo sha?"


"Menurut penglihatan gue yang baru pertama kali ketemu si dia baik, sopan, gak neko-neko, nyambung juga di ajak ngobrol, tapi gak tau ya aslinya"


"Tuh kan"


"Biasanya Lo suka sama cowok yang stylish dan banyak gaya kan?"


"Itu kan dulu Shanum"


"Yaudah selebihnya terserah Lo deh, keputusan di tangan Lo"

__ADS_1


"Iya thanks udah nemenin, gue udah ada sedikit pencerahan tentang dia"


"Sama-sama Nis, semoga dia tepat buat lo"


__ADS_2