
Suara alarm berbunyi sangat kencang, aku yang memasang alarmnya sendiri, tapi aku pula yang sangat benci dengan suara alarm tersebut, seperti biasanya ketika aku bangun aku langsung mengecek handphone.
Tidak ada satupun pesan dari mas Bram, "apakah pesan dari mas Bram jadi hal paling berharga dalam hidupku sekarang?" Aku berbicara sendiri.
Rasanya memang menjengkelkan ketika aku terus menerus menunggu pesan dari dia, entah kenapa rasa penasaran akan pesan dari Mas Bram itu tiba-tiba datang.
Ketika aku turun dari ranjang tiba-tiba hp-ku berbunyi, segera langsung ku bawa hp yang ada di atas kasur tersebut, tapi bibirku berubah menjadi manyun ketika melihat bahwa yang menelpon ternyata adalah Nisa.
"Hallo Nis, ada apa pagi-pagi gini udah nelpon"
"Sha, sha," terdengar sangat bersemangat
"Iya ada apa"
"Gue hari ini udah mulai kerja di kantor tempat Lo kerja"
"Seriusan hari ini?"
"Yaiyalah masa gue bohong"
Dua Minggu yang lalu Nisa memang melamar kerja di kantor tempatku bekerja, tapi entah kapan dia interview, tapi yang pasti mulai hari ini aku akan sekantor dengan orang yang banyak ngomong dan heboh kayak dia.
"Wah selamat kalo gitu Nis, sekantor dong gue sam Lo, ketemu deh tiap hari kita"
"Emang kenapa kalo kita ketemu tiap hari? Seneng ya? Lo gak punya temen kan disana?"
"Enak aja, justru gue males tiap hari ketemu sama lo yang kerjaannya nyerocos aja"
"Ah elu banyak ngeles"
"Udah dulu Nis gue mau mandi, sampe ketemu dikantor, terus nanti traktir gue pas makan siang"
"Gampang sha masalah begituan mah, yaudah gue juga mau mandi, bye"
"Bye"
Selesai mandi akupun bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sekejap akupun mengingat apa yang telah kualami belakangan ini, dari mulai aku yang takut menikah tapi akhirnya dia sekarang sudah sah menjadi suamiku.
Tapi setelah semua drama itu terjadi sekarang aku sendiri lagi, Shanum yang bangun pagi hanya mengurus diri sendiri dan pergi ke kantor.
Hari ini aku pergi ke kantor dengan memesan ojek online, setibanya di kantor ternyata si Nisa sudah menungguku di depan kantor, dia terlihat sangat heboh ketika melihatku datang.
"Sha, sha, cepetan jalannya"
"Cie yang hari ini mulai kerja, pagi bener berangkatnya"
"Ah pokoknya gue seneng bisa kerja disiani, apalagi ada sahabat gue, jadi gue gak kaku-kaku amat gitu"
"Gak ada ceritanya si elo kaku, gue pastiin deh Lo seminghu kerja disini pasti udah banyak yang kenal"
"Tapi kan elo beda sha, orang kita kenalnya udah lama"
"Yaudah iya, gue jadi ada temen cerita yang agak personal kali ada Lo"
__ADS_1
"Eh iya gue baru inget, suami Lo kemarin berangkat kan?"
"Heem"
"Gimana sha kangen gak?"
"Baru juga kemaren"
"Ah boong kan lu"
"Apaansi yu ah masuk, udah berangkat pagi-pagi banget nanati malah telat Lo"
"Oke deh, tapi nanati cerita ya please"
"Cerita apaan si Nis, gak ada yang menarik juga"
"Pokoknya harus cerita sama gue, gue kepo sama keadaan hati Lo sekarang" dia tertawa kencang.
"Nis, baru juga ketemu udah bikin kesel lu ya" sambil kupukul bahunya.
"Masih aja jaim Lo sha"
Pekerjaanku hati ini tidak terlalu banyak, seperti biasanya aku sangat menikmati waktu-waktu yang aku pakai untuk bekerja ini, dan sekarang waktunya jam makan siang, Nisa yang sudah berjanji akan mentelaktir makan siang sudah menghampiri meja ku.
"Sha ayo gue udah laper"
"Oh iya Nis gue juga udah laper, gimana kerjaannya?"
"Aman-aman aja gue mah"
Nisapun hanya tertawa kencang.
Ditengah jalan ketika aku pergi ke kantin tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari hp-ku, dan ternyata itu mas Bram
"Sha, gimana kabarnya? Maaf aku baru ngabarin kamu" Begitu isi pesannya
Aku tersenyum kegirangan
"Kenapa sha? Mas Bram ya? Katanya gak kangen?"
"Sotoy lu Nis"
"Serah deh cepetan jalannya gue laper"
Setelah duduk di kursi kantin akhirnya akupun membalas pesan dari Mas Bram.
"Aku baik, kamu gimana kabarnya?"
Tak selang berapa lama dipun membalas
"Aku juga baik, kamu dikantor sha?"
"Iya aku dikantor mau makan siang"
__ADS_1
"Yaudah kalo gitu, jangan telat makan ya sha"
Ketika akan membalas pesan tersebut tiba-tiba rasa gengsiku muncul, "ah cukup jangan terlalu alay seperti ini sha, janagan buat dia terlalu ge-er juga" aku menceramahi diri sendiri.
"Iya, udah ya aku mau makan" dan itulah balasan pesanku.
"Oh yaudah sha, lain kali kamu yang kabarin aku duluan dong sha"
"Iya kapan-kapan"
"Huh dasar gengsian" tiba-tiba serasa ada yang membisiki di pinggir telingaku.
siang ini aku memesan bakso, hidupku belakangan ini sering dapat tlaktiran ternyata, Nisa memesan dua porsi makanan saking laparnya.
"Lo belum makan Nis? makanan Lo banyak banget"
"gue gak sempet sarapan sha, takut telat"
"wah semangat banget ya kerjanya"
"iyalah gue mau buktiin sama mantan gue kalo gue bisa punya segalanya tanpa bantuan dia"
"hah elo putus Nis?"
"iya sha, lebih parahnya dia ngata-ngatain gue kalo gue gak bisa sukses tanpa dia, kesel banget kan?"
"kok Lo gak cerita? pantesan aja Lo gigih banget dalam bekerja ternyata ini maksudnya"
"gimana gue mau cerita, kemarin-kemarin elo bilang kan sibuk"
"iya si, emang Nis cowok kayak gitu gak usah dipertahankan, brengsek emang"
"sumpah sha, gue kesel banget padahal Lo tau sendiri kan sha, gini-gini juga kan gue bukan cewek matre" napasnya ngos-ngosan.
aku tertawa kecil melihat tingkah laku Nisa, dia marah-marah seperti ini terlihat sangat lucu didepanku.
"tapi gue gak ngeliat Lo lagi galu belakangan ini Nis?"
"eh sorry gue gak galu ya Sha, anti galau gua mah, kenapa juga gue harus pikirin cowok brengsek kayak dia"
"temen gue yang satu ini emang beda ya, kadang-kadang gue harus belajar dari Lo untuk bersikap santai kayak gini"
"iya lah, gue tau elo, ikan diluar terlihat santai tapi pikiran Lo cemas kemana-mana"
"haha tuh Lo tau"
"Lo emang pandai nyembunyiin perasaan Lo sha"
tak terasa perbincangan kami ini ternyata sudah menghabiskan banyak waktu, aku dan Nisa pun kembali keruangan dan melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
sekali-kali aku tersenyum ketika sedang bekerja karena mengingat cerita si Nisa tadi, rasanya sekarang ingin sekali menjadi orang yang seperti dia, hidupnya selalu terlihat bahagia dan tidak pusing memikirkan masalah yang terjadi.
hari ini aku pulang lebih sore dari biasanya, ketika pulang dijalan aku berhenti sejenak untuk mebelikan martabak kesukaan papa dan mama, martabak cokelat kismis jadi favorit mereka.
__ADS_1
aku juga membelikan Razade minuman yang sedang trend sekarang-sekarang ini, anak-anak jaman sekarang suka sekali dengan minuman seperti ini, padahal tidak baik untuk kesehatan.